Turbulensi Iman

Catatan hikmah D. Supriyanto Jagad N *)

Alhamdulillah, tidak terasa kita telah menjalankan ibadah puasa hari ke 9. Keutamaan Puasa Hari Kesembilan Bulan Ramadan, ganjaran bagi orang yang berpuasa pada hari kesembilan Ramadan adalah Allah SWT akan memberikan hamba-Nya apa yang diberikan kepada seribu ulama, seribu orang yang i’tikaf, dan seribu orang yang menyambung tali persaudaraan.

Melalui puasa Ramadhan, semoga kita dimampukan untuk memperkuat konstruksi keimanan kita. Aamiin.

D. Supriyanto JN

Sambil menikmati tahu isi dan segelas teh manis hangat sebagai menu pembuka puasa, saya teringat pesan kutbah Jumat tentang guncangan iman seseorang ketika menghadapi problematika kehidupan. Menurut pemikiran saya yang sederhana, guncangan keimanan seseorang, bisa dikatakan sebagai turbulensi iman.

Ketika kita berhijrah dari suatu daerah menggunakan Pesawat udara, maka kita pasti pernah merasakan beberapa kali guncangan mulai dari take off, hingga landing nya pesawat tersebut. Adapun guncangan terjadi pada saat pesawat mengudara di atas ribuan kaki akibat bertabrakan dengan angin atau adanya gangguan alam dan juga teknis. Guncangan tersebut biasa di sebut dengan istilah Turbulensi.

Turbulensi yang kita rasakan saat menumpang pesawat di atas, sama halnya dengan yang kita rasakan dalam kehidupan sehari – hari. Turbulensi atau guncangan yang biasa kita temui adalah meliputi tantangan, ujian, cobaan dan berbagai problema lainnya. Kesemuanya adalah faktor yang dapat mengubah karakter seseorang entah menjadi sosok yang kuat ataupun lemah.

Seperti yang sudah di utarakan di atas bahwa guncangan hidup dapat berpengaruh terhadap karakter seseorang tergantung cara menghadapinya. Hal ini juga berbanding lurus dengan tingkat keyakinan kita terhadap masa depan sebagai hasil perjuangan di hari ini. Semakin besar keyakinan kita, maka semakin kuat pula kita bertahan. Begitupun sebaliknya. Keyakinan terhadap sesuatu yang tidak terlihat di masa depan, jauh lebih kuat pengaruhnya di banding yang terlihat sekarang karena kesungguhan untuk mencapai tujuan akan selalu maksimal tanpa menilai hasil yang sudah ada.

Di dalam agama, keyakinan akan adanya Tuhan di kenal sebagai Keimanan. Tuhan biasanya merupakan solusi bagi seseorang yang terjebak dalam lingkar masalahnya sehari hari. Meskipun tak mampu melihat Tuhan secara langsung, ia percaya bahwa Tuhan selalu melihat dan menguatkannya setiap saat. Hal tersebut bukan berarti ia hanya mengingat Tuhan dalam kesusahannya saja, namun ia percaya hanya Tuhanlah yang selalu mendampinginya suka maupun duka.

Dalam Islam, Allah SWT adalah tempat berserah diri bagi ummat Islam yang meskipun tak dapat menyaksikannya namun dapat merasakan keberadaanya. Mengutip perkataan salah satu cendikiawan muslim bahwa ” kekuatan ummat islam ada pada sesuatu yang tak terlihat ” merupakan argumen pembenaran atas usaha perlawanan terhadap keputusasaan menghadapi guncangan.

Menurut saya, jika ingin menjadi orang yang berjiwa besar maka ia harus memiliki Keimanan yang kuat serta keyakinan akan usahanya. Sedangkan untuk meningkatkan Keimanan serta keyakinan tersebut maka seseorang membutuhkan guncangan yang besar pula. Misalnya dalam Keimanan tingkat kekhusyukan (baca fokus) dalam berdzikir bisa dengaruhi oleh situasi dan kondisi yang genting. Seorang supir yang ugal-ugalan di jalan dan membahayakan keselamatan penumpang, akan memaksa mereka semua berdzikir penuh memohon pertolongan Allah. Berbanding terbalik dengan dzikir ala muballigh di mesjid yang penuh dengan ketenangan jiwa. Tentu bukan berarti di mesjid seseorang tidak akan meningkat keimanannya, namun bagi kalangan yang belum termasuk seorang ‘mukmin’ justru ketenangan jiwa dapat membuatnya merasa tidak terdesak melakukan dzikir secara sungguh – sungguh.

Maka bisa di simpulkan bahwa ketika kita ingin mencoba bertahan menghadapi derasnya arus permasalahan yang terus mengalir menghiasi hidup, maka kita harus yakin dan percaya bahwa Allah SWT akan selalu memberikan jalan keluar yang tidak terduga sebelumnya. Guncangan/Turbulensi adalah Pemicu juga Pemacu bagi kita orang – orang yang ingin menjadi Mulia dengan Keimanannya.

Karena kita harus yakin dan percaya bahwa menjadi orang besar harus melalui cobaan yang besar pula. Matur sembah nuwun.

*) D. Supriyanto Jagad N, pekerja budaya, penikmat kopi pahit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *