Oleh: Syahril Syam *)
Bisakah kita mengubah perilaku seseorang hanya dengan mengubah situasinya? Jawabannya adalah bisa. Penelitian ini dilakukan kepada dua kelompok mahasiswa. Ada kelompok mahasiswa yang dermawan, murah hati, dan lebih cenderung menyumbangkan makanan. Dan ada lagi kelompok mahasiswa lainnya yang memiliki sifat sebaliknya. Kelompok mahasiswa yang terakhir ini kita sebut saja sebagai kelompok mahasiswa yang “nakal”, dan kelompok mahasiswa yang pertama kita sebut sebagai kelompok mahasiswa yang dermawan.
Dan untuk mengetahui dan membedakan kedua kelompok mahasiswa di atas, para peneliti melakukan jajak pendapat terhadap semua mahasiswa yang tinggal di sebuah asrama. Mereka diminta untuk menilai mana mahasiswa yang dermawan dan mana mahaiswa yang “nakal”. Data yang masuk kemudian disusun berdasarkan peringkat – mulai dari paling dermawan hingga paling “nakal” – sehingga akhirnya diketahui mahasiswa mana yang dermawan dan mahasiswa mana yang bukan dermawan (“nakal”).
Kedua kelompok mahasiswa itu kemudian diberi undangan yang memberitahukan tentang penyelenggaraan acara festival makanan amal yang akan dilaksanakan pada minggu depan dan meminta mereka membawa makanan kemasan ke sebuah gerai di Tressider Plaza (sebuah tempat terkenal di kampus). Tanpa diketahui oleh kedua kelompok mahasiswa tersebut, undangannya ternyata ada dua jenis, undangan biasa dan undangan yang lebih rinci. Undangan biasa hanya sekadar menyampaikan bahwa ada acara festival makanan amal pada minggu depan dan meminta mereka untuk menyumbang berupa makanan kemasan dan dibawa ke Tressider Plaza.
Sedangkan undangan yang satunya lagi berisi undangan yang lebih rinci karena dilengkapi dengan peta menuju tempat yang dimaksudkan, permintaan untuk membawa sekaleng kacang, serta gagasan tentang kapan biasanya mereka berada dekat Tressider Plaza, sehingga mereka tidak harus bersusah payah untuk mengantarkan sumbangan.
Kedua jenis surat itu dikirimkan secara acak baik kepada kelompok mahasiswa dermawan maupun kepada kelompok mahasiswa “nakal”. Setelah berlalu sepekan, dimana setelah berakhir festival makanan, para peneliti telah mempunyai daftar lengkap yang berisi siapa-siapa saja yang telah menyumbang dan yang tidak. Agak sedikit di luar dugaan, ternyata kelompok mahasiswa dermawan yang menerima surat biasa menjadi kurang dermawan. Hanya 8 persen di antara kelompok mahasiswa dermawan yang memberikan sumbangan. Dan untuk kelompok mahasiswa “nakal” (yang bukan dermawan), tidak satupun di antara mereka yang menyumbang.
Kita mungkin akan berpikir wajar kalau kelompok mahasiswa “nakal” tidak menyumbang samasekali, karena begitulah reputasi mereka selama ini. Namun kita akan sedikit kaget melihat bahwa kelompok mahasiswa “nakal” yang menerima surat yang lebih rinci, sebanyak 25 persen di antara mereka yang memberikan sumbangan. Dan untuk kelompok mahasiswa dermawan yang menerima surat lebih rinci, sebanyak 42 persen di antara mereka yang memberikan sumbangan.
Artinya, jika kelompok mahasiswa “nakal” diberi surat rincian sumbangan, maka mereka tiga kali lebih memungkinkan untuk menyumbang dibandingkan kelompok mahasiswa dermawan yang hanya menerima surat sumbangan biasa. Kelompok mahasiswa yang bukan dermawan ternyata bisa merubah sikapnya menjadi dermawan ketika otak mereka tahu apa yang harus disumbang, diberitahu cara mudah untuk mengantarkan sumbangan, dan ide tentang waktu terbaik untuk menyumbang. Berarti pada dasarnya semua orang ingin menyumbang, namun dibutuhkan cara agar calon penyumbang tahu persis seperti apa situasinya.
@pakarpemberdayaandiri











