Tubuh Sebagai Jembatan Bawah Sadar

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh : Syahril Syam *)

Menurut kamus Merriam-Webster, somatisasi adalah konversi kondisi mental (seperti depresi atau kecemasan) menjadi gejala fisik, atau adanya keluhan fisik tanpa adanya kondisi medis yang diketahui. Masih menurut kamus tersebut, kata “somatisasi” pertama kali digunakan pada tahun 1925.

Di tahun 1925, konsep somatisasi masih dalam tahap awal pengembangan, tetapi sudah mulai muncul dalam pemikiran medis dan psikologis. Istilah “somatisasi” sendiri belum digunakan secara resmi, namun gagasan bahwa kondisi mental dapat memengaruhi kesehatan fisik sudah mendapatkan perhatian, terutama dalam konteks psikoanalisis dan psikiatri.

Sigmund Freud, seorang tokoh utama dalam psikoanalisis, adalah salah satu pionir yang menghubungkan pengalaman emosional dengan gejala fisik. Pada awal abad ke-20, Freud mengembangkan teori tentang konversi histeris, di mana konflik emosional yang tidak disadari diubah menjadi gejala fisik. Ini adalah salah satu bentuk awal pemikiran tentang somatisasi.

Dalam pengalaman penulis sebagai hipnoterapis, ada banyak kasus dimana klien mengalami gangguan fisik, namun tidak ditemukan penyebab medisnya. Ada yang mengalami sakit kepala yang sangat menyakitkan, muncul benjolan kecil di kepala dan tubuh, muncul ruam di kulit, bagian dada yang terasa sakit, nyeri pada leher dan punggung, kelumpuhan, kejang, dan berbagai macam gangguan fisik, namun setelah melalui pemeriksaan medis, tidak ditemukan satupun penyebab medisnya.

Tubuh kita sesungguhnya memiliki bentuk kecerdasan yang melampaui fungsi biologis dasar. Kecerdasan ini mencakup kemampuan tubuh untuk merespons, beradaptasi, dan mengatasi berbagai stres dan pengalaman emosional. Ini mencakup kesadaran tubuh, kemampuan untuk mengatur diri, dan mengatasi ketegangan atau trauma yang mungkin tidak selalu disadari secara kognitif.

Dengan kata lain, ada emosi yang tersimpan dalam pikiran bawah sadar sering kali diekspresikan melalui tubuh. Misalnya, stres atau kecemasan yang tidak disadari bisa bermanifestasi sebagai ketegangan otot, sakit kepala, atau gangguan pencernaan. Tubuh, dalam hal ini, bertindak sebagai jembatan antara pikiran bawah sadar dan kesadaran kita.

Inilah yang disebut sebagai somatisasi, yaitu proses di mana emosi yang tidak diungkapkan secara verbal atau mental, terwujud dalam bentuk gejala fisik. Pikiran bawah sadar memengaruhi tubuh untuk mengekspresikan emosi yang tidak diolah dengan baik. Penyimpanan emosi dalam tubuh berarti bahwa tubuh menyimpan jejak dari pengalaman emosional masa lalu. Ini terutama terlihat dalam situasi trauma, di mana tubuh bisa bereaksi terhadap pemicu yang mirip dengan pengalaman traumatis, meskipun pikiran sadar mungkin tidak mengingat kejadian tersebut secara detail. Tubuh “mengingat” trauma dan berusaha melindungi diri dengan cara tertentu, berupa ketegangan atau bahkan mengalami rasa sakit tanpa sebab yang jelas.

Seringkali secara sadar seseorang merasa baik-baik saja, namun sesungguhnya menyimpan banyak masalah dan stres pada level bawah sadar. Bawah sadarnya ingin menyampaikan bahwa ada masalah yang mesti diselesaikan, namun sinyal ini seringkali dibungkam oleh pikiran sadarnya, dengan tampil seolah baik-baik saja.

Semua perasaan destruktif berusaha dialihkan dengan berbagai kesenangan atau perhatian lain yang bersifat menghibur diri. Akhirnya, karena masalah yang terpendam di bawah sadar telah menumpuk terlalu banyak, maka tubuh akan digunakan oleh bawah sadar untuk menyampaikan akan adanya masalah melalui sakit fisik yang tidak memiliki sebab secara medis.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *