Kenyataan Mental dan Kenyataan Hidup

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Suatu ketika, cucu Nabi Muhammad SAW yang bernama Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib berpapasan dengan seseorang dan orang tersebut mencaci maki Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib dengan kata-kata yang tidak pantas. Sayyidina Hasan diam saja, tidak membalas cacian itu.

Anak Sayyidina Hasan yang juga berada di tempat itu bertanya, “Wahai Ayahanda, orang itu mencaci maki tapi mengapa ayah tidak membalasnya?” Dengan lemah lembut Sayyidina Hasan menjawab pertanyaan putranya, “Bagaimana aku membalasnya, sedangkan kakekku Muhammad, ayahku Ali bin Abi Thalib dan ibuku Fatimah Azzahra, tidak pernah mengajariku caci maki.”

Ada dua kenyataan yang senantiasa kita hadapi setiap hari. Ada kenyataan hidup, yaitu kenyataan yang dimana kita berinteraksi dengan segala sesuatu di luar diri kita, dan ada kenyataan mental, yaitu kenyataan yang hadir langsung pada diri kita sehingga tidak ada keterpisahan antara diri kita dengan objek kenyataan itu.

Perasaan yang kita rasakan, hadirnya objek mental, adalah bentuk kehadiran suatu kenyataan pada mental kita yang tidak mengalami keterpisahan antara diri kita dengan kenyataan yang hadir tersebut. Sedangkan berbeda dengan itu, kenyataan hidup senantiasa terpisah dari kita karena keberadaannya berada di luar diri kita. Apapun yang kita lihat maupun dengar di kenyataan kehidupan, selalu terpisah dengan diri kita karena keberadaannya berada di luar diri kita. Sedangkan apapun yang kita lihat, dengar, dan rasakan pada kenyataan mental, selalu menyatu dengan diri kita karena keberadaannya di dalam mental kita sendiri.

Kisah Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib di atas menunjukkan kepada kita bahwa kenyataan mental tidak mesti selalu dipengaruhi oleh kenyataan hidup. Pada kebanyakan orang, kenyataan mentalnya cenderung dipengaruhi oleh kenyataan hidup. Peristiwa yang dialami kemudian dicerap oleh panca indra dan kemudian hadirlah objek mental dari hasil serapan indra tersebut, dan muncullah kenyataan mental pada diri seseorang yang merupakan hasil dari persepsi atas objek mental (atas kenyataan hidup) yang hadir tersebut. Seolah-olah kenyataan hidup itu terduplikasi di kenyataan mentalnya, sehingga berkata bahwa wajar ia sakit hati dan marah karena faktanya ada yang menyakitinya. Mereka membenarkan perasaan marah dan sakit hati yang dirasakan dengan bersandar pada fakta hidup.

Padahal setiap fakta kehidupan cenderung bernilai positif bagi diri kita dan tidak ada satupun kenyataan kehidupan yang bernilai netral bagi kehidupan kita. Itulah sebabnya, CEO otak (akal sehat) kita mampu memutuskan dan mempersepsikan sesuatu tanpa mesti bergantung pada apa yang dilihat dan didengar di kenyataan hidup.

CEO otak kita mampu memiliki pemikiran sendiri dan dengan itu menghadirkan kenyataan mental pada diri kita. Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib berkata bahwa ia tidak membalas cacian dengan cacian karena kakeknya, ayah, dan ibunya tidak pernah mengajarkan demikian. Dengan kata lain, Rahmat Sang Maha Sempurna lebih besar dibandingkan sekadar caci maki. Hadirnya Rahmat Sang Maha Sempurna pada kenyataan mental inilah yang membuat sikap dan perilaku kita tidak mesti bersandarkan pada fakta hidup (bahwa ada orang yang mencaci maki). Dan hadirnya Rahmat Sang Maha Sempurna pada kenyataan mental tidak bergantung pada pencerapan indra atas kenyataan hidup.

CEO otak kita mampu memahami dan merenungi betapa luasnya Rahmat Sang Maha Sempurna. Dan hasil dari perenungan ini dapat melahirkan kenyataan mental (kesadaran) yang sepenuhnya tidak bergantung pada apa yang dilihat dan didengar oleh indra atas kehidupan yang dialami. Artinya, kita diberi karunia kemampuan untuk menciptakan kenyataan mental sendiri. Dan karena manusia bersikap dan bertindak berdasarkan kenyataan mentalnya, maka penting bagi kita untuk mengaktifkan CEO otak kita untuk senantiasa memahami dan merenungi Kasih dan Sayang Sang Maha Sempurna, agar dengan itu hadir kenyataan mental yang dipenuhi nilai-nilai kemanusiaan. Dan dengan kenyataan mental seperti inilah kita menilai dan menjalani kenyataan hidup, agar bisa tetap bahagia.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *