Pengaruh Keyakinan dan Ekspektasi Terhadap Kesembuhan Diri

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam*)

Keyakinan dan ekspektasi (tingkat pengharapan) seseorang dalam memengaruhi dirinya sendiri (sebagai bentuk dari efek placebo) dapat kita telusuri pada tahun 1784, saat Raja Louis XVI diperingatkan akan adanya ancaman terhadap pemerintahan dan moral para pejabat. Ancaman yang dimaksud bukanlah suatu ancaman yang bersifat fisik karena ancaman itu tak kasat mata namun memiliki efek yang sangat dahsyat. Adalah Franz Anton Mesmer (1734 – 1815), seorang tabib, yang memiliki kekuatan yang tak kasat mata tersebut. Mesmer yang kelahiran Jerman ini memulai praktik penyembuhannya di Vienna, dan akhirnya pindah ke Paris pada tahun 1778.

Kemampuan Mesmer yang mumpuni membuat ia cepat terkenal di Paris, sehingga kliniknya banyak didatangi oleh orang-orang kaya pada masa itu. Mesmer meyakini bahwa ada kekuatan magnetik dan cairan universal yang mampu menjaga keseimbangan tubuh manusia.

Apabila cairan dalam tubuh seseorang tersumbat atau tidak lancar maka orang tersebut menjadi sakit secara fisik maupun mental. Mesmer mengklaim bahwa dirinya memiliki kekuatan magnetis yang mampu melepaskan sumbatan dan memperlancar aliran cairan dalam tubuh manusia dan menyembuhkan penyakitnya. Mesmer menyembuhkan orang-orang dari berbagai jenis penyakit hanya dengan menggerak-gerakkan tangannya di sekitar pasien untuk menyeimbangkan kembali “magnet alami” mereka.

Teknik pengobatannya disebut dengan Mezmerized. Begitu banyak orang yang sembuh dengan teknik ini sehingga teknik ini diikuti oleh banyak orang, termasuk kalangan istana. Para pasien yang datang ke klinik Mesmer akan dibawa ke sebuah aula besar yang dipenuhi dengan cermin-cermin tinggi dan ditutupi oleh tirai-tirai ungu yang tebal. Mesmer kemudian mendekati para pasien dan menyentuh kepala mereka sambil menatap mereka dalam-dalam, sebuah tatapan tajam yang sepertinya bisa membuat bulu kuduk berdiri.

Saat-saat seperti inilah kemudian satu per satu pasien mulai menunjukkan reaksi tertentu. Ada yang tiba-tiba mulai batuk secara hebat, ada yang meludah, dan ada yang berteriak dan kemudian salah seorang pasien tiba-tiba mengalami kejang-kejang. Hal ini diartikan sebagai sebuah “krisis” yang merupakan tanda bahwa akan terjadi kesembuhan. Kejang-kejang ini akhirnya menular kepada pasien lainnya. Para pasien yang kejang-kejang memperlihatkan mata mereka yang bergerak liar; ada lagi yang menangis histeris, ada yang tertawa yang tak wajar, dan ada juga yang muntah, bahkan sampai batuk darah.

Tetapi setelah melewati fase kritis kejang-kejang ini, para pasien akan merasa lebih lega dan segar kembali. Kebanyakan dari mereka melaporkan bahwa mereka merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Sepertinya apa yang dialami oleh para pasien Mesmer ini merupakan suatu bentuk ungkapan emosi spontan sehingga membuat beban mental mereka jauh berkurang atau bahkan lenyap sama sekali. Hal ini membuat perasaan mereka menjadi sangat lega.

Pengobatannya dianggap kontroversial dibandingkan dengan pengobatan ilmiah kedokteran. Hal inilah yang kemudian memicu Raja Louis XVI memerintahkan untuk melakukan investigasi terhadap Mesmer dan metode pengobatannya. Mesmer tentu menolak rencana investigasi itu karena selalu menganggap bahwa dirinyalah yang mempunyai kekuatan magnetis yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Sebaliknya, tim investigasi memercayai bahwa kesembuhan pasien sesungguhnya terjadi karena ekspektasi (tingkat pengharapan) dan keyakinan mereka untuk sembuh.

Laporan tim khusus investigasi menyebutkan bahwa pengobatan magnetis disebabkan oleh suatu ekspektasi dan bukanlah akibat pergerakan energi alam semesta. Keyakinan dan ekspektasi para pasien melalui imajinasi di dalam pikiran merekalah yang menyembuhkan diri mereka sendiri. Para pasien begitu amat yakin kepada Mesmer bahwa ia memiliki kekuatan magis. Padahal apa yang dilakukan oleh Mesmer hanyalah membuat para pasien berimajinasi sebagai sebuah bentuk harapan yang besar untuk sembuh. Betapa pentingnya keyakinan dan ekspektasi terhadap kesembuhan dan bagaimana imajinasi memainkan peranan yang penting dalam kesembuhan. Dan hal ini nantinya menjadi sorotan ilmiah pada tahun 1955 oleh Henry K. Beecher, M.D.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *