Oleh: Syahril Syam *)
Dalam fisika kuantum, partikel seperti elektron, foton, neutron, dan proton tidak hanya berperilaku seperti partikel “klasik”. Konsep partikel ini jauh berbeda dari pemahaman sehari-hari kita. Partikel-partikel kuantum memiliki sifat-sifat yang unik dan aneh yang tidak dimiliki oleh objek-objek di dunia makroskopik (dunia yang kita alami sehari-hari). Partikel-partikel kuantum, seperti elektron, tidak selalu berperilaku seperti “butiran” kecil, tetapi juga dapat berperilaku seperti gelombang. Ini berarti partikel tersebut memiliki sifat gelombang, seperti bisa berada di lebih dari satu tempat sekaligus atau menyebar seperti cahaya. Kondisi ini disebut sebagai dualitas gelombang-partikel.
Bayangkan kalau partikel kecil, seperti elektron atau cahaya (foton), tidak selalu berperilaku seperti bola kecil yang solid, tetapi juga berperilaku seperti gelombang, mirip dengan gelombang di air yang menyebar saat kita menjatuhkan batu ke kolam. Namun, perbedaannya adalah gelombang ini bukan gelombang fisik yang bisa kita lihat. Ini lebih seperti “gelombang kemungkinan” atau gelombang probabilitas. Artinya, kita tidak tahu dengan pasti di mana partikel itu berada pada suatu waktu, tapi kita bisa memprediksi kemungkinan tempat di mana partikel itu bisa ditemukan. Jadi, partikel itu tidak selalu ada di satu tempat saja, tetapi menyebar seperti gelombang sampai kita mencoba “mengukurnya” atau melihatnya, dan barulah kita tahu di mana dia berada.
Analogi sederhana adalah jika kita memejamkan mata dan melempar dadu, maka kita tidak tahu angka berapa yang akan muncul, tetapi kita tahu kemungkinan masing-masing angka muncul. Dalam fisika kuantum, partikel “menyebar” dalam berbagai kemungkinan posisi, seperti dadu yang belum dilihat angkanya, sampai kita mengukurnya. Sebelum pengukuran, partikel seperti elektron atau foton tidak memiliki lokasi pasti. Ia berada dalam “superposisi”. Artinya, ia bisa berada di banyak tempat sekaligus, dan kita hanya bisa menggambarkan keberadaannya dalam bentuk kemungkinan-kemungkinan melalui fungsi gelombang.
Saat kita melakukan pengukuran atau observasi, fungsi gelombang ini “runtuh”. Ini berarti bahwa dari semua kemungkinan posisi atau keadaan yang bisa dimiliki partikel, hanya satu yang benar-benar “terwujud” saat diukur. Sebelum diukur, partikel berada dalam banyak kemungkinan, tetapi begitu diukur, ia hanya berada di satu tempat atau dalam satu keadaan tertentu. Runtuhnya gelombang ini terjadi seketika, dan setelah runtuh, partikel berhenti menyebar dalam kemungkinan-kemungkinan dan menjadi “realitas” yang pasti. Jadi, “runtuhnya gelombang” adalah transisi dari kemungkinan-kemungkinan (superposisi) menjadi realitas tunggal yang kita amati setelah pengukuran.
Dalam fisika kuantum, ketika kita berbicara tentang “pengamat” yang menyebabkan runtuhnya fungsi gelombang, kita sebenarnya berbicara tentang alat ukur fisik atau interaksi tertentu, bukan kesadaran manusia. Walau belum ada ada bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa kesadaran manusia dapat memengaruhi dunia makroskopik (dunia yang kita alami sehari-hari), namun fakta menunjukkan bahwa partikel adalah objek dasar yang membentuk segala sesuatu di alam semesta. Dan saat manusia melakukan pengukuran, kesadaran dirinya pun yang melakukan observasi tersebut.
Dengan kata lain, ketika pengamatan dilakukan, partikel ini “memilih” satu keadaan atau posisi tertentu, seolah-olah kesadaran pengamat yang menyebabkan runtuhnya berbagai kemungkinan menjadi kenyataan tunggal. Bahkan Eugene Wigner, fisikawan yang memenangkan Hadiah Nobel Fisika pada tahun 1963, berpendapat bahwa kesadaran manusia bisa menjadi agen utama yang menyebabkan runtuhnya fungsi gelombang. Dengan kata lain, dalam pandangan ini, realitas objektif tidak eksis secara penuh tanpa adanya kesadaran yang mengamatinya.
Aristoteles mendefinisikan kesadaran sebagai fungsi jiwa, yang memungkinkan manusia berpikir, merasakan, dan memahami dunia melalui proses intelektual dan kognitif. Jika definisi ini dikembangkan dalam konteks realitas sebagaimana realitas, maka kesadaran bukan hanya aktivitas mental, tetapi juga merupakan bagian integral dari realitas itu sendiri. Kesadaran terkait erat dengan eksistensi dan pergerakan jiwa menuju kesempurnaan. Karena realitas terdiri dari berbagai tingkatan keberadaan, maka kesadaran ada di setiap tingkatan tersebut, mulai level materi hingga non materi.
Itulah sebabnya, kesadaran kita bisa memengaruhi realitas, sebagaimana hadirnya sebuah partikel sebagai akibat dari runtuhnya gelombang. Dalam bahasa yang sederhana, kesadaran kita menentukan bagaimana model kehidupan kita. Jika seseorang seringkali bad mood, maka dunia yang dihadapinya adalah dunia yang penuh derita; sedangkan jika kita senantiasa bersyukur dan bersabar, maka dunia yang kita jalani adalah dunia yang indah.
@pakarpemberdayaandiri











