Oleh: Syahril Syam *)
Dalam psikologi positif, karakter adalah faktor utama yang berperan dalam membuat kita bahagia. Karakter dalam psikologi positif disebut sebagai faktor V (Voluntary Activities). Martin Seligman mengemukakan teori PERMA – elemen-elemen karakter – yang mencakup lima elemen kunci untuk kebahagiaan dan kesejahteraan psikologis.
Teori PERMA menekankan bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan psikologis bukanlah sekadar tentang merasakan emosi positif, tetapi juga melibatkan keterlibatan dalam aktivitas yang bermakna, hubungan yang sehat, dan mencapai tujuan yang penting. Integrasi kelima elemen ini dalam kehidupan sehari-hari dapat membantu diri kita mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi dan hidup yang lebih memuaskan secara keseluruhan. Jadi karakter (faktor V) terdiri atas: V = P + E + R + M + A.
Yang pertama adalah Positive Emotions (Emosi Positif), yang merujuk pada pengalaman emosi positif seperti kegembiraan, kebahagiaan, cinta, dan keberuntungan. Merasakan emosi positif memainkan peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan dan memperkuat ketahanan terhadap stres.
Kedua, Engagement (Keterlibatan) yang merupakan pengalaman dimana kita benar-benar terfokus dan terlibat dalam aktivitas yang membutuhkan keterampilan yang sesuai dengan tantangan yang dihadapi. Saat kita berada dalam keadaan keterlibatan, waktu terasa berlalu dengan cepat dan kita merasa sepenuhnya terlibat dalam apa yang sedang dilakukan.
Ketiga, Relationships (Hubungan), yaitu hubungan yang positif dengan orang lain memainkan peran kunci dalam kesejahteraan psikologis. Hubungan yang mendukung, intim, dan berarti memberikan dukungan sosial, cinta, dan rasa keterhubungan yang penting bagi kesejahteraan individu.
Keempat, Meaning (Makna), yaitu merasa bahwa kehidupan memiliki makna dan tujuan yang jelas merupakan aspek penting dari kesejahteraan psikologis. Merenungkan makna hidup, memahami nilai-nilai pribadi, dan mengejar tujuan yang sesuai dengan nilai-nilai tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis.
Dan kelima, Accomplishment/Achievement (Prestasi), yaitu merasa berhasil dan mencapai tujuan yang ditetapkan memberikan perasaan pencapaian yang memuaskan dan meningkatkan rasa harga diri. Mencapai prestasi juga berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan psikologis secara keseluruhan.
Jika karakter positif yang terdiri atas kelima elemen agar menjadi bahagia dan sejahtera, maka dalam pandangan akhlak, karakter positif tidak hanya akan membuat kita bahagia dan sejahtera, melainkan juga akan membuat kita memiliki nilai kemanusiaan yang semakin sempurna.
Karakter atau akhlak adalah kepemilikan jiwa (diri) atas sifat-sifat tertentu (baik atau buruk), yang (dari kepemilikan sifat ini) memunculkan perbuatan secara otomatis (kebiasaan). Dengan kata lain, jiwa awalnya tidak memiliki sifat-sifat tersebut, namun akhirnya melalui tindakan yang berulang akhirnya sifat tersebut menempel pada jiwa dan membentuk diri (jiwa) kita.
Itulah sebabnya akhlak selalu memiliki nilai baik atau buruk, karena nilai tersebut menjadi sebab bagi terbentuknya jiwa, apakah terbentuk menjadi lebih sempurna kemanusiaannya atau justru menjadi semakin tidak sempurna kemanusiaannya.
Ini sama halnya dengan ilmu matematika yang menjadi sebab bagi terbentuknya jiwa intelektual kita. Sebelum mempelajari ilmu matematika, jiwa kita berada dalam bentuk ketidaktahuan. Namun dengan tindakan berulang dalam mempelajari matematika, akhirnya ilmu matematika “menempel” pada jiwa dan membentuk jiwa kita menjadi berpengetahuan dan mahir menggunakan perhitungan matematis.
Itulah sebabnya, dermawan sebagai salah satu contoh karakter, bukan hanya berupa sifat mulia, melainkan juga membentuk diri (jiwa) kita menjadi lebih mulia dan sempurna. Sebaliknya, kikir menjadi sebab bagi terbentuknya jiwa yang semakin rendah kadar kemanusiaannya.
Olehnya itu, akhlak selalu memiliki nilai baik atau buruk, dimana nilai akhlak menjadi sebab bagi kebaikan diri ataupun keburukan diri. Membentuk jiwa kita menjadi rupa hewan atau rupa manusia yang mulia. Rupa jiwa inilah yang nantinya akan dapat kita saksikan saat di akhirat kelak.
Karakter positif juga meniscayakan diri kita untuk mengontrol berbagai hasrat/nafsu (kepentingan ego). Saat kita berbagi dan peduli dengan orang lain, maka kita mesti mengorbankan ego kita. Mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan orang lain. Ada hasrat yang mesti dikontrol dan hal ini menyebabkan perasaan derita dan sengsara. Sehingga perbuatan baik mestilah didasarkan pada ketulusan hati, agar perasaan derita yang dirasakan karena mengontrol hasrat, dapat tergantikan dengan perasaan bahagia karena perbuatan baik dilandasi oleh hati yang tulus. Dengan kata lain, kelima elemen PERMA di atas, hanya dapat dimaksimalkan saat kita mengontrol berbagai hasrat/nafsu.
@pakarpemberdayaandiri











