Emosi Negatif atau Emosi Konstruktif?

Syahril Syam

Catatan: Syahril Syam *)

Hingga saat ini para psikolog masih membagi emosi menjadi dua, positif dan negatif. Emosi diartikan sebagai respons psikofisiologis yang kompleks terhadap rangsangan internal atau eksternal. Emosi melibatkan reaksi otomatis dan seringkali tidak disadari yang terjadi di dalam tubuh, seperti perubahan hormon, detak jantung yang cepat, dan reaksi instingual. Emosi diambil dari akar kata bahasa Latin, emovere, yang berarti menggerakkan, bergerak. Dengan demikian, makna emosi atas pengertian tersebut adalah kecenderungan untuk bertindak.

Daniel Goleman mengatakan bahwa pada dasarnya semua emosi adalah dorongan untuk bertindak. Goleman mengungkapkan bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

Saat seseorang marah dengan intensitas yang sangat tinggi, biasanya ia tak mampu menahan kecenderungan dirinya untuk melakukan perusakan. Misalnya, ketika marah seseorang memukulI diri sendiri, merusak sesuatu, atau bahkan memukul orang lain. Begitu juga, ketika seseorang mengalami ketakutan. Misalkan, seseorang berhadapan dengan anjing yang ditakutinya. Rasa takut yang dialaminya menimbulkan dorongan dalam dirinya untuk lari menyelamatkan diri atau menghindari anjing itu dengan
mencari jalan lain.

Sebenarnya melalui pengertian emosi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa emosi menjadi tenaga penggerak bagi kita untuk mendekati atau menjauhi sesuatu. Maka dalam pemahaman ini, tidak tepat ketika emosi terbagi menjadi negatif atau positif. Karena sebagai daya penggerak, emosi bisa menggerakkan kita ke arah yang konstruktif (memberdayakan diri), walaupun bisa juga ke arah destruktif (melemahkan diri).

Dan hal ini juga – tanpa disadari – diakui oleh para psikolog. Para psikolog mengakui bahwa saat kta menghadapi bahaya, emosi negatif (yang disebut psikolog sebagai emosi negatif) berfungsi dengan cara menyempitkan atensi (perhatian), agar supaya kita benar-benar fokus pada permasalahan yang sementara dihadapi. Kondisi ini membuat atensi dan energi kita tidak terpecah pada hal-hal lain. Kita benar-benar hanya memperhatikan satu area dunia kita dan menjadi abai kepada area dunia kita yang lain.

Saat menghadapi ujian skripsi pada keesokan harinya, seseorang biasanya akan mengalami ketakutan. Perasaan emosional yang timbul ketika seseorang merasa terancam oleh sesuatu yang dianggap berbahaya, menakutkan, atau mengkhawatirkan. Takut gagal dan takut pada situasi ujian yang akan dihadapi. Perasaan takut ini akan membuat pikiran menjadi terfokus dan hanya sibuk memikirkan ujian besok. Pikiran tidak lagi memikirkan hal-hal menarik lainnya. Emosi takut membuat kita terfokus dan hanya memperhatikan masalah hingga masalah itu selesai.

Semakin besar intensitas takut, maka semakin besar kekuatan fokus kita. Dan semakin rendah intensitas takut (menganggap remeh sesuatu), maka semakin rendah juga daya fokus yang terarahkan pada suatu masalah. Makanya banyak mahasiswa tidak mengerjakan tugasnya karena intensitas emosinya tidak cukup tinggi untuk mengarahkan daya fokusnya dalam menyelesaikan tugasnya. Itulah sebabnya, takut dengan intensitas yang tepat menyebabkan kita menjadi konstruktif.

Selain itu, emosi takut yang terlalu berlebihan tidak lagi membuat kita menjadi konstruktif, tetapi justru menjadi destruktif. Takut yang berlebihan menyebabkan penyempitan fokus yang terlalu berlebihan sehingga yang terjadi adalah merasa tercekam atau dihantui oleh suatu permasalahan.

Ketakutan yang mencekam seringkali menyebabkan rasa ketidaknyamanan yang parah dan bahkan dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi secara normal dalam kehidupan sehari-hari. Ketakutan yang mencekam dapat membuat seseorang merasa terjebak dalam siklus yang sulit diputuskan, di mana ketakutan memperkuat perilaku menghindar yang pada gilirannya memperkuat ketakutan lebih lanjut. Hal ini dapat mengganggu kualitas hidup seseorang dan menyebabkan masalah dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan interpersonal, pekerjaan, dan kesejahteraan secara keseluruhan.

Jadi pada dasarnya emosi yang disebut negatif memiliki dua sisi, destruktif dan konstruktif. Takut, marah, perasaan bersalah, dan sejenisnya, selalu memiliki dua sisi. Bisa membuat kita menjadi konstruktif, dan bisa juga menjadikan seseorang semakin destruktif. Dan sebenarnya, hal yang sama juga berlaku pada emosi yang sering disebut sebagai emosi positif.

Rasa Percaya Diri sebagai contoh emosi positif yang merupakan keyakinan pada kemampuan dan nilai diri sendiri, serta rasa nyaman dengan identitas dan kualitas diri, bisa menjadi konstruktif ketika berada dalam intensitas yang proporsional. Dan bisa menjadi destruktif ketika terlalu berlebihan. Marshall Goldsmith – salah satu pemikir bisnis terkemuka – berkata, “Meskipun kepercayaan diri bisa membantu kita mencapai sesuatu, perasaan ini juga bisa mempersulit kita untuk berubah.” Orang yang memiliki rasa percaya diri berlebihan cenderung sulit menerima nasehat, bahkan dari para pakar sekalipun.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *