Sebenarnya Bukan Karena Malas

Foto ilustrasi

Oleh: Syahril Syam *)

Otak kita punya semacam “pusat kecewa” kecil yang tersembunyi, namanya habenula. Tempat ini bekerja seperti alarm yang berbunyi setiap kali kita merasa gagal, kecewa, atau tidak mendapatkan hasil seperti yang diharapkan. Ketika seseorang terlalu fokus pada target yang kaku dan hasil yang terukur, seperti harus dapat nilai A, harus selesai tepat waktu, harus posting setiap hari, dan sebagainya – habenula ini bisa menjadi terlalu aktif. Hasilnya? Seseorang jadi lebih mudah stres, kehilangan semangat, dan sering merasa kurang, walaupun sudah berusaha.

Pernahkah di antara kita melihat seseorang merasa sangat kecewa karena gagal mencapai target yang sudah ia tetapkan? Di perkuliahan ia sudah berusaha keras belajar untuk ujian, tapi ternyata nilai masih belum sesuai harapan. Atau di organisasi, ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan tugas, tapi masih ada kekurangan yang membuat ia merasa gagal. Nah, saat itu terjadi, habenulanya – yang bisa dibilang sebagai pusat kekecewaan di otak – mulai aktif. Dia akan memberi sinyal yang bisa membuat seseorang merasa frustasi, stres, bahkan kehilangan motivasi untuk melanjutkan.

Ketika seseorang merasa kecewa karena sudah belajar keras, tapi nilai ujian yang keluar jauh dari yang diharapkan, maka habenula mulai bekerja, memberi sinyal bahwa ia gagal dan tidak cukup baik. Rasa kecewa itu bisa memengaruhi semangat belajar ke depannya.

Begitu pula di organisasi, ketika seseorang merasa timnya tidak seefektif yang diinginkan atau ada proyek yang tertunda, ia bisa merasa bertanggung jawab atas kegagalan itu, yang akhirnya memengaruhi motivasi dan kepuasan kerjanya. Begitu juga, ketika seseorang menghadapi tumpukan tugas yang terasa sangat banyak, otaknya seringkali dipenuhi oleh kecemasan dan rasa kewalahan. Bahkan sebelum ia mulai mengerjakannya, ia sudah merasa stres dan merasa seperti ia tidak akan mampu menyelesaikannya. Itu karena dirinya terlalu fokus pada hasil akhir atau beban besar yang ada di depan, bukan pada langkah-langkah kecil yang bisa ia ambil untuk menyelesaikan tugas satu per satu.

Habenulanya bisa sangat aktif dalam situasi seperti itu. Setiap kali seseorang berpikir tentang betapa banyaknya yang harus dilakukan, habenula mulai memberikan sinyal negatif, yang meningkatkan kecemasan dan rasa tidak mampu. Itu menyebabkan ia merasa terjebak dalam lingkaran stres yang tak kunjung habis, dan malah membuat dirinya semakin sulit untuk memulai. Rasa takut gagal dan ketakutan akan tidak cukup baik sangat memengaruhi motivasi dirinya untuk bertindak.

Sebenarnya, yang terjadi adalah otak seseorang menjadi terlalu fokus pada banyaknya tugas yang harus diselesaikan, hingga akhirnya menimbulkan stres dan kecemasan. Jadi, itu bukan karena malas, melainkan karena merasa kewalahan dan takut tidak bisa menyelesaikannya, bahkan sebelum mulai mengerjakannya. Ini sering disebut paralisis karena kecemasan, dimana seseorang terjebak dalam rasa khawatir yang membuatnya sulit untuk bergerak maju.

Semakin seseorang berpikir tentang seberapa banyak tugas yang menunggu, semakin berat pula beban mental yang dirasakannya. Otaknya akan lebih sering memberikan sinyal negatif, terutama dari bagian yang disebut habenula, yang membuatnya merasa tidak mampu atau tidak cukup baik. Alih-alih mulai bekerja, ia malah terjebak dalam siklus stres yang justru menghambat langkahnya. Jadi, ini bukan masalah kemalasan, tapi lebih karena cara seseorang merespons tekanan dan rasa tidak pasti yang datang dengan banyaknya tugas yang harus dikerjakan.

Di sinilah Iterative Mindset Method™ (IMM™) bisa membantu. IMM™ membantu kita untuk keluar dari pola pikir yang mengarah pada stres dan kekhawatiran, dan lebih fokus pada progres kecil dan tindakan yang bisa kita kendalikan.

Dengan begitu, kita bisa mengurangi tekanan dari tugas-tugas menumpuk, dan mengubahnya menjadi rangkaian tugas yang lebih mudah dikelola dan lebih sedikit menekan habenula kita. IMM™ dirancang khusus untuk melindungi kita dari jebakan kegagalan yang sering dipicu oleh habenula. IMM™ dirancang untuk bekerja dengan cara otak merespons tantangan dan perubahan. IMM™ mengakomodasi cara otak kita merespons pengalaman, baik itu kegagalan, kesuksesan, atau pembelajaran.

Dengan fokus pada penilaian yang realistis, penyesuaian bertahap, dan latihan berkelanjutan, IMM™ mengurangi kecemasan yang bisa menghambat kemajuan dan meningkatkan motivasi untuk bertindak secara konsisten.

Iterative Mindset Method™ adalah pendekatan berbasis ilmu saraf yang dirancang untuk membantu individu membangun kebiasaan sehat yang berkelanjutan. IMM™ dikembangkan oleh Dr. Kyra Bobinet, seorang ahli dalam bidang perubahan perilaku dan pendiri perusahaan kesehatan digital Fresh Tri. Tiga Langkah dalam IMM™. Pertama, Assessment (Menilai Diri Secara Reflektif, Bukan Menghakimi). Ini bukan soal mencari kesalahan, tapi seperti ngobrol santai dengan diri sendiri: “Hari ini, aku ngelakuin hal kecil yang bikin aku bangga nggak, ya?”; “Bagian mana yang terasa sulit? Kenapa?”; “Apa yang bisa aku ubah biar lebih cocok dengan diriku?”; Kuncinya: dilakukan setiap hari, meskipun cuma satu menit. Misalnya saat menyikat gigi malam hari, kamu bisa diam sejenak dan mengecek: Apakah kebiasaan sehatmu hari ini berjalan lancar? Apa yang terasa mengganggu? Tujuannya: agar kamu selalu sadar dan tidak berjalan autopilot. Refleksi ini membantu otak merasa “aman”, sehingga bagian otak yang bertugas merespons kegagalan (habenula) tidak langsung menyala dan menguras semangatmu.

Kedua, Iteration (Penyesuaian Kecil dan Cerdas, Bukan Perubahan Drastis). Setelah refleksi, kamu menyesuaikan strategi berdasarkan apa yang kamu pelajari. Misalnya: Kamu ingin jalan kaki pagi, tapi ternyata terlalu capek karena tidur larut malam. Iterasinya: Ubah ke sore hari atau cukup 5 menit dulu. Kamu gagal makan sehat karena pulang telat. Iterasinya: Simpan camilan sehat di tas sebagai cadangan. “Iterate” artinya kamu tidak menyerah, tapi kamu mengubah cara, bukan tujuan. Kamu jadi lebih fleksibel, bukan kaku. Dan otakmu akan merasa lebih nyaman karena kamu tidak memaksakan diri atau menyalahkan diri sendiri.

Ketiga, Practice (Latihan yang Konsisten, Bukan Sempurna). Langkah ini adalah tentang mengulang kebiasaan kecil sampai jadi otomatis. Sama seperti otot, kebiasaan itu butuh dilatih. Semakin kamu melakukannya, semakin kuat jalurnya di otak. Contohnya: Kalau kamu mulai membiasakan diri untuk minum air putih saat bangun tidur, lama-lama kamu akan melakukannya tanpa harus mikir keras. Kalau kamu latihan tenang saat stres muncul, lama-lama otakmu belajar: “Oh, kita bisa atur ini”. IMM™ menyarankan kamu memilih latihan yang ringan, realistis, dan menyenangkan. Bukan yang bikin stres atau kamu paksakan demi cepat-cepat sukses.

Dengan pendekatan ini, kita tidak hanya terhindar dari beban mental akibat tekanan berlebih, tapi juga lebih tahan banting, lebih fleksibel, dan jauh lebih ramah terhadap diri sendiri. IMM™ bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang terus bergerak – dengan sadar, lembut, dan penuh harapan. Dan itulah yang membuat metode ini sangat cocok di dunia yang sering menuntut terlalu banyak dari kita. Dengan begitu, kita tidak terjebak dalam kekecewaan yang berlarut-larut, dan malah bisa tetap fokus pada progres kecil yang membangun keberhasilan jangka panjang.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *