Kecewa Kepada Tuhan

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Secara ilmiah, aktivasi habenula bisa ikut berperan dalam munculnya rasa kecewa, bahkan ketika seseorang tidak secara sadar menyadarinya. Habenula adalah bagian kecil di otak yang berperan saat seseorang merasa gagal, tidak mendapatkan hasil yang diharapkan, atau mengalami kekecewaan.

Saat seseorang sering mengalami “kegagalan” menurut ekspektasinya sendiri, habenula bisa menjadi terlalu aktif dan memicu perasaan seperti: kehilangan semangat, merasa tidak berdaya, enggan mencoba lagi, bahkan, dalam konteks spiritual: merasa jauh dari Sang Maha Sempurna atau tidak didengar doanya.

Ketika seseorang sudah berdoa, berusaha taat, dan melakukan banyak kebaikan, tetapi hidupnya tetap terasa sulit, doanya belum juga terkabul, atau justru muncul ujian yang berat. Di permukaan, ia mungkin berkata, “Saya ikhlas”, atau “Ini semua sudah takdir”, tapi jauh di dalam hati, bisa saja ada suara kecil yang berkata, “Mengapa Sang Maha Sempurna tidak menolongku?” atau “Aku sudah berusaha, tapi kenapa begini?”

Perasaan seperti ini seringkali tidak disadari karena orang merasa tidak pantas marah atau kecewa kepada Sang Maha Sempurna, karena merasa berdosa atau tidak berhak mempertanyakan-Nya. Akibatnya, rasa kecewa itu tidak diakui, tapi mengendap. Lama-kelamaan, ini bisa berubah menjadi rasa jauh dari Sang Maha Sempurna, malas berdoa, kehilangan semangat ibadah, atau merasa hampa dalam menjalani spiritualitas.

Banyak orang tidak menyadari bahwa di balik ketidakkonsistenan beribadah, seperti shalat, bisa jadi tersembunyi rasa kecewa yang tidak pernah diproses dengan sadar. Seseorang pernah berada dalam fase sangat semangat beribadah – shalat tepat waktu, tahajud, dzikir, bahkan puasa sunnah. Ia melakukannya dengan harapan akan ada perubahan besar dalam hidupnya: rezeki lancar, hati tenang, masalah cepat selesai. Tapi ketika harapan itu tidak segera terpenuhi, pelan-pelan muncul rasa lelah, kecewa, bahkan marah yang tidak diucapkan. Ia mungkin berkata, “Saya sudah shalat, saya sudah berdoa, tapi kok hidup saya masih begini-begini saja?” Otak tidak bilang secara gamblang, “Aku kecewa pada Sang Maha Sempurna”, tapi gejalanya terasa: kehilangan harapan, kehilangan gairah untuk ibadah, atau justru merasa hampa meskipun sedang dalam rutinitas religius.

Karena tidak sadar bahwa yang ia rasakan adalah kecewa, ia pun mulai kehilangan semangat. Awalnya bolong shalat sekali dua kali, lalu jadi malas, kemudian lama-lama benar-benar berhenti. Tapi jika ditanya, ia tidak akan mengaku kecewa, karena kecewa pada Sang Maha Sempurna dianggap tabu, berdosa, atau tidak sopan. Akibatnya, kekecewaan itu justru menggerogoti motivasi spiritual dari dalam secara perlahan.

Banyak yang tidak menyadari bahwa Sang Maha Sempurna sudah memberi “peringatan lembut” bahwa dalam hidup ini, ujian itu pasti datang. Bentuknya bisa macam-macam: rasa takut, lapar, kekurangan harta, kehilangan orang tercinta, bahkan hasil kerja yang tidak sesuai harapan (diumpamakan sebagai buah-buahan yang berkurang). Dan semua itu bukan karena Sang Maha Sempurna tidak sayang, tapi karena Sang Maha Sempurna sedang mendidik hati, melatih keikhlasan, dan menguji kesabaran kita (QS 2:155).

Bagi orang-orang yang sedang merasa kecewa karena doa belum dikabulkan, atau merasa ibadah tidak langsung mengubah keadaan, maka ayat ini adalah pelukan dari langit. Bahwa Sang Maha Sempurna tahu semua rasa itu. Dan ujian seperti itu adalah bagian dari kasih sayang-Nya, agar kita bisa tumbuh, sabar, dan kembali kepada-Nya dengan cara yang lebih kuat dan penuh kesadaran.

Penting bagi kita untuk menyadari sinyal-sinyal halus dari rasa kecewa ini, bukan untuk menyalahkan diri, tapi untuk memeluk pengalaman itu dengan jujur. Dengan begitu, kita bisa menyembuhkan luka batin yang mungkin selama ini tak disadari, dan mulai menyusun ulang hubungan spiritual kita dengan cara yang lebih lembut dan penuh kasih kepada Sang Maha Sempurna.

Kadang, rasa kecewa itu begitu dalam, begitu menyakitkan, hingga kita merasa seolah-olah Sang Maha Sempurna tidak peduli, atau mungkin bahkan merasa terabaikan. Perasaan itu muncul secara perlahan, dan tanpa kita sadari, kecewa yang terus-menerus bisa berakhir dengan perasaan putus asa. Tapi, Sang Maha Sempurna tidak ingin kita terjebak dalam perasaan itu. Dia mengingatkan kita untuk tidak berputus asa, meskipun kita merasa telah gagal. Mengapa? Karena putus asa itu adalah lawan dari harapan, dan ketika kita kehilangan harapan, kita seakan-akan menutup pintu-pintu berkat-Nya.

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS 39:53). Sang Maha Sempurna secara tegas mewanti-wanti agar hamba-Nya jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya. Ini bukan sekadar perintah, tapi juga bentuk kasih sayang Sang Maha Sempurna yang sangat memahami sifat dasar manusia – mudah lelah, mudah kecewa, mudah merasa sia-sia. Sang Maha Sempurna tahu bahwa dalam perjalanan hidup, manusia bisa merasa gagal, merasa tak cukup, merasa doanya belum terkabul, atau merasa amal ibadahnya belum membuahkan perubahan seperti yang diharapkan.

Ayat ini turun bagi kita yang pernah gagal, pernah merasa lelah, pernah kecewa, bahkan melampaui batas. Peringatan untuk tidak berputus asa itu erat hubungannya dengan kondisi otak dan hati manusia yang rentan terhadap rasa kecewa. Karena rasa kecewa yang tak diatasi bisa pelan-pelan berubah menjadi rasa putus asa. Dan Sang Maha Sempurna tidak ingin hamba-Nya terjebak dalam kondisi itu. Sang Maha Sempurna tidak hanya menyuruh untuk tidak berputus asa, tapi juga mengajak untuk kembali dengan penuh kasih. Artinya, ketika kita mulai menjauh dari ibadah atau merasa doa kita tak kunjung terkabul, itu bukan sinyal untuk berhenti, tapi undangan lembut untuk kembali kepada pelukan kasih sayang-Nya.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *