Hati Sebagai Variabel Yang Sering Terlupakan

Syahril Syam

Oleh Syahril Syam *)

Untuk bisa rangking satu, mesti memenuhi beberapa variabel. Mesti rajin belajar, memahami apa yang dipelajari, memiliki daya ingat yang baik, soal ujian yang muncul adalah juga bahan yang telah dipelajari, dan jumlah soal dengan jawaban benar lebih banyak dibandingkam peserta ujian lainnya. Artinya ada banyak variabel yang mesti terpenuhi sebagai syarat agar bisa rangking satu. Jika ada variabel syarat yang tidak terpenuhi ataupun kurang sempurna, maka bisa dipastikan tidak akan pernah rangking satu. Dan semakin kurang jumlah variabelnya yang terpenuhi, maka semakin jauh dari rangking satu.

Pola yang sama juga berlaku untuk hal yang lain. Terkait dengan penyakit, ada banyak kasus yang penulis hadapi, ternyata tidak dapat didiagnosa melalui pendekatan medis. Sudah melakukan pemeriksaan yang lengkap, tapi tidak ditemukan apa yang menyebabkan muncul suatu penyakit tertentu. Pada kebanyakan orang, kondisi ini selalu dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat gaib. Kesimpulan ini diambil karena asumsi yang tercipta adalah jika bukan medis (yang bersifat empirik), maka sudah pasti bersifat gaib (yang non medis).

Namun yang seringkali dilupakan adalah variabel hati. Walaupun juga bersifat batin (non empiris), hati merupakan lokus dari perasaan/emosi. Saat seseorang merasa depresi, maka hal ini cenderung membuat seseorang mengalami gangguan hormonal, penyakit jantung, diabetes, atau gangguan neurologis. Gangguan kimia dalam otak juga dapat memainkan peran dalam perkembangan depresi. Depresi terkait dengan perasaan sedih, kehilangan minat atau kesenangan dalam kegiatan yang biasanya dinikmati, serta perasaan putus asa atau tidak berdaya. Seseorang yang mengalami depresi mungkin merasa hampa atau kehilangan harapan untuk masa depan, dan kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya mereka nikmati.

Ada banyak kasus dimana depresi terjadi ketika seseorang terlalu sering mengalami kekecewaan hidup, yang pada akhirnya menjadi stres. Depresi terjadi karena kelebihan hormon kortisol yang dikenal sebagai hormon stres. Dengan kata lain, depresi bermula dari seringnya seseorang mengalami stres atau stres kronis yang berkelanjutan. Kekecewaan hidup yang terlalu sering dialami akan menyebabkan stres dan akhirnya menjadi depresi. Depresi dapat mengakibatkan penurunan sistem kekebalan tubuh, membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit lainnya. Hal ini karena stres kronis yang terkait dengan depresi dapat menyebabkan peningkatan kadar hormon stres, seperti kortisol, yang pada gilirannya dapat menghambat fungsi sistem kekebalan tubuh.

Depresi dapat menyebabkan perubahan biologis dalam tubuh, termasuk perubahan pada sistem saraf otonom, sistem endokrin, dan sistem kardiovaskular. Perubahan ini dapat meningkatkan risiko untuk berbagai penyakit fisik, termasuk penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan gangguan lainnya. Depresi juga dapat mengganggu ketidakseimbangan serotonin, neurotransmitter yang terlibat dalam mengatur suasana hati. Dengan kata lain, ketika seseorang jatuh ke dalam depresi, maka ia cenderung memandang Tuhan tidak adil.

Hal ini disebabkan oleh suasana hatinya yang selalu merasa tertekan dan tanpa daya, sehingga mencari yang mesti disalahkan atas apa yang menimpa dirinya. Jadi, kebanyakan kasus penyakit yang tidak diketahui sebabnya secara medis, ternyata memiliki sebab lain berupa hati yang destruktif. Mungkin ini sebabnya sehingga Nabi Muhammad SAW berkata, “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Itulah hati (jantung).”

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *