Hubungan Antara Emosi dan Penyakit Lansia

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Dalam banyak negara, usia 65 tahun sering digunakan sebagai ambang batas untuk mendefinisikan lansia, dan seseorang yang mencapai usia ini dianggap sebagai lansia. Ini sering disebut sebagai “pensiun dini” atau usia pensiun yang umum di beberapa negara. Konsep “lansia” seringkali lebih dari sekadar angka usia tertentu. Ini juga bisa mencakup tahap kehidupan dimana seseorang menghadapi perubahan fisik, mental, dan sosial yang terkait dengan penuaan. Ada beberapa penyakit yang umum terjadi pada lansia, yaitu penyakit kardiovaskular, stroke, Alzheimer, dan Parkinson.

Tubuh yang sehat berarti berada dalam keadaan yang seimbang, yang sering juga disebut homeostasis, yaitu kemampuan organisme untuk menjaga kondisi internal yang relatif konstan, meskipun terjadi perubahan lingkungan eksternal yang berfluktuasi. Contohnya, suhu tubuh manusia harus diatur dalam rentang yang sempit agar fungsi sel dan organ dapat berlangsung dengan baik.

Ketika suhu tubuh naik, seperti saat cuaca panas atau saat berolahraga, kelenjar keringat akan dipicu untuk mengeluarkan cairan yang mengandung panas tubuh. Ini membantu menurunkan suhu tubuh agar tetap dalam kisaran normal sekitar 37 derajat Celsius. Stabilitas emosi juga membantu menyeimbangkan dan menjaga kesehatan tubuh. Kesehatan, pada gilirannya, menjaga homeostatis yang berkontribusi terhadap stabilitas emosi.

Kecemasan umumnya terkait dengan perasaan ketakutan, gelisah, atau khawatir yang berlebihan terhadap situasi tertentu atau masa depan. Sedangkan depresi lebih terkait dengan perasaan sedih, kehilangan minat atau kesenangan dalam kegiatan yang biasanya dinikmati, serta perasaan putus asa atau tidak berdaya.

Penelitian menunjukkan bahwa keadaan takut dapat menyebabkan berkembangnya kecemasan yang berkorelasi dengan penyakit kardiovaskular dan stroke. Dan kesedihan dapat menyebabkan depresi yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer dan Parkinson. Dan hubungan ini ternyata bersifat dua arah. Artinya, pasien dengan riwayat penyakit jantung dapat menimbulkan kecemasan.

Begitu juga kecemasan, terutama kecemasan fobia, merupakan faktor risiko terjadinya stroke. Pada gilirannya, stroke bisa memberikan perkembangan kecemasan. Hal yang sama juga pada penderita penyakit Alzheimer dapat menyebabkan depresi, dan penderita penyakit Parkinson mempunyai risiko tinggi terkena depresi.

Jika ditelusuri, kecemasan dan depresi terjadi karena kelebihan hormon kortisol yang dikenal sebagai hormon stres. Dengan kata lain, cemas dan depresi bermula dari seringnya mengalami stres atau stres kronis yang berkelanjutan. Stres adalah respons fisiologis dan psikologis tubuh terhadap tekanan atau tuntutan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Ini adalah reaksi alami tubuh terhadap situasi yang dianggap mengganggu, menekan, atau menuntut, baik itu fisik, mental, atau emosional. Bisa berupa tuntutan pekerjaan, masalah hubungan, perubahan hidup, atau bahkan peristiwa yang menyenangkan seperti pernikahan atau pindah rumah. Artinya, stres kronis yang berkelanjutan karena terlalu sering mengalami berbagai emosi destruktif dan hal ini seringkali bersifat rutin di setiap hari.

Oleh sebab itu, kata kunci utama dalam kesehatan adalah perasaan, yang merupakan pengalaman subjektif atau penafsiran yang kita berikan terhadap emosi yang dirasakan. Sehingga saat menyadari adanya gejala stres yang ditandai dengan perubahan fisik seperti peningkatan detak jantung, pernapasan yang lebih cepat, peningkatan tekanan darah, atau keringat berlebih, juga gejala psikologis berupa perasaan cemas, gelisah, atau ketegangan, maka segeralah mengubah perasaan kita menjadi konstruktif. Ini penting agar kita bisa segera memutus proses stres kronis yang akan berlangsung pada diri kita.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *