JAKARTA, KINERJAEKSELEN.CO — Tiga indikator makroekonomi utama yang dirilis pada Senin (2/11/2026) mempertegas resiliensi dan ketangguhan perekonomian Indonesia ditengah ketidakpastian global. Fondasi yang solid ini menjadi modal kuat sekaligus sinyal positif bagi pasar menjelang publikasi resmi data Pertumbuhan Ekonomi (PDB) Indonesia Triwulan III-2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 November mendatang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa kombinasi antara inflasi yang terkendali, kembalinya ekspansi agresif sektor manufaktur, dan ketahanan kinerja ekspor membuktikan keberhasilan bauran kebijakan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Jaga Daya Beli: Inflasi Oktober Berada di Rentang Sasaran
Realisasi inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23% (yoy), aman berada di dalam koridor target nasional 2,5±1%.
Inflasi Inti: Melandai di angka 2,56% (yoy), mengonfirmasi stabilitas tekanan harga domestik yang terkendali.
Administered Prices (AP): Terjaga pada level 3,24% (yoy), dipengaruhi penyesuaian biaya fuel surcharge penerbangan domestik kelas ekonomi.
Volatile Food (VF): Mengalami tekanan hingga 5,81% (yoy) akibat kenaikan harga komoditas hortikultura (cabai dan tomat) sebagai dampak perpanjangan musim kemarau oleh fenomena El Niño.
Pemerintah terus memperkuat mitigasi akhir tahun melalui optimalisasi pengelolaan irigasi, pengaturan pola tanam, Kerja Sama Antar Daerah (KAD), serta Early Warning System untuk memetakan wilayah rawan pasokan guna mengantisipasi lonjakan permintaan jelang Natal dan Tahun Baru.
Ketahanan Eksternal: Surplus Neraca Perdagangan Tiga Bulan Beruntun
Kinerja sektor eksternal terus menunjukkan tren positif dengan pembukuan surplus neraca perdagangan sebesar USD3,36 miliar pada September 2026.
Nilai Ekspor: Mencapai USD27,59 miliar (naik 3,68% mtm atau 11,87% yoy), ditopang oleh kenaikan harga komoditas andalan seperti batu bara, gas alam, CPO, karet, serta bijih besi dan tembaga.
Akses Pasar Global: Outlook ekspor diperkuat oleh kelanjutan program hilirisasi dan implementasi 25 perjanjian perdagangan internasional, termasuk rencana pemberlakuan kemitraan strategis Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dalam waktu dekat.
Substitusi Impor & Energi: Total impor tercatat USD24,23 miliar. Menariknya, impor migas berhasil ditekan turun sebesar 7,35% (mtm) menjadi USD3,27 miliar, sebuah pembuktian konkret atas keberhasilan implementasi program B50 yang telah berjalan sejak 1 Juli 2026. Sementara itu, impor bahan baku dan barang modal tetap tumbuh subur mencerminkan gairah input industri dalam negeri.
Optimisme Dunia Usaha: PMI Manufaktur Sentuh Level Tertinggi Dua Tahun
Sektor riil mencatatkan performa gemilang di mana Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia Oktober 2026 melonjak ke level 54,0 dari posisi bulan sebelumnya sebesar 52,4.
Rekor Baru: Lonjakan ini menandai ekspansi selama dua bulan berturut-turut sekaligus menjadi pertumbuhan kondisi manufaktur terkuat sejak Maret 2024.
Daya Dorong Utama: Akselerasi dipicu oleh laju permintaan baru domestik tercepat dalam 5 tahun terakhir, serta rekor pertumbuhan pesanan ekspor baru tertinggi sejak survei ini diinisiasi pada April 2011.
Guna menjaga momentum ekspansi ini, pemerintah berkomitmen memperluas instrumen pembiayaan strategis dan insentif sektor produktif seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Alsintan, Kredit Industri Padat Karya (KIPK), dan Kredit Program Perumahan, yang diimbangi dengan program pelatihan vokasi tenaga kerja.
“Kita ingin pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditopang oleh peningkatan permintaan (demand side), tetapi juga oleh penguatan kapasitas produksi dan daya saing ekonomi nasional (supply side),” pungkas Menko Airlangga Hartarto.
[KE/Red]











