Cuek dan Stres Kronis

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Yang membuat seseorang mengalami stres karena adanya stresor atau ancaman. Di zaman milenial ini, ancaman justru semakin banyak, karena apapun yang membuat seseorang merasa marah, jengkel, kecewa, khawatir, panik, dan cemas, maka itu adalah ancaman. Ancaman yang membuat stres manusia purba hanyaah binatang buas. Namun di zaman milenial, ancamannya hanya gara-gara tidak ada atau kurang yang “like” status medsos, sudah membuat hati meradang. Makanya, semakin mudah seseorang merasa terganggu dengan hal-hal kecil dan sepele, maka semakin sering ia mengalami stres. Dan stres yang terlalu sering dialami dengan intensitas tinggi di setiap hari (stres kronis berkelanjutan) adalah jenis stres yang berbahaya bagi kesehatan mental dan tubuh.

Pada sebagian orang, karena tidak ingin stres (tidak ingin merasa marah, jengkel, kecewa, khawatir, panik, dan cemas ketika menghadapi ancaman), memilih untuk cuek atau melakukan pengalihan perhatian. Cuek biasa diartikan sebagai sikap acuh tak acuh atau tidak peduli terhadap sesuatu atau seseorang. Seseorang yang cuek biasanya tidak menunjukkan banyak perhatian atau emosi terhadap situasi di sekitarnya. Ia cuek terhadap perasaan orang lain atau tidak terlalu memperhatikan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan pengalihan adalah proses memindahkan perhatian dari satu hal ke hal lain, mengalihkan perhatian dari stres atau masalah dengan melakukan aktivitas lain yang cenderung bersifat menyenangkan agar bisa melupakan stres.

Namun sesungguhnya, hal ini justru bisa menjadi bahaya tersembunyi dari stres. Karena sikap cuek atau mengalihkan perhatian ke hal-hal yang menyibukkan atau menyenangkan adalah tahap kedua setelah menghadapi ancaman (setelah mengalami stres). Terjadi masalah sepele di rumah, dan saat terjadi maka menimbulkan reaksi marah, jengkel, kecewa, khawatir, panik, atau cemas (menjadi stres). Karena perasaan yang dirasakan saat stres adalah perasaan tidak nyaman, maka untuk menghindari merasakan perasaan tidak nyaman itu kembali (atau mengalaminya dalam waktu lama), dipilihlah sikap cuek atau pengalihan ke hal-hal yang menyenangkan atau menyibukkan pikiran.

Namun yang penting untuk diperhatikan adalah senyaman apapun perasaan yang hadir saat bersikap cuek ataupun mengalihkan perhatian ke hal-hal yang menyenagkan atau menyibukkan diri, semua ini adalah tahap kedua setelah mengalami stres. Dengan kata lain, stres-nya tetap dialami terlebih dahulu baru kemudian memilih cuek atau pengalihan diri. Inilah bahaya tersembunyi dari stres kronis, karena seseorang yang cuek selalu merasa bahwa ia tidak stres, akan tetapi ia justru selalu rutin mengalami stres kronis walaupun hanya sebentar. Namun walau sebentar saja mengalami stres kronis, ketika ini terus berlanjut hingga puluhan tahun, akan menyebabkan terjadi penumpukan emosi destruktif, yang pada gilirannya menjadi salah satu faktor penyebab gangguan mental dan fisik.

Dengan demikian, sangat tidak dianjurkan untuk cuek dari stres atau dari masalah-masalah yang menyebabkan lahirnya perasaan marah, jengkel, kecewa, khawatir, panik, atau cemas. Hadapi kenytaan itu dan selesaikan ancaman (stresor) yang muncul. Begitu pula, sebaiknya jangan suka mengalihkan perhatian ke hal-hal yang menyenangkan atau sengaja menyibukkan diri. Alangkah bagusnya untuk tetap menghadapi masalah yang ada, sambil melakukan aktivitas-aktivitas lain yang bersifat menenangkan diri dan memicu hadirnya hormon-hormon positif dan konstruktif.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *