Oleh: Syahril Syam *)
Kupu-kupu akhirnya memiliki sayap dan bisa terbang tinggi karena sebelumnya mengalami metamorfosis. Ia awalnya adalah makhluk yang merayap dan samasekali tidak bisa terbang. Seperti halnya kupu-kupu, manusia pun bisa mengalami metamorfosis spiritual (baca: transformasi jiwa). Awalnya manusia adalah makhluk yang “merayap”, akan tetapi dengan usaha sadarnya manusia bisa ber-metamorfosis dan menumbuhkan sayapnya untuk terbang tinggi.
Al-Qur’an menyampaikan fase pertama metamorfosis ketika para penyihir Fir’aun melawan Nabi Musa as. Maka, ketika para penyihir datang, mereka berkata kepada Fir‘aun, “Apakah kami benar-benar akan memperoleh imbalan besar jika kami yang menjadi pemenang?” Dia (Fir‘aun) menjawab, “Ya, bahkan kamu pasti akan menjadi orang-orang yang dekat (kepadaku).” Lalu, mereka melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka seraya berkata, “Demi kekuasaan Fir‘aun, sesungguhnya kamilah yang benar-benar sebagai pemenang.” (QS 26:41,42,44).
Ayat di atas secara jelas menunjukkan bahwa fase pertama perkembangan spiritual manusia adalah hanya mengharapkan imbalan duniawi. Para penyihir merasa senang ketika mereka berhasil mendapatkan imbalan duniawi, yang diperolehnya dari kekuatan Fir’aun. Mereka merasa bahwa semua bisa mereka peroleh ketika meyakini kekuasaan dan kekuatan Fir’aun.
Manusia pada fase ini sebenarnya berada dalam kondisi “merayap” di bumi. Semua keinginan diyakini hanya bisa diperoleh ketika mendekati orang-orang yang kaya, punya pengaruh, dan berkuasa. Merasa hebat karena meyakini ada bekingan. Dan inilah yang dirasakan pada diri para penyihir Fir’aun, yakni merasa hebat karena di belakang mereka ada kekuatan Fir’aun.
Fase pertama adalah fase ketika hawa nafsu yang menjadi pengendali diri. Fase dimana manusia cenderung mengikuti dorongan-dorongan emosionalnya; mengikuti berbagai kecenderungan jasmaniahnya hanya untuk merasakan kesenangan sesaat.
Namun, manusia bukan hanya berupa makhluk yang “merayap” di bumi. Kita diciptakan untuk bisa ber-metamorfosis dengan menumbuhkan kedua sayap untuk bisa terbang ke langit. Para penyihir itu tersungkur dalam keadaan sujud. Mereka berkata, “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu) Tuhannya Musa dan Harun.” (QS 7:120-122). Ayat ini menunjukkan fase metamorfosis pada manusia, dimana para penyihir yang melawan Nabi Musa as, akhirnya tersadar bahwa yang mesti diharapkan bukanlah imbalan duniawi, melainkan keridhaan Sang Maha Sempurna. Para penyihir tidak lagi melihat Fir’aun dan segala macam jenis kekuasaan duniawi sebagai bekingan. Mereka kini mengalami perkembangan spiritual dan tidak lagi melihat apapun kecuali kekuatan dan kekuasaan Sang Maha Sempurna.
Fase kedua inilah adalah fase ketika seluruh hawa nafsu dan kecenderungan jasmaniah kita telah berada di bawah kontrol fitrah. Saat duniawi bukanlah lagi sebagai pengendali dan motivasi diri, melainkan keridhaan Sang Maha Sempurna yang menjadi pengendali kehidupan di dunia ini. Siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya. Siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian sedikit pun di akhirat (QS 42:20). Dengan kata lain, semua ibadah dan perbuatan baik yang dilakukan, bukanlah demi memuaskan keinginan ego. Tidak ada satupun untuk kepentingan duniawi. Melainkan demi mengharap Ridho Sang Maha Sempurna. Maka ketika ini yang dilakukan, keuntungan dunia dan keuntungan akhirat pun akan diperoleh.
@pakarpemberdayaandiri












