Oleh: Syahril Syam *)
Ketika seseorang sedang duduk di meja makan, ia tahu bahwa ia sedang diet, tapi tanpa pikir panjang ia mengambil kue cokelat dan langsung memakannya. Setelah itu, ia baru sadar dan menyesal. Inilah gambaran sederhana dari kondisi tidak hadir secara sadar. Artinya, pada saat itu jiwa tidak aktif menyinari dan mengamati pengalaman yang sedang terjadi. Ia tidak mengarahkan tindakan dengan kesadaran yang jernih. Yang mengambil alih justru tubuh, emosi sesaat, dan kebiasaan lama yang berjalan otomatis.
Manusia memang sering masuk ke mode seperti ini – menjalani momen hidup hanya dengan reaksi spontan tanpa sempat bertanya dalam hati: “Apa ini selaras dengan niat dan nilai-nilai terbaikku?” Ketika kesadaran ruhaniah tidak hadir, tindakan pun mudah dipimpin oleh impuls, bukan oleh kehendak yang dalam dan sadar.
Dalam psikologi modern, kondisi dimana seseorang bertindak tanpa kesadaran penuh sering disebut sebagai “autopilot mode”. Ini adalah keadaan saat manusia merespons situasi secara otomatis – berdasarkan kebiasaan, dorongan emosional, atau reaksi biologis tubuh – tanpa benar-benar berpikir atau mempertimbangkan dampaknya secara sadar.
Pada saat seperti ini, fungsi jiwa sebagai pusat kesadaran tidak aktif atau tidak terlibat secara penuh. Artinya, jiwa tidak sedang mengamati apa yang sedang terjadi, tidak menyaring apa yang dirasakan, dan tidak mengarahkan tubuh untuk bertindak sesuai nilai yang diyakini. Akibatnya, tubuh cenderung mengambil alih kendali dan bertindak berdasarkan naluri atau impuls semata.
Dalam banyak kasus, keputusan yang lahir dari keadaan ini cenderung sesaat, tidak terarah, dan seringkali bertentangan dengan nilai-nilai moral atau tujuan jangka panjang seseorang – yang pada akhirnya bisa menimbulkan rasa sesal atau konflik batin.
Dalam pandangan Filsafat Hikmah, jiwa adalah entitas aktif dan bertingkat, artinya ia tidak statis – jiwa bisa tumbuh lebih tinggi atau justru merosot, tergantung dari kondisi batin dan pilihannya. Ketika jiwa dalam keadaan kuat, ia mampu mengarahkan hidup dengan penuh kesadaran, kehendak, dan nilai-nilai yang luhur. Namun, saat jiwa melemah – misalnya karena banyak berbuat maksiat, terlalu lelah secara ruhani, lalai dari tujuan hidup, atau terlalu tenggelam dalam urusan duniawi, maka jiwa tidak mampu mengaktualkan perannya sebagai pengendali. Ia seperti pengemudi yang tertidur di belakang kemudi.
Dalam kondisi seperti ini, yang mengambil alih adalah tubuh dan aspek paling bawah dari jiwa, yaitu jiwa hewani – bagian jiwa yang mendorong manusia bertindak berdasarkan syahwat, amarah, kemalasan, dan dorongan instingtif lainnya. Akibatnya, keputusan yang muncul pun cenderung reaktif, rendah, dan sering menjauhkan manusia dari kedamaian batin maupun pencerahan spiritual.
Ketika jiwa tidak hadir secara sadar, muncul beberapa konsekuensi penting yang seringkali berdampak negatif pada kehidupan seseorang. Pertama, keputusan diambil secara impulsif, bukan hasil pertimbangan akal sehat atau bisikan hati nurani, melainkan murni reaksi atas keinginan tubuh – entah itu lapar, marah, malas, atau dorongan lain yang muncul secara otomatis.
Kedua, setelah tindakan terjadi, jiwa biasanya mulai “sadar” kembali, dan di sinilah rasa penyesalan muncul, karena keputusan yang diambil ternyata tidak selaras dengan nilai yang diyakini. Ketiga, dan yang lebih dalam, setiap momen dimana jiwa absen dan membiarkan tubuh mengambil alih akan membuat jiwa makin lemah. Ini seperti membiarkan otot jiwa tidak digunakan, hingga lama-lama kehilangan kekuatan untuk memimpin. Sebaliknya, tubuh dan sisi hewani dalam diri semakin dominan, menciptakan pola hidup yang reaktif, dangkal, dan jauh dari pertumbuhan spiritual.
Untuk membuat jiwa hadir secara sadar dan mampu memimpin tubuh, kuncinya terletak pada dua hal utama: memperkuat kesadaran eksistensial jiwa dan melemahkan dominasi dorongan-dorongan tubuh seperti syahwat, amarah, dan kemalasan. Hal ini sangat terkait dengan konsep gerak substansial, yakni pandangan bahwa jiwa tidak statis, tetapi terus bergerak dalam eksistensinya, dari bentuk yang lebih rendah menuju tingkat kesempurnaan yang lebih tinggi. Jiwa memiliki potensi untuk naik derajat eksistensial, yakni bergerak dari potensi menuju aktual, dari wilayah jasmani menuju alam akal.
Pergerakan ini hanya mungkin jika jiwa aktif menyadari dan mengarahkan setiap tindakannya – bukan membiarkan tubuh, yang sifatnya sementara, otomatis, dan reaktif, menjadi pengendali utama. Ketika kesadaran jiwa diaktifkan dalam setiap tindakan – baik saat makan, berbicara, berpikir, atau memilih jalan hidup – maka jiwa sedang menjalani proses penyempurnaan dirinya. Sebaliknya, jika jiwa pasif dan tidak hadir, tubuh akan mengambil alih, dan ini memperlambat bahkan bisa menghambat gerak naik eksistensial jiwa. Maka dari itu, praktik spiritual seperti muraqabah (pengawasan diri), riyaḍah (latihan batin), dan tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa) menjadi penting sebagai cara agar jiwa tidak tertidur, melainkan tetap terjaga sebagai pemimpin sejati kehidupan manusia.
@pakarpemberdayaandiri




