Oleh: Syahril Syam
Kita tidak butuh argumentasi untuk membuktikan keberadaan diri kita. Juga tidak perlu cermin untuk mengetahui apakah kita ada ataukah tidak. Bahkan kita tidak perlu Rene Descartes dengan diktumnya yang terkenal “Cogito, Ergo Sum” (bahasa Latin berarti “Aku berpikir, maka aku ada”). Kita hanya butuh kesadaran bahwa kita menyadari keberadaan diri kita sendiri. Kesadaran bukan hanya aktivitas kognitif, tetapi juga sebuah realitas yang berhubungan dengan keberadaan diri kita sebagai manusia. Itulah sebabnya, wujud (eksistensi) dan kesadaran adalah dua aspek dari realitas yang sama. Kesadaran adalah manifestasi dari eksistensi. Artinya, semakin tinggi tingkat eksistensi diri kita, semakin mendalam pula tingkat kesadaran kita. Setiap manusia menyadari wujudnya sendiri pada berbagai tingkat, tergantung pada tingkat eksistensialnya.
Karena eksistensi itu sendiri bertingkat-tingkat, maka kesadaran diri kita pun bertingkat-tingkat. Kehidupan dan keberadaan (eksistensi) itu punya banyak level atau tingkatan, seperti anak tangga. Kesadaran kita tentang diri sendiri juga punya level-level yang berbeda, mengikuti tingkatan keberadaan tersebut. Misalnya, pada level dasar, kita mungkin hanya sadar tentang kebutuhan fisik seperti lapar atau lelah. Tapi di level yang lebih tinggi, kita bisa sadar tentang emosi, pikiran, atau bahkan makna hidup kita. Jadi, semakin tinggi tingkatan eksistensi yang kita capai, semakin dalam dan luas juga kesadaran kita tentang diri sendiri.
Itulah sebabnya, identitas diri kita bukanlah entitas yang statis melainkan sesuatu yang terus berkembang melalui transformasi kesadaran. Identitas ini dibentuk oleh kesadaran diri yang terus-menerus berubah seiring dengan perjalanan hidup dan perkembangan spiritual kita. Seperti yang telah disampaikan di atas, tahap awal kesadaran masih cenderung bersifat material. Kesadaran diri masih terkait erat dengan tubuh fisik dan fenomena duniawi. Pada tahap ini, seseorang lebih banyak terikat dengan dorongan dan keinginan material. Ia terdorong untuk mengejar tujuan dan pencapaian yang bersifat material, seperti pendidikan, karir, dan kekayaan. Kecenderungan ini sering kali mengarahkan pada identitas diri yang bergantung pada apa yang dimiliki atau dicapai seseorang. Ia mengidentifikasi dirinya dengan berbagai hal yang bersifat materi.
Karena ego adalah bagian dari diri yang berhubungan dengan kesadaran diri tentang bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri, maka ia lebih terfokus pada diri sendiri, pencapaian pribadi, dan bagaimana orang lain melihat dirinya. Sehingga ia cenderung berusaha memperkuat identitas dirinya yang bersifat materi dengan jabatan, harta, kekuasaan, prestasi,dan segala hal duniawi. Akhirnya ia terjebak dalam pikiran negatif, perbandingan sosial, dan merasa tidak cukup baik. Ini dapat memicu kecemasan, depresi, dan stres kronis yang berkepanjangan.
Ia mudah tersinggung ketika ada yang mengejek status sosialnya, ada atau tidak adanya uang, ada atau tidak adanya jabatan, dan berbagai hal duniawi, karena ia merasa bahwa dirinyalah yang disindir. Tidak ada perbedaan antara berbagai hal duniawi dan dirinya sendiri, karena itulah identitas dirinya. Karena ia ingin meningkatkan identitas dirinya, maka iapun akan berputar pada pengejaran semua hal duniawi yang dirasa bisa menaikkan level identitas dirinya. Ia tanpa sadar masuk dalam lingkaran stres kronis yang tanpa henti. Karena semua hal materi ketika tidak diperoleh bisa membuat cemas, dan ketika diperoleh juga bisa membuat cemas karena ketakutan akan kehilangan semua itu. Inilah identitas diri yang egois; kesadaran yang berada pada level yang paling rendah.
*@pakarpemberdayaandiri










