Oleh: Syahril Syam *)
Tangisan adalah cara utama bayi berkomunikasi dengan dunia sebelum mereka mampu berbicara. Sejak lahir, bayi menangis untuk menyampaikan berbagai kebutuhan jasmani, seperti rasa lapar yang menandakan mereka membutuhkan ASI, atau ketidaknyamanan akibat buang air kecil maupun besar.
Selain itu, tangisan juga bisa menjadi tanda bahwa mereka mencari kenyamanan, merasa kedinginan atau kepanasan, mengalami kolik atau perut kembung, atau bahkan mengalami kesulitan tidur meskipun sudah mengantuk.
Lingkungan yang terlalu ramai atau terlalu sepi juga dapat membuat bayi gelisah dan menangis sebagai respons. Menariknya, setiap tangisan memiliki pola dan karakteristik yang berbeda, yang seiring waktu dapat dikenali oleh orang tua sehingga mereka dapat merespons dengan lebih tepat dan efektif.
Secara umum, tangisan bayi memang berkaitan dengan kebutuhan jasmaninya. Namun, selain kebutuhan jasmani, bayi juga bisa menangis karena alasan emosional, seperti mencari kedekatan dan rasa aman dari orang tua atau merasa cemas akibat stimulasi berlebihan.
Jadi, meskipun faktor utama tangisan bayi adalah kebutuhan fisik, ada juga unsur emosional yang berperan dalam cara mereka berkomunikasi dengan dunia sekitarnya. Jika bayi terbiasa menangis untuk mendapatkan apapun yang diinginkan tanpa adanya proses pengasuhan yang mengajarkan regulasi emosi, maka saat tumbuh menjadi balita, mereka bisa menunjukkan perilaku tantrum atau meronta-ronta ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Hal ini terjadi karena pada usia balita, anak mulai mengembangkan kesadaran diri dan keinginan yang lebih kompleks, tetapi kemampuan mereka dalam mengelola emosi masih terbatas. Jika sejak kecil mereka tidak diajarkan cara menenangkan diri atau memahami batasan, mereka mungkin akan terus menggunakan tangisan dan tantrum sebagai cara utama untuk mendapatkan sesuatu.
Pola ini bisa berlanjut hingga dewasa dalam bentuk reaksi emosional yang lebih kompleks, seperti kemarahan, frustrasi, atau bahkan perilaku agresif ketika seseorang tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Jika seseorang sejak kecil terbiasa mendapatkan apapun melalui tangisan atau tantrum tanpa belajar bagaimana mengelola emosi dan menghadapi kekecewaan, maka saat dewasa mereka cenderung bereaksi dengan kemarahan atau ledakan emosi ketika menghadapi penolakan atau kegagalan.
Jadi, secara fisik sudah dewasa, tetapi secara emosional masih menunjukkan respons seperti anak kecil ketika keinginannya tidak terpenuhi. Mereka mungkin tidak lagi menangis atau meronta secara harfiah seperti balita, tetapi ekspresi emosinya bisa berupa kemarahan, ledakan emosi, menyalahkan orang lain, atau bahkan perilaku manipulatif untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Ini terjadi karena mereka tidak pernah benar-benar belajar bagaimana mengelola frustrasi dan menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Mereka mungkin tumbuh dalam lingkungan yang selalu memenuhi keinginannya tanpa batasan atau, sebaliknya, dalam lingkungan yang penuh tekanan tetapi tanpa bimbingan emosional yang memadai.
Perumpamaan “Nafsu bagaikan bayi; jika dibiarkan, ia akan terus menyusu, namun jika disapih, ia akan berhenti sendiri” menggambarkan sifat dasar hawa nafsu manusia. Seperti bayi yang secara alami selalu ingin menyusu, hawa nafsu cenderung terus meminta pemenuhan tanpa batas. Jika keinginan ini selalu dituruti, nafsu akan semakin kuat dan sulit dikendalikan, membuat seseorang semakin terikat pada keinginan duniawi.
Namun, jika seseorang mampu “menyapih” nafsunya dengan mengendalikan dorongan-dorongan negatif, maka lama-kelamaan nafsu akan melemah dan tunduk pada akal serta nilai-nilai yang lebih tinggi. Perumpamaan ini mengajarkan pentingnya pengendalian diri agar tidak selalu menuruti hawa nafsu yang dapat menjerumuskan ke dalam perilaku yang merugikan.
Puasa bukan hanya tentang mengendalikan kebutuhan jasmani seperti makan, minum, dan hubungan suami istri, tetapi juga tentang mengontrol hawa nafsu secara keseluruhan, termasuk emosi dan perilaku. Selain aspek fisik, puasa juga melatih disiplin diri, kesabaran, serta meningkatkan kesadaran spiritual dan ketakwaan kepada Sang Maha Sempurna.
Puasa sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk perilaku yang bisa menjauhkan kita dari kedekatan dengan Sang Maha Sempurna. Puasa dapat menjadi salah satu sarana untuk menjadikan jiwa semakin dewasa. Puasa mengajarkan kontrol diri, kesabaran, dan pengendalian emosi, yang semuanya berkontribusi pada kedewasaan jiwa.
Puasa juga meningkatkan kesadaran spiritual, mengajarkan kita untuk lebih memperhatikan aspek batin dan hubungan dengan Sang Maha Sempurna. Ketika kita mampu menahan diri dan tetap fokus pada tujuan spiritual, kita belajar untuk lebih bijaksana dalam bertindak, merespons tantangan, dan menghadapi berbagai ujian dalam kehidupan.
Dengan demikian, puasa dapat membantu memperbaiki kualitas jiwa, menjadikannya lebih matang dan dewasa dalam menghadapi kehidupan. Orang yang matang secara emosional memahami bahwa tidak semua hal bisa didapatkan, tahu bagaimana mengelola kekecewaan, dan mampu mencari solusi dengan tenang tanpa harus “meronta” seperti anak kecil. Inilah yang membedakan kedewasaan sejati dari sekadar bertambahnya usia.
@pakarpemberdayaandiri











