Daya Juang Manusia

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Hidup selalu ada tantangan, dan dengan itu kita sebagai manusia mesti berjuang menghadapinya. Tujuannya bukan hanya agar kita meraih apa yang kita inginkan, akan tetapi lebih dari itu, tujuan utamanya adalah agar diri (jiwa) kita bisa terus melakukan transformasi transendental; bisa terus bergerak ke arah kesempurnaan kemanusiaan. Dan karena itu, tekad menjadi daya juang bagi kita dalam menjalani kehidupan ini.

Tekad berasal dari ekspektasi, terutama pada kemampuan untuk fokus pada tujuan jangka panjang, dan menghindari pengalih perhatian (godaan) jalan pintas dan kenikmatan instan. Karena tujuan jangka panjang itu seperti lari marathon, maka dibutuhkan energi mental yang lebih untuk bisa menyelesaikan perlombaan. Karena jika kita lari sprint pada perlombaan marathon, maka dengan mudah akan kehabisan energi tekad dan kemudian menyerah di tengah jalan.

Ekspektasi bekerja bagi energi tekad diungkapkan oleh penelitian yang dipimpin oleh Josh Clarkson. Menurut Clarkson, ekspektasi memberikan signal bagi pengalokasian energi mental sehingga memungkinkan kita untuk menggunakan lebih banyak tekad. Kata Clarkson, “Sangat mungkin bagi kita untuk mencapai ujung dari kekuatan tekad kita, dimana kita tidak memiliki kekuatan lagi untuk tetap memfokuskan diri dalam melakukan pekerjaan yang butuh fokus mental kita.” Namun Clarkson meyakini bahwa ekspektasi kita terhadap tujuan dan impian jangka panjang kita dapat meng-alokasikan lagi energi tekad kita sehingga tetap berusaha dan fokus pada tujuan.

Selain itu, keyakinan kita pun juga ternyata memainkan peran penting dari kekuatan tekad. Apa yang ditemukan oleh Veronika Job yang bekerjasama dengan Carol Dweck menunjukkan bahwa keyakinan atas tekad merupakan energi yang tak bisa habis; dapat mencegah habisnya tekad tersebut. Dan perbedaan dalam meyakini sesuatu menentukan kekuatan tekad kita. Jika kita meyakini bahwa seseorang yang kita nantikan adalah kekasih dan pujaan hati kita, maka “menunggu” tidak lagi menjadi pekerjaan yang membosankan. Dan begitu pula sebaliknya, saat keyakinan kita berubah, maka “menunggu” menjadi pekerjaan yang meletihkan dan bahkan memunculkan kemarahan.

Karena hidup ini adalah jalan kembali kepada-Nya, maka pada hakikatnya, segala perbuatan baik yang dilakukan di dunia, tujuannya hanyalah agar bisa memperoleh Ridha-Nya. Karena perbuatan baik itu sendiri adalah perintah-Nya, maka menjalaninya adalah demi untuk Ridha-Nya. Maka niat, tujuan, dan motivasi belajar, bekerja, dan segala perbuatan baik adalah mengharap Ridha-Nya. Sedangkan kekayaan, ketenaran, dan penghargaan duniawi hanyalah efek (konsekuensi logis) dari belajar, berkerja, dan berbuat baik. Sehingga jika keyakinan dan ekspektasi ini yang dipegang, maka sudah pasti kekuatan tekad kita dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan tidak akan pernah habis.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *