Konservasi Penting Untuk Kehidupan di Masa Depan

 

KINERJAEKSELEN.co, Manokwari – “Konservasi itu sangat penting untuk kehidupan berkelanjutan bagi makhluk hidup di masa depan dalam proses-proses ekologi biodiversitas Untuk itu hari ini bertempat di pantai Jeen Syuab Kawasan  Konservasi Taman Pesisir Jeen Womom Tambrauw dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa pencipta langit, bumi, alam semesta, saya melepaskan 100 ekor Tukik (anak-penyu) berjenis Penyu Belimbing Abun Kabupaten Tambrauw, dengan Iman, Pengharapan dan Kasih dengan kepercayaan yang sungguh Tuhan menjaga keluar masuk mu dari kekal hingga kekal. Beranak cuculah dan memenuhi negeriku semesta alam dan suatu saat kalian semua akan kembali ke tempat ini, pantai Jeen Syuab, Tuhan Memberkati kita,” Demikian tutur Doa yang  disampaikan oleh Markus Fatem Petugas Konservasi Penyu UNESCO Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) saat melepaskan 100 ekor tukik (anak penyu) di pantai Jeen Syuab Kawasan  Konservasi Taman Pesisir Jeen Womom Tambrauw Rabu 13 Juli 2022

Markus Fatem salah satu Aktivis KontraS Papua Barat ini dalam keterangan tertulisnya yang diterima media ini Kamis (14/07/2022) menjelaskan pokok-pokok kerja dalam konservasi perlu dilakukan saat ini dalam menjaga serta melestarikan hutan alam semesta termasuk hewan-hewan endemik asli Papua yang terancam punah pada 10 tahun terahir ini termasuk Penyu Belimbing Papua.

“Pokok kerja konservasi adalah perlindungan terhadap hutan alam dan hewan-hewan langka yang bersifat endemik salah satunya penyu belimbing Abun yang terancan punah. Nah semua ini terjadi akibat keserakahan manusia yang terus saja memburu dan membunuh penyu tanpa menghormati hak asasi manusia atas kehidupan makhluk hidup. Melihat data perkembangbiakan (Populasi) penyu jenis belimbing (Dermochelys coriacea) di Papua Barat tahun 2022/2023 jenis penyu kini terancam punah karena banyak populasi di dunia yang berkurang akibat aktivitas perburuan oleh manusia kurang lebih pada tahun 90-an hingga tahun 2010, maka oleh sebab itu penyu dan sarangnya perlu dilindungi agar populasi penyu bertumbuh. Penyu belimbing didaerah pesisir Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) di Papua Barat sebagai tempat bertelur terbesar ketiga di dunia setelah Amerika serikat dan India,” beber  Markus Fatem yang juga Pekerja Kemanusiaan Papua ini.

Markus Fatem yang juga anggota Pusat Studi Arkeologi Sejarah dan Ilmu Budaya pada Kantor KontraS  Papua Barat ini meminta kepada semua pihak di tanah papua termasuk masyarakat dan para nelayan laut agar tidak  sembarang membunuh penyu belimbing karena bertentangan dengan Undang-undang perlindungan satwa dan hewan endemik langka berdasarkan keputusan Pusat Studi dan Penelitian Fosil Hewan Langka Badan Arkeologi UNESCO Dunia Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Sedunia yang berada di Amerika serikat dan di Paris Perancis

“ Penyu belimbing sudah masuk daftar hewan langka berstatus endemik yang telah dilindungi oleh UNESCO. Salah satu bidang di Dewan PBB yang bertugas mencacat dan melindungi penyu. Sebab UNESCO memiliki lima program dan tugas yakni pendidikan, ilmu alam, ilmu sosial dan manusia, pendidikan, budaya, komunikasi dan informasi. Sehingga  masyarakat Papua Barat stop bunuh dan berburu penyu belimbing. Oleh karena itu, saat ini bersama teman-teman dari Mitra kerja sama seperti LPPM Universitas Papua, WWF Indonesia site Tambrauw sedang bekerja dalam proses perlindungan penyu belimbing Abun agar proses kehidupan terus berlanjut di negeri yang kaya Alam, Hutan dan Hewan-hewan endemik penyu belimbing dan burung cenderawasih,”jelas mantan ketua  senat Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional  Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih  Jayapura ini

Markus Fatem mengatakan penyu belimbing merupakan Megafauna dan Karismatik sepanjang hajat hidup hewan ini diakui sebagai pembawa kebaikan atas kelangsungan adat dan kebudayaan masyarakat adat setempat.

“Mengapa saya katakana demikian?  karena ini hewan endemik yang megafauna artinya hewan ini dapat bernafas dengan paru-paru dan mampu menyimpan oksigen untuk menyelam dikedalaman angka nol sampai seribu dua ratus meter dilaut, ini sangat luar biasa. Dan juga hewan karismatik karena hewan ini dipanggil untuk kembali ke pantai peneluran itu dilakukan dengan upacara adat atau (sasi) yang merupakan bagian dari sistem kepercayaan (Neomistikal)di dalam budaya masyarakat adat(indigenous people on tribal community)setempat dengan menghadirkan beberapa pemilik (marga) pantai tersebut. Nah hal-hal ini yang perlu dijaga dan dibudidayakan agar tetap ada dan terjaga secara baik agar sebuah kehidupan makhluk hidup ada ini merupakan amanah sang pencipta bumi alam semesta ini, sehingga UNESCO melalui Balai Kawasan Konservasi Taman Pesisir Jeen Womom Tambrauw terus melakukan pemantauan/monitoring perihal : Populasi Jenis Penyu Belimbing Abun Kabupaten Tambrauw,”ujar Markus Fatem diakhir rilisnya.

(jo/red)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *