Oleh: Syahril Syam *)
Penting bagi kita menyadari bahwa hidup ini ibarat berada di dalam sebuah ruang ujian yang besar. Setiap niat kita, setiap pilihan yang kita buat, bahkan tindakan sederhana seperti menunda atau memilih untuk diam, semuanya tetap masuk dalam penilaian. Banyak orang mengira bahwa dengan tidak memilih atau tidak berbuat apa-apa, mereka sedang bersikap netral. Padahal, di dalam ruang ujian, tidak mengisi jawaban sama artinya dengan membuat sebuah keputusan – keputusan untuk tidak menjawab. Dan seperti halnya jawaban yang salah atau benar, keputusan itu tetap memiliki konsekuensinya sendiri. Jadi, setiap momen dalam hidup, sekecil apapun, sebenarnya adalah bagian dari ujian yang sedang berlangsung, dan tidak ada satupun yang benar-benar luput dari penilaian.
Itu karena manusia, menurut pandangan filsafat Islam, adalah makhluk yang secara hakikat tidak pernah benar-benar diam. Meski tubuhnya tampak tidak bergerak, inti keberadaannya – substansi jiwanya – selalu mengalami perubahan dan pergerakan yang disebut sebagai gerak substansial. Ini bukan sekadar gerakan fisik atau perubahan pikiran, melainkan transformasi mendalam yang terjadi terus-menerus dalam struktur terdalam dari eksistensi manusia. Karena itu, manusia tidak bisa netral dalam hidup. Ia selalu bergerak menuju salah satu dari dua arah: mendekati kesempurnaan, yaitu kebaikan, cahaya, dan makna; atau menjauh darinya, menuju kehinaan, kegelapan, dan kehampaan. Dalam kerangka ini, bahkan diam pun adalah bagian dari arah gerak yang menentukan kondisi jiwa dan akhir dari perjalanan eksistensialnya.
Dengan kata lain, berdiam diri bukan berarti tidak memilih. Ketika seseorang memilih untuk “netral” dalam situasi yang menuntut sikap – misalnya ketika melihat ketidakadilan tapi tidak bersuara – ia sebenarnya sudah membuat pilihan, yaitu memilih untuk tidak bertanggung jawab. Dan dalam pandangan eksistensial, setiap keputusan – termasuk membiarkan atau tidak peduli – akan membentuk kualitas jiwa kita. Netral bukan berarti bebas dari penilaian. Karena diam pun adalah tindakan, dan setiap tindakan memberi pengaruh terhadap siapa kita menjadi. Kita tidak bisa lari dari kenyataan bahwa hidup ini adalah proses menjadi, dan dalam proses itu, tidak mungkin ada yang netral.
Maka, bersikap netral atau pasif pun adalah bentuk gerakan, dan bisa jadi mengarah ke keterpurukan karena tidak mengoptimalkan potensi eksistensialnya. Dalam sistem nilai eksistensial, nilai tidak hanya ditentukan oleh tindakan luar, tapi oleh kualitas eksistensi dan kesadaran batiniah seseorang. Seorang yang “netral” – tidak membela kebenaran atau tidak menolak keburukan – tetap diperhitungkan secara moral dan spiritual, karena diam saat kebenaran membutuhkan suara bisa jadi bentuk kelalaian atau pembiaran terhadap kehancuran. Setiap tindakan, niat, bahkan ketiadaan aksi adalah pilihan eksistensial. Jadi, “netralitas” bukan posisi aman, melainkan bentuk keputusan eksistensial yang tetap menghasilkan efek terhadap struktur jiwa dan tingkat kesadaran.
Banyak orang merasa dirinya netral, padahal tanpa sadar mereka sudah memilih sikap eksistensial tertentu. Berikut adalah beberapa situasi umum dimana seseorang cenderung mengira dirinya netral, padahal sebenarnya tidak. Pertama, Ketika Melihat Ketidakadilan Tapi Tidak Bertindak. Seseorang mungkin merasa, “Saya tidak ikut-ikutan, saya netral.” Padahal diam dalam situasi seperti itu adalah bentuk pembiaran. Dalam filsafat eksistensial, itu berarti menyetujui dengan pasif. Kedua, Ketika Menghindari Konflik Demi Kenyamanan Pribadi. Dalam rapat kerja, seseorang melihat keputusan yang tidak etis atau tidak adil, tapi dia memilih diam supaya tidak dimusuhi atau kehilangan posisi. Ia merasa netral, “Saya hanya tidak mau ribut.” Padahal, menghindari kebenaran demi kenyamanan pribadi adalah bentuk pemihakan yang halus terhadap status quo.
Ketiga, Ketika Tidak Mau Memihak dalam Isu Moral atau Sosial. Misalnya isu korupsi, kemiskinan, ketimpangan gender, atau lingkungan. Seseorang berkata, “Saya tidak ikut urusan politik atau sosial, saya netral.” Padahal, tidak memihak pada keadilan ketika ada ketidakadilan berarti membiarkan ketidakadilan tetap berjalan. Keempat, Ketika Tidak Memutuskan dalam Perjalanan Hidup Spiritual. Banyak orang berkata, “Saya belum ingin terlalu religius, saya di tengah-tengah saja.” Tapi eksistensi manusia terus berubah – jika tidak mendekat ke cahaya, maka sedang menjauh darinya. Maka, menunda pun adalah pilihan eksistensial, bukan netralitas.
Kelima, Ketika Bersikap “Objektif” Tapi Justru Menyembunyikan Nilai. Kadang seseorang berkata, “Saya hanya melihat secara objektif, tanpa nilai.” Namun, tidak ada cara pandang yang bebas nilai, karena semua persepsi dan penilaian selalu berasal dari kondisi kesadaran si subjek. Maka, klaim objektivitas total bisa jadi bentuk penyamaran nilai. Orang sering merasa netral ketika memilih diam, menghindari konflik, mengutamakan kenyamanan pribadi, menunda kebaikan, atau menyembunyikan sikap atas nama “objektivitas”. Padahal semua itu tetap pilihan yang membentuk kualitas eksistensial kita, karena hidup adalah gerakan terus-menerus yang tidak bisa dihentikan.
Karena setiap sikap batin dan keputusan lahir pasti punya nilai eksistensial dan konsekuensi spiritual, maka setiap sikap batin adalah pilihan eksistensial yang membentuk jiwa kita. Dalam kasus penindasan terhadap rakyat Palestina, jika seseorang berkata, “Saya netral saja, tidak mau berpihak.” Padahal ia tahu bahwa ada pembunuhan sipil, penjajahan, dan perampasan hak, maka menurut prinsip gerak substransi, itu bukan netral, melainkan ketidakpedulian terhadap kebenaran, yang berarti memilih untuk tidak membela yang hak. Tidak memilih berpihak kepada yang tertindas adalah sikap yang membiarkan penindasan terus terjadi. Maka, dalam konflik seperti Iran vs Israel atau penjajahan Palestina, tidak berpihak pun tetap dinilai – dan bisa menjadi bentuk kelalaian moral. Dalam konflik moral dan kemanusiaan, “netral” hanyalah ilusi.
@pakarpemberdayaandiri




