Oleh: Syahril Syam *)
Thích Nhất Hạnh, seorang master Zen Vietnam, membedakan antara kebahagiaan (kesenangan) yang bergantung pada kondisi luar dan sukacita yang berasal dari kesadaran penuh (mindfulness) dan apresiasi terhadap saat ini. Kesenangan yang bergantung pada eksternal – seperti pencapaian, pengalaman menyenangkan, mendapatkan sesuatu yang diinginkan, atau menghindari ketidaknyamanan – merupakan respons alami terhadap hal-hal yang kita anggap positif. Namun, kebahagiaan ini seringkali bersifat sementara karena bergantung pada keadaan luar yang bisa berubah. Kebahagiaan juga bisa bersifat internal, terutama ketika kita menemukan makna mendalam dalam hidup, menjalani rasa syukur, atau memiliki hubungan yang bermakna. Kebahagiaan yang lahir dari faktor-faktor internal ini lebih stabil dan dapat membawa pada sukacita.
Namun, yang membedakan sukacita adalah sifatnya yang lebih dalam dan bertahan lama, bahkan ketika keadaan tidak ideal. Kita bisa merasa sukacita meskipun sedang menghadapi tantangan, karena sukacita tidak hanya bergantung pada emosi sesaat, tetapi juga pada cara kita memandang dan menerima hidup. Sukacita (joy) adalah keadaan batin yang dalam dan bertahan lama, yang muncul dari rasa syukur, ketenangan, dan penerimaan terhadap hidup apa adanya.
Sukacita bukan sekadar perasaan senang yang muncul ketika sesuatu berjalan sesuai harapan. Sebaliknya, sukacita bisa tetap ada bahkan saat seseorang menghadapi tantangan atau kesulitan. Ini karena sukacita berakar pada cara kita memandang hidup, bukan hanya pada pengalaman sesaat.
Penelitian menunjukkan, anak-anak yang terlalu bergantung pada kebahagiaan dari luar, seperti mainan, camilan, atau waktu layar (waktu yang dihabiskan untuk menatap layar perangkat elektronik, seperti ponsel, tablet, komputer, dan televis), seringkali merasa hampa dan cemas saat kesenangan itu hilang. Data dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention) pada tahun 2024 menunjukkan bahwa sekitar 40% remaja mengalami perasaan sedih dan putus asa yang terus-menerus, sementara 20% di antaranya pernah mempertimbangkan bunuh diri dalam satu tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa pencarian kebahagiaan instan saja tidak cukup untuk membangun kesejahteraan emosional yang stabil.
Itulah sebabnya, membangun sukacita dalam diri anak memiliki banyak manfaat. Pertama, anak belajar untuk menerima dan mengelola semua jenis emosi, termasuk yang tidak nyaman. Kedua, sukacita membantu perkembangan otak dengan memperkuat jalur saraf yang mendukung ketenangan dan keseimbangan emosi. Ketiga, anak bisa menikmati kebahagiaan dari hal-hal sederhana, seperti bermain di luar, menggambar, atau tertawa bersama orang yang mereka cintai. Keempat, sukacita membangun ketahanan mental, membantu anak menghadapi tantangan dengan lebih baik. Dan yang tak kalah penting, sukacita memperkuat hubungan sosial, menciptakan ikatan yang bermakna dengan keluarga dan teman-teman.
Ketika anak-anak dibesarkan dengan sukacita sebagai fondasi, mereka lebih kreatif, ingin tahu, dan lebih terlibat dengan dunia di sekitar mereka. Mereka tidak hanya mengejar kesenangan sesaat, tetapi juga belajar menemukan kepuasan dalam setiap pengalaman, menjadikan mereka lebih kuat dan bahagia dalam jangka panjang.
Menumbuhkan sukacita dalam diri anak bukan tentang memberi mereka kesenangan instan, tetapi mengajarkan mereka untuk menemukan kebahagiaan dari dalam. Ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak-anak membangun sukacita yang mendalam dan bertahan lama. Pertama, ajarkan anak untuk menikmati momen saat ini.
Luangkan waktu bersama mereka untuk berjalan santai dan perhatikan suara burung, angin yang bertiup, atau aroma di sekitar. Biarkan mereka menikmati kegiatan sederhana seperti menggambar, membaca, atau menikmati camilan favorit tanpa terburu-buru.
Kedua, bantu anak mengenali dan menerima emosinya. Dorong mereka untuk membayangkan diri mereka sebagai wadah yang lembut dan nyaman bagi semua perasaan yang muncul, baik yang menyenangkan maupun yang menantang. Dengan begitu, mereka akan belajar untuk tidak menekan emosinya, tetapi mengelolanya dengan penuh kasih sayang.
Ketiga, jadilah contoh dalam menemukan sukacita. Anak-anak cenderung meniru orang dewasa di sekitarnya. Tunjukkan bagaimana kita menikmati hal-hal kecil dalam hidup, seperti tertawa, bersyukur, dan tetap hadir dalam setiap momen. Jika orang tua bisa mempertahankan niat untuk hidup dengan sukacita, anak-anak pun akan belajar melakukan hal yang sama.
Keempat, utamakan koneksi dan kebersamaan. Luangkan waktu berkualitas bersama anak-anak, misalnya dengan memasak bersama, bermain, atau sekadar berbicara tentang hari yang telah dilalui. Menciptakan ruang untuk komunikasi terbuka dan jujur adalah hal yang sangat penting. Kelima, beri anak waktu untuk bermain bebas. Dalam kehidupan modern, banyak anak terlalu sibuk dengan jadwal yang padat. Memberikan mereka waktu tanpa agenda dan tanpa ketergantungan pada gawai bisa sangat bermanfaat.
Bermain tanpa aturan tertentu membantu mereka mengembangkan imajinasi, kreativitas, dan menemukan apa yang benar-benar membuat mereka bahagia. Keenam, edukasi anak tentang teknologi dan batasi penggunaannya. Ajarkan mereka tentang dampak berlebihan dari penggunaan gawai dan media sosial terhadap kesehatan mental. Tetapkan batasan waktu penggunaan teknologi agar mereka lebih banyak terhubung dengan dunia nyata.
Pada akhirnya, membesarkan anak yang penuh sukacita bukan berarti melindungi mereka dari semua ketidaknyamanan atau selalu berusaha membuat mereka bahagia. Sebaliknya, ini tentang membantu mereka menemukan sumber kebahagiaan dalam diri mereka sendiri, sehingga mereka bisa menghadapi dunia dengan ketahanan, rasa syukur, dan hati yang terbuka.
@pakarpemberdayaandiri











