Oleh: Syahril Syam *)
Lalai adalah keadaan dimana seseorang kurang memperhatikan, tidak fokus, atau abai terhadap sesuatu yang seharusnya diperhatikan. Orang yang lalai biasanya tidak menyadari apa yang sedang terjadi di sekitarnya atau mengabaikan tugas dan tanggung jawab. Lalai bisa disebabkan oleh kelengahan, ketidakpedulian, atau kurangnya kesadaran. Dalam kehidupan sehari-hari, keadaan lalai seringkali membawa dampak negatif, seperti ketidaktertiban atau kegagalan memenuhi tanggung jawab, sedangkan sadar membawa pada tindakan yang lebih bijak, terarah, dan penuh tanggung jawab.
Lalai biasa juga disebut Mind-Wandering (pikiran yang mengembara), yang merupakan kondisi mental dimana pikiran berpindah dari fokus utama ke hal-hal yang tidak relevan, sering tanpa disadari. Misalnya, ketika sedang berbicara dengan seseorang, tiba-tiba memikirkan hal lain dan kehilangan fokus pada percakapan itu. Penelitian yang dilakukan oleh Malia F. Mason dan koleganya menemukan bahwa ketika seseorang lalai, Default Mode Network (DMN), sebuah jaringan di otak yang aktif saat beristirahat atau tidak melakukan tugas yang menuntut perhatian, menjadi dominan. Mereka juga menemukan bahwa Mind-Wandering sering terjadi tanpa disadari oleh individu. Banyak peserta dalam penelitian mereka tidak menyadari bahwa pikiran mereka telah melayang sampai diminta untuk menyadari atau mengamati proses itu.
Ada juga penelitian yang dilakukan oleh Matthew Killingsworth dan Daniel Gilbert. Hasil studi mereka menunjukkan bahwa pada saat tertentu, rata-rata orang mengalami Mind-Wandering sekitar 47% dari waktu mereka terjaga. Ini berarti bahwa hampir setengah dari waktunya, orang tidak sepenuhnya fokus pada aktivitas yang sedang mereka lakukan. Pikiran mengembara terjadi selama berbagai aktivitas, bahkan saat sedang melakukan tugas yang menyenangkan. Mind-Wandering atau lalai memengaruhi berbagai aspek kinerja kognitif, terutama kemampuan untuk memproses informasi dan memusatkan perhatian. Penelitian juga menunjukkan bahwa Mind-Wandering dapat menurunkan performa akademik dan produktivitas.
Juga ditemukan bahwa orang yang sering lalai cenderung merasa lebih tidak bahagia. Hal ini karena mereka tidak hadir penuh dalam aktivitas yang mereka lakukan, yang bisa menyebabkan rasa tidak puas. Ketika lalai, ia tidak sepenuhnya hadir dalam momen saat ini. Pikirannya akan mengembara ke masa lalu (memikirkan hal-hal yang sudah terjadi) atau ke masa depan (membayangkan hal-hal yang belum terjadi). Ini menyebabkan seseorang cenderung memikirkan hal-hal negatif atau tidak relevan, seperti kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi di masa depan atau penyesalan atas kesalahan masa lalu.
Penelitian menunjukkan bahwa ketika pikiran seseorang melayang ke hal-hal yang tidak terkait dengan momen sekarang, itu seringkali memicu perasaan cemas. Karena memikirkan skenario yang belum terjadi, seperti apa yang bisa salah dalam pekerjaan, hubungan, atau kehidupan. Pikiran ini bisa memicu kecemasan, karena seseorang tidak fokus pada apa yang bisa ia lakukan sekarang, melainkan khawatir tentang kemungkinan yang belum tentu terjadi. Tidak fokus pada momen saat ini bisa membuat seseorang merasa tidak terkendali atau kehilangan arah, yang pada gilirannya dapat memicu rasa cemas.
Lawan dari “lalai” adalah “sadar”. Dalam tasawuf, kelalaian adalah sebab seluruh hijab (tirai yang memisahkan manusia dari kedekatan atau penyadaran diri/merasakan kehadiran akan Sang Maha Sempurna). Jika kelalaian dan kelupaan menjadi sebab seluruh hijab-hijab kegelapan maka mengingat (sadar) Sang Maha Sempurna merupakan sebab dan pangkal tersingkapnya seluruh tirai hijab-hijab kegelapan. Itulah sebabnya, stasiun pertama dalam melangkah menuju kedekatan kepada Sang Maha Sempurna adalah yaqazah yang artinya bangun (sadar). Dalam hal ini, kita bangun dari tidur kematerian dan menyadari kelalaian diri.
Melanjutkan pemaparan hasil studi Killingsworth dan Gilbert, ditemukan bahwa kita lebih bahagia ketika kita sadar dan terlibat penuh dalam aktivitas daripada ketika pikiran mengembara. Karena orang cenderung merasa kurang bahagia ketika pikiran mereka mengembara, terlepas dari aktivitas yang sedang mereka lakukan. Bahkan ketika pikiran mereka mengembara ke hal-hal yang menyenangkan atau netral, mereka tetap merasa kurang bahagia dibandingkan saat mereka fokus sepenuhnya pada apa yang sedang mereka lakukan. Dengan kata lain, kehadiran penuh dalam aktivitas saat ini berhubungan langsung dengan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi. Pikiran yang tidak fokus, bahkan jika melayang ke hal yang positif, tetap menyebabkan penurunan kebahagiaan. Maka sungguh benar bahwa “hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram (QS 13:28)”.
@pakarpemberdayaandiri











