Oleh: Syahril Syam *)
Renungkan tubuh kita seperti seorang asisten yang setia, tapi terkadang agak terlalu semangat mengendalikan kemudi saat pikiran kita lengah. Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali tubuh kita “bicara” tanpa kata-kata – bukan lewat logika, tapi lewat rasa ingin, dorongan, atau craving (ketagihan/kelekatan). Misalnya, saat sedang iseng dan tanpa sadar tangan kita mulai menggulir layar ponsel, sebenarnya tubuh sedang mencari suntikan dopamin, yaitu zat kimia yang bikin kita merasa senang dan puas. Itu sebabnya kita betah scrolling berjam-jam, walau kadang tanpa tujuan jelas.
Coba juga bayangkan seseorang yang sedang diet ketat, tapi tiba-tiba melihat cokelat. Meskipun pikirannya bilang “jangan”, tubuh justru berbisik pelan, “Aku pengen yang manis, dong”. Bukan karena butuh nutrisi, tapi karena craving terhadap rasa enak dan perasaan senang sesaat.
Begitu juga dengan keinginan merokok – bukan sekadar kebiasaan, tapi tubuh yang sudah terbiasa dengan nikotin akan “memanggil-manggil”, minta dipenuhi lagi. Lucunya, craving ini tak selalu soal makanan atau zat tertentu. Saat teman-teman sedang asyik bergosip, kita kadang merasa terdorong untuk ikut. Ini bukan semata-mata soal ingin tahu, tapi tubuh menikmati sensasi emosi keterlibatan – merasa dekat, terhubung, atau bahkan sedikit ‘seru’ karena ada drama.
Hal yang sama terjadi ketika seseorang tiba-tiba pengen ngopi sore-sore. Mungkin bukan butuh kafein secara medis, tapi tubuh sudah terbiasa dengan ritme dan sensasi setelah menyesap kopi – ada rasa nyaman, semangat, dan pengulangan yang bikin tenang. Inilah mengapa tubuh disebut sebagai “pengendali sekunder”. Ia tidak selalu salah, tapi kalau dibiarkan memegang setir terus-menerus, kita bisa jalan tanpa arah. Karena itu, penting untuk menyadari kapan tubuh hanya sekadar meminta kenyamanan sesaat, dan kapan kita benar-benar membutuhkannya. Sebab tubuh bisa dibiasakan, tapi kendali tetap harus kembali pada kesadaran kita.
Dalam pandangan Filsafat Hikmah, tubuh dipahami sebagai pengendali sekunder dalam diri manusia. Artinya, tubuh memang memiliki peran penting dalam menjalankan berbagai aktivitas fisik dan interaksi dengan dunia, tetapi bukan dia yang menjadi pusat kesadaran, kehendak, atau penentu arah hidup.
Tubuh hanya berfungsi sebagai sarana – sebagai alat bantu yang digerakkan oleh sesuatu yang lebih dalam dan lebih tinggi, yaitu jiwa. Jiwa-lah yang memiliki kesadaran, kehendak, serta arah tujuan hidup, sementara tubuh sekadar menjalankan perintah dan menjadi media ekspresi dari apa yang diinginkan oleh jiwa.
Untuk memahami ini secara lebih sederhana, bayangkan tubuh seperti sebuah mobil. Mobil bisa bergerak, berbelok, bahkan melaju kencang. Tapi mobil tidak akan ke mana-mana tanpa pengemudi. Pengemudilah yang menentukan tujuan, arah, dan kapan mobil harus berhenti.
Namun, dalam kondisi tertentu, mobil juga bisa memberi “pengaruh balik” – misalnya ketika jalanan licin atau rem bermasalah, mobil bisa meluncur tanpa kendali. Di titik inilah tubuh kadang tampak seperti mengambil alih – seperti saat kita tiba-tiba ingin ngemil, bermain gadget terus-menerus, atau mengikuti kebiasaan lama yang otomatis muncul tanpa dipikir. Tapi semua itu tetap tidak menjadikan tubuh sebagai pengendali utama. Kendali sejati tetap berada pada jiwa yang sadar – dialah yang seharusnya memegang kemudi, menjaga arah, dan memastikan bahwa tubuh tidak berjalan tanpa tujuan.
Maksud dari kata “sekunder” di sini adalah bahwa tubuh memang berpengaruh dalam kehidupan kita, tapi bukan tubuh yang memegang kendali penuh atau menentukan keputusan akhir. Tubuh bisa memberikan sinyal atau “mengintervensi” keadaan kita, misalnya ketika tubuh merasa sangat lelah, maka muncul rasa malas yang kuat untuk melakukan ibadah seperti shalat. Namun, kalau jiwa atau kesadaran batin kita sudah kuat dan matang, kita tetap bisa bangun dan menjalankan ibadah itu meskipun tubuh terasa berat. Artinya, tubuh hanya memberi dorongan atau pengaruh, tapi keputusan terakhir tetap berada di tangan jiwa.
Contoh lain adalah rasa lapar atau dorongan seksual – keduanya adalah sinyal alami dari tubuh. Tubuh memberi tahu bahwa ia butuh asupan makanan atau ingin memenuhi kebutuhan biologisnya. Tetapi bagaimana kita merespons sinyal tersebut – apakah kita menahan diri, memenuhinya dengan cara yang benar dan sehat, atau bahkan mengalihkan perhatian – semuanya bergantung pada kemampuan jiwa kita untuk mengendalikan dan memilih tindakan yang tepat.
Jadi, tubuh bertindak sebagai pemberi informasi dan pengaruh, tapi jiwa yang memegang kendali penuh untuk menentukan langkah yang akan diambil. Inilah makna “sekunder” yang menunjukkan hubungan antara tubuh dan jiwa: tubuh memengaruhi, tapi tidak menentukan.
Saat kita berpuasa, tubuh memberikan sinyal kuat bahwa ia lapar, karena gula darah turun dan lambung terasa kosong. Ini adalah respons alami tubuh yang ingin mengisi kembali energi. Namun, jiwa yang sadar akan tujuan spiritual puasa memilih untuk menahan diri, menolak dorongan makan demi mencapai tujuan yang lebih tinggi, yaitu mendekatkan diri kepada Sang Maha Sempurna dan melatih kesabaran.
Begitu juga saat belajar, tubuh seringkali memberi sinyal rasa kantuk dan mata yang berat, tanda bahwa tubuh ingin beristirahat. Namun jiwa yang mengerti pentingnya belajar dapat memaksa diri untuk tetap fokus, mengalahkan rasa lelah demi pencapaian ilmu dan masa depan.
Ketika merasakan sakit fisik, tubuh secara otomatis memberikan rasa nyeri yang tak nyaman. Tapi jiwa yang kuat mampu menerima rasa sakit itu, bahkan menjadikannya sebagai alat perjuangan – misalnya, dengan menganggap sakit sebagai penghapus dosa atau ujian yang membawa kematangan spiritual. Tubuh memang bisa mengambil alih kendali secara sementara, terutama jika jiwa sedang lemah atau tidak sadar. Namun kendali itu tidak bersifat mutlak atau final.
Jiwa yang kuat dan sadar pada akhirnya akan mengarahkan dan mengendalikan tubuh sesuai kesadarannya sendiri. Inilah mengapa latihan spiritual serta penyucian jiwa sangat penting. Dengan latihan ini, jiwa semakin kuat dan tidak mudah dikendalikan oleh impuls-impuls tubuh yang bersifat sesaat. Tubuh tetap menjadi pengendali sekunder – ia bisa memimpin hanya jika jiwa membiarkannya, tetapi jiwa yang kuat akan selalu memegang kendali utama dalam kehidupan kita.
Polanya jelas, tubuh lebih dulu memberi reaksi otomatis – baik karena kebiasaan lama, dorongan biologis, atau emosi dasar seperti takut, marah, atau ingin nyaman. Tapi setelah itu, jiwa punya kesempatan untuk menyadari reaksi tersebut dan memilih: mau mengikuti atau mengendalikannya. Kalau jiwa cukup kuat dan sadar, ia bisa mengarahkan tubuh ke arah yang sesuai dengan nilai-nilai yang lebih tinggi. Tapi jika jiwa sedang lemah atau tidak hadir secara sadar, tubuh akan mengambil alih, dan biasanya keputusan yang muncul cenderung impulsif, sesaat, dan bisa membawa penyesalan di kemudian hari.
@pakarpemberdayaandiri




