Mengambil Alih Kesadaran Diri

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Pernahkah di antara kita yang mengalami kondisi capek dan ngantuk yang luar biasa, sehingga serasa ingin segera berbaring melepaskan lelah dan ngantuk, akan tetapi masih banyak pekerjaan yang mesti diselesaikan? Tubuh menarik kita untuk segera merebahkan badan, sedangkan akal sehat kita mengatakan bahwa tanggung jawab mesti diselesaikan. Yang paling sering terjadi pada kebanyakan orang adalah kesadaran dirinya tergerus dan hanyut ke dalam perasaan capek, lelah, jenuh, dan ngantuk. Serangan badai emosi membuat akal sehat tak lagi berfungsi, dan sebagai gantinya adalah kesadaran diri terambil alih oleh perasaan capek, lelah, jenuh, dan ngantuk. Ia kehilangan kesadaran diri dan tenggelam ke dominasi perasaan sehingga membuatnya segera berbaring.

Proses yang sama sebenarnya juga terjadi pada orang-orang yang seringkali disebut kerasukan. Pada kebanyakan kasus, kerasukan tidak terjadi oleh sebab-sebab gaib, melainkan oleh terambil alihnya kesadaran diri oleh perasaan-perasaan destruktif, yang kemudian melahirkan ledakan emosional (berteriak-teriak dan mengamuk tanpa kontrol sadar). Pada kasus yang lebih ringan, kebanyakan orang kalau sudah memuncak marahnya, maka akan melepaskan amarah itu tanpa bisa dikontrolnya. Jadi proses terenggutnya kesadaran sama, namun berbeda dalam hal intensitas ledakan emosinya.

Yang paling sering terjadi pada kebanyakan orang adalah terenggutnya kesadaran dirinya oleh berbagai perasaan destruktif di dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Saat capek menjadi mudah marah, saat banyak masalah menjadi mudah tersinggung, saat dimarahi bos menjadi marah ke orang rumah tanpa sebab, saat ditimpa musibah menjadi cemas dan panik, atau saat melihat masakan enak menjadi kalap dalam melahap makanan. Intinya, saat menghadapi orang, tempat, benda, waktu, dan peristiwa, maka dikuasai oleh perasaan destruktif berupa kesedihan, kemarahan, terlalu berhasrat, egois, penyesalan, rasa bersalah, dendam, apati, malu, cemas, putus asa, hingga depresi.

Saat dikuasai oleh perasaan destruktif, yang terjadi adalah sistem energi menjadi tidak seimbang. Hal ini bisa merusak meridian jantung. Jika semakin lama terjadi, maka energi hidup dari jantung pun semakin terganggu dan terjadi gangguan fisiologi dari jantung, termasuk pembuluh arteri. Akhirnya terjadi gangguan pada level fisik berupa penyakit jantung dan berbagai penyakit lainnya. Manusia seringkali sakit karena faktor kesadaran diri yang terenggut. Betapa mudahnya diri hilang kesadaran hanya karena dikuasai emosi-emosi destruktif, yang seringkali dipicu oleh sesuatu atau masalah sepele.

Oleh sebab itu, kita mesti berlatih untuk mengambil alih kesadaran diri dan kemudian memutuskan untuk merasakan perasaan konstruktif secara sadar, khususnya ketika menghadapi masalah, tantangan, dan masa-masa sulit. Saat kita bersungguh-sungguh untuk merubah diri, maka hanya dengan niat, otak kita akan menciptakan alarm khusus untuk selalu mengingatkan kita ketika perasaan destruktif berusaha mengambil alih kesadaran kita. Sehingga dengan alarm itu, kita kemudian menjadi tersadar untuk kemudian mengambil pilihan agar tidak hanyut ke dalam perasaan destruktif. Setelah tersadar dan mengambil sikap, maka mulailah dengan secara sadar menciptakan perasaan konstruktif atau masuk ke kondisi rileks dan menenangkan. Dan dengan semakin sering berlatih, maka kita semakin menuju kepada manusia yang merdeka.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *