Tidak Bahagia Karena Bias Imajinasi Masa Depan

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh Syahril Syam

Salah satu yang membuat seseorang menjadi tidak bahagia adalah karena seringkali mengalami bias imajinasi masa depan. Daniel Gilbert, psikolog dan profesor di Harvard University, menyebutnya sebagai presentism. Presentism adalah kecenderungan untuk memproyeksikan emosi atau keadaan saat ini ke dalam masa depan, yang seringkali menghasilkan prediksi yang tidak akurat tentang apa yang akan membuat seseorang bahagia atau tidak. Hal ini membuat seseorang sering “tersandung” ketika mencoba menciptakan kebahagiaan, karena ia mengandalkan asumsi yang tidak relevan atau tidak sesuai dengan kondisi masa depan yang sebenarnya.

Gilbert mempelajari bagaimana otak manusia memproses emosi, keputusan, dan persepsi tentang kebahagiaan, yang seringkali membentuk realitas yang tidak akurat. Saat kita membayangkan masa depan, otak kita berfungsi seperti proyektor, menggunakan emosi dan keadaan saat ini sebagai “lensa.” Jika kita sedang merasa bahagia atau optimis, kita cenderung membayangkan masa depan yang cerah dan penuh harapan.

Sebaliknya, jika kita sedang merasa stres atau cemas, kita cenderung membayangkan masa depan yang suram. Ini terjadi karena emosi saat ini memberikan pengaruh kuat pada cara kita melihat segala sesuatu, termasuk kemungkinan di masa depan. Maka jangan heran, saat seseorang lagi jatuh cinta, maka ia akan cenderung membayangkan masa depan kebersamaan hidup yang begitu indah. Namun saat lagi kecewa dan patah hati, proyeksi masa depan yang hadir adalah kesuraman hidup jika masih tetap bersama.

Itulah mengapa kita sering gagal memprediksi apa yang akan membuat kita bahagia, yang disebabkan oleh otak kita menciptakan “versi buatan” dari masa depan berdasarkan harapan dan emosi saat ini. Presentism membuat seseorang kurang mampu memprediksi emosi dan kondisinya di masa depan dengan tepat. Karena sering menganggap bahwa perasaan saat ini akan tetap sama atau sangat mirip di masa depan, hingga seringkali mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak akan membuat kita bahagia ketika kita benar-benar sampai di sana (di masa depan tersebut).

Banyak orang merasa bahwa uang atau jabatan tinggi akan membuat mereka bahagia secara permanen, tetapi setelah mereka mencapainya, efek positif tersebut seringkali memudar lebih cepat dari yang mereka kira. Ini dikenal sebagai “hedonic treadmill,” dimana kebahagiaan dari pencapaian besar hanya bersifat sementara, dan akan segera kembali ke tingkat kebahagiaan yang sama seperti sebelumnya.

Dengan kata lain, begitu banyak orang “tersandung” pada ilusi bahwa mereka tahu apa yang akan membuatnya bahagia di masa depan padahal seringkali mereka tidak benar-benar tahu. Saat seseorang membayangkan kebahagiaan di masa depan, ia cenderung melebihkan peran hal-hal eksternal seperti uang, pekerjaan, atau pasangan. Penelitian menunjukkan bahwa orang sering menganggap bahwa pencapaian eksternal tertentu akan membawa kebahagiaan yang lebih besar dari yang sebenarnya.

Mereka lupa bahwa emosinya sangat adaptif (mudah kembali ke perasaan semula sebelum memperoleh sesuatu, seperti kembali ke perasaan hambar kepada pasangan, sebelum jatuh cinta kepada pasangan), dan sering mengecilkan pengaruh jangka panjang dari hal-hal sederhana seperti kesehatan mental, hubungan, dan aktivitas sehari-hari yang mendatangkan kepuasan lebih mendalam.

Gilbert menyarankan untuk tidak terlalu mengandalkan emosi atau keadaan saat ini ketika membuat keputusan besar. Jika kita sedang sangat bersemangat setelah baru saja mendapatkan penghargaan di kantor, kita mungkin tergoda untuk langsung menerima tawaran pekerjaan baru karena merasa “tak terkalahkan” atau yakin bahwa kita bisa menghadapi tantangan apapun.

Namun, ada baiknya menunggu hingga emosi tersebut stabil sebelum membuat keputusan. Dengan begitu, kita dapat mengevaluasi tawaran pekerjaan tersebut secara lebih objektif, menilai risiko dan manfaatnya tanpa dipengaruhi oleh euforia sementara. Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw berkata, “Jangan membuat keputusan ketika sedang marah, dan jangan membuat janji ketika sedang bahagia”. Nasehat ini mencerminkan kebijaksanaan dalam menjaga keseimbangan emosi sebelum bertindak atau mengambil keputusan, agar hasilnya lebih objektif dan matang. Emosi yang sangat intens, baik itu kebahagiaan atau kemarahan, bisa mengaburkan penilaian kita dan menyebabkan tindakan yang berlebihan atau tidak rasional.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *