Asal-Usul Tindakan Manusia: Bagaimana Tindakan Membentuk Siapa Kita

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Dalam artikel The Essence and Origins of Action in Mullā Sadrā’s Philosophy of Action, Ahmad Fazeli mengkaji pertanyaan mendasar tentang bagaimana tindakan manusia bermula, apa yang membuat seseorang akhirnya bertindak, dan bagaimana tindakan tersebut berkaitan dengan kebebasan serta perkembangan diri manusia.

Pertanyaan ini penting karena kehidupan sehari-hari memperlihatkan kenyataan yang seringkali membingungkan: seseorang dapat mengetahui apa yang benar, memahami apa yang baik, bahkan memiliki niat untuk melakukannya, tetapi tetap tidak bertindak sesuai dengan pengetahuannya.

Seseorang mengetahui bahwa meminta maaf adalah tindakan yang tepat, tetapi memilih mempertahankan harga dirinya. Seseorang memahami pentingnya menjaga kesehatan, tetapi terus mengikuti kebiasaan yang merugikan. Persoalannya, mengapa pengetahuan yang benar tidak selalu menghasilkan tindakan yang sesuai?

Untuk menjawabnya, pemikiran Mulla Sadra membantu kita melihat bahwa tindakan manusia tidak muncul hanya karena seseorang mengetahui sesuatu. Ada proses yang melibatkan cara seseorang memahami kenyataan, apa yang diinginkannya, bagaimana keinginannya menguat menjadi kehendak, dan apakah ia memiliki kemampuan untuk mewujudkannya.

Untuk memahami persoalan tersebut, kita perlu membedakan gerakan yang berlangsung secara otomatis dari tindakan yang dilakukan dengan pengetahuan dan kehendak. Bernapas, misalnya, pada umumnya berlangsung tanpa harus diputuskan secara sadar.

Sebaliknya, ketika seseorang memilih untuk meminta maaf, membantu orang lain, menolak godaan, atau menyembunyikan kebenaran, tindakannya melibatkan proses yang lebih kompleks. Ia berhadapan dengan suatu keadaan, memahami keadaan tersebut dengan cara tertentu, mempertimbangkan apa yang dianggap penting, lalu bertindak berdasarkan dorongan yang muncul dalam dirinya. Karena itu, tindakan sukarela tidak cukup dijelaskan sebagai rangsangan yang langsung menghasilkan gerakan tubuh.

Dalam rekonstruksi teori tindakan Mulla Sadra yang dibahas Fazeli, jiwa merupakan prinsip yang menyatukan seluruh proses tersebut. Pengetahuan, keinginan, kehendak, dan kemampuan bukanlah entitas yang berdiri sendiri-sendiri dan kemudian bekerja secara terpisah. Semuanya merupakan daya atau fungsi yang berhubungan dalam satu kehidupan jiwa. Keadaan dari setiap daya dapat memengaruhi bagaimana tindakan terbentuk, tetapi tindakan yang terwujud merupakan hasil dari keseluruhan proses yang saling berkaitan.

Dengan demikian, untuk memahami mengapa seseorang melakukan sesuatu, kita tidak cukup bertanya apa yang diketahuinya. Kita juga perlu memahami bagaimana pengetahuan itu dimaknai, apa yang diinginkan, keinginan mana yang akhirnya menguat, serta apakah keinginan tersebut dapat diwujudkan dalam tindakan nyata.

Secara sederhana, proses tindakan sukarela dapat digambarkan sebagai berikut: seseorang mengenali sesuatu, menilainya memiliki arti atau manfaat, menginginkannya, kemudian keinginan tersebut menguat menjadi kehendak untuk bertindak. Selanjutnya, ia menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk melaksanakan tindakan tersebut. Urutan ini merupakan penyederhanaan untuk membantu kita memahami hubungan antarkomponen, bukan berarti setiap tindakan manusia selalu berlangsung melalui tahapan yang sepenuhnya terpisah atau disadari satu per satu. Dalam kehidupan nyata, sebagian proses berlangsung cepat, saling memengaruhi, dan bahkan terjadi tanpa refleksi yang mendalam.

Tahap pertama berkaitan dengan pengenalan atau cognizance. Pengenalan bukan hanya berarti mengetahui fakta secara objektif, tetapi juga mencakup bagaimana seseorang menangkap, membayangkan, dan menafsirkan suatu keadaan. Manusia tidak merespons kenyataan semata-mata sebagaimana kenyataan itu ada, melainkan juga berdasarkan bagaimana kenyataan tersebut hadir dalam pemahamannya. Hal ini menjelaskan mengapa dua orang dapat mengalami peristiwa yang sama, tetapi memberikan respons yang sangat berbeda.

Bayangkan seorang pegawai yang menerima kritik dari atasannya. Pegawai pertama memahami kritik tersebut sebagai informasi yang dapat membantunya memperbaiki pekerjaan. Ia mungkin merasa tidak nyaman, tetapi tetap mampu mempertimbangkan isi kritik secara objektif. Pegawai kedua memaknai kritik yang sama sebagai penghinaan atau tanda bahwa dirinya tidak dihargai. Akibatnya, ia menjadi marah, bersikap defensif, atau berusaha membalas atasannya. Peristiwanya sama, tetapi cara keduanya memahami peristiwa itu berbeda. Perbedaan pemahaman inilah yang dapat memengaruhi munculnya keinginan dan tindakan berikutnya.

Dari sini kita dapat memahami bahwa tindakan seseorang tidak selalu didasarkan pada pengetahuan yang benar. Seseorang dapat bertindak berdasarkan dugaan, bayangan, prasangka, atau penilaian yang keliru tentang apa yang akan diperolehnya. Ia mungkin meyakini bahwa membalas penghinaan akan mengembalikan harga dirinya, padahal tindakan tersebut justru memperburuk hubungan.

Dalam keadaan demikian, tindakannya mungkin terasa masuk akal dari sudut pandang subjektifnya, tetapi belum tentu tepat jika dinilai berdasarkan kenyataan yang lebih luas. Oleh karena itu, ketika seseorang melakukan tindakan yang merugikan, kita tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa ia sengaja memilih keburukan setelah memahami seluruh persoalan dengan benar. Bisa jadi, sejak awal ia telah membangun pemahaman yang tidak akurat mengenai situasi yang dihadapinya.

Meskipun seseorang mengetahui bahwa suatu tindakan itu baik, pengetahuan tersebut belum tentu menggerakkannya. Agar pengetahuan berhubungan dengan tindakan, sesuatu yang diketahui perlu memiliki arti bagi dirinya sebagai sesuatu yang ingin dicapai, dipertahankan, didekati, atau justru dihindari. Di sinilah keinginan memainkan peranan penting.

Dalam kerangka Mulla Sadra, proses ini berkaitan dengan daya penggerak hasrat, yang dalam istilah Arab disebut al-quwwah al-nuzū‘iyyah. Daya ini berhubungan dengan kecenderungan untuk mencari sesuatu yang dianggap menyenangkan atau bermanfaat, sekaligus menghindari sesuatu yang dianggap menyakitkan, mengancam, atau tidak menyenangkan.

Sebagai contoh, seseorang mengetahui bahwa olahraga bermanfaat bagi kesehatan, tetapi pengetahuan itu belum tentu membuatnya ingin berolahraga. Pada saat yang sama, ia mungkin sangat menginginkan kenyamanan, sehingga memilih tetap berbaring daripada memulai aktivitas fisik. Dalam keadaan tersebut, masalahnya bukan semata-mata kekurangan informasi. Ia sudah mengetahui manfaat olahraga, tetapi manfaat itu belum cukup kuat untuk mengalahkan daya tarik kenyamanan yang dapat diperolehnya saat itu. Dengan kata lain, sesuatu dapat dinilai baik oleh akal, tetapi belum menjadi sesuatu yang cukup diinginkan untuk menggerakkan perilaku.

Pada titik ini, kita dapat memahami hubungan antara keinginan dan tiga daya jiwa yang dibahas dalam antropologi Mulla Sadra, yaitu daya yang berkaitan dengan syahwat, amarah, dan rasionalitas. Syahwat berkaitan dengan kecenderungan memperoleh kenikmatan atau memenuhi kebutuhan, sedangkan amarah berkaitan dengan pertahanan diri, menghadapi ancaman, dan mengatasi hambatan.

Adapun daya rasional memungkinkan manusia mempertimbangkan tujuan, hubungan antarkepentingan, serta akibat tindakannya secara lebih menyeluruh. Ketiganya bukan tiga jiwa yang terpisah, melainkan daya-daya dalam satu jiwa manusia.

Misalnya, seseorang ingin menyantap makanan yang disukainya, tetapi ia juga ingin menjaga kesehatannya. Keinginan untuk menikmati makanan tersebut tidak harus dihilangkan. Ia dapat tetap menginginkannya, tetapi memilih membatasi konsumsi karena menilai kesehatan jangka panjang lebih penting daripada kepuasan sesaat.

Di sini, rasionalitas tidak harus memusuhi keinginan. Rasionalitas justru berperan mengarahkan dan menempatkan keinginan dalam hubungan dengan tujuan yang lebih luas. Dengan demikian, persoalan pentingnya bukan bagaimana menghapus seluruh keinginan, melainkan bagaimana mengatur hubungan antarkeinginan agar tindakan tidak semata-mata ditentukan oleh dorongan yang paling menarik pada saat itu.

Setelah keinginan muncul, masih ada persoalan lain: apakah keinginan tersebut cukup kuat untuk menghasilkan keputusan bertindak? Di sinilah perbedaan antara keinginan dan kehendak menjadi penting. Seseorang dapat menginginkan suatu hasil tanpa benar-benar menetapkan dirinya untuk mengejarnya. Ia mungkin ingin meminta maaf, tetapi mengurungkan niat karena takut terlihat lemah. Ia ingin menyelesaikan pekerjaan, tetapi terus menunda karena aktivitas lain terasa lebih menyenangkan. Ia ingin mengubah kebiasaan buruk, tetapi kembali mengulanginya ketika menghadapi tekanan.

Dalam pembahasan Fazeli mengenai Mulla Sadra, kehendak berkaitan erat dengan keinginan yang menguat hingga membentuk dorongan yang lebih definitif untuk bertindak. Artinya, kehendak bukanlah kekuatan misterius yang muncul dari luar jiwa untuk mengalahkan semua keinginan. Kehendak berhubungan dengan proses internal ketika suatu keinginan menjadi cukup menentukan bagi tindakan. Meskipun demikian, hubungan tersebut tidak perlu dipahami sebagai rumus psikologis yang kaku. Manusia dapat mengalami konflik motivasi, mempertimbangkan beberapa tujuan, mengubah keputusan, dan menahan dorongan yang kuat melalui pertimbangan rasional.

Perbedaan ini membantu menjelaskan mengapa niat baik seringkali tidak bertahan ketika seseorang menghadapi godaan atau tekanan. Seseorang mungkin benar-benar ingin hidup lebih sehat, tetapi pada saat menghadapi makanan yang disukainya, keinginan untuk menikmati kepuasan segera menjadi lebih dominan. Ia bukan tidak memiliki tujuan jangka panjang. Tujuan itu tetap ada, tetapi dalam situasi konkret, tujuan tersebut kalah menentukan dibandingkan dorongan yang lebih kuat atau lebih dekat dengan dirinya.

Namun, kita perlu membedakan kekuatan kehendak dari kebenaran tindakan. Keinginan yang sangat kuat tidak otomatis menghasilkan tindakan yang baik. Seseorang dapat memiliki kehendak yang kuat untuk membalas dendam, memanipulasi orang lain, atau mempertahankan keyakinan yang keliru.

Karena itu, persoalannya bukan hanya bagaimana membuat kehendak menjadi kuat, tetapi juga bagaimana memastikan bahwa kehendak tersebut diarahkan oleh pemahaman yang tepat dan pertimbangan rasional yang memadai. Kehendak yang kuat tanpa arah yang benar justru dapat membuat seseorang semakin konsisten melakukan kesalahan.

Sekalipun seseorang telah memahami apa yang perlu dilakukan dan sungguh-sungguh menghendakinya, tindakan belum tentu berhasil terlaksana. Setiap tindakan membutuhkan kemampuan tertentu, baik berupa pengetahuan praktis, keterampilan, sumber daya, kesempatan, maupun kondisi fisik yang memadai.

Seseorang mungkin ingin menolong korban kecelakaan, tetapi tidak mengetahui cara memberikan pertolongan pertama. Seseorang mungkin berniat menyelesaikan pekerjaannya, tetapi tidak memiliki waktu, peralatan, atau dukungan yang diperlukan. Dalam keadaan demikian, hambatan tindakan tidak dapat dijelaskan hanya dengan mengatakan bahwa orang tersebut kurang memiliki motivasi.

Dalam kerangka yang direkonstruksi Fazeli, kemampuan perlu dibedakan dari daya fisik yang menjalankan tindakan. Kemampuan berkaitan dengan kondisi atau kapasitas yang memungkinkan seseorang melakukan sesuatu, sedangkan pelaksanaan melibatkan daya penggerak tubuh dan anggota badan yang mewujudkan tindakan tersebut. Pembedaan ini membantu kita memahami bahwa mengetahui, menginginkan, dan memutuskan sesuatu tidak selalu cukup untuk menghasilkan keberhasilan. Ada jarak antara memutuskan untuk melakukan sesuatu dan benar-benar mampu melakukannya dalam keadaan tertentu.

Karena itu, kegagalan bertindak tidak selalu menunjukkan kelemahan moral. Seseorang yang belum berhasil membantu orang lain mungkin membutuhkan keterampilan, bukan sekadar dorongan untuk menjadi lebih peduli. Orang yang kesulitan mengubah kebiasaan mungkin membutuhkan strategi, lingkungan yang mendukung, dan langkah-langkah praktis yang dapat dijalankan secara konsisten.

Dalam konteks ini, upaya memperbaiki tindakan perlu mempertimbangkan dua hal sekaligus: apakah seseorang memang menghendaki tujuan tersebut dan apakah ia memiliki kapasitas nyata untuk mewujudkannya. Motivasi tanpa kemampuan dapat berakhir sebagai niat yang tidak terlaksana, sedangkan kemampuan tanpa arah yang tepat belum tentu menghasilkan tindakan yang baik.

Walaupun asal-usul tindakan sukarela memiliki hubungan internal dengan jiwa, manusia tidak bertindak dalam ruang hampa. Lingkungan, kesempatan, kondisi tubuh, tekanan sosial, dan situasi yang sedang dihadapi dapat memengaruhi bagaimana suatu tindakan terbentuk dan terlaksana.

Seseorang yang biasanya mampu mengendalikan kemarahan mungkin memberikan respons berbeda ketika mengalami kelelahan berat atau berada dalam situasi yang dirasakannya mengancam. Seseorang yang memiliki niat baik mungkin lebih mudah melaksanakannya ketika mendapat dukungan, tetapi mengalami kesulitan ketika lingkungannya justru mendorong perilaku yang berlawanan.

Pengaruh lingkungan ini tidak berarti bahwa manusia sekadar menjadi korban keadaan. Lingkungan dapat memberikan peluang, hambatan, atau tekanan, tetapi pengaruhnya tetap berkaitan dengan cara seseorang memahami situasi, mengelola keinginan, mengambil keputusan, dan menggunakan kemampuannya. Sebaliknya, keputusan seseorang juga dapat mengubah lingkungannya, misalnya dengan memilih teman yang mendukung kebiasaan sehat atau membatasi situasi yang berulang kali memicu perilaku merugikan.

Dengan demikian, hubungan antara manusia dan lingkungan berlangsung secara timbal balik. Tindakan dipengaruhi oleh kondisi yang dihadapi, sementara tindakan juga dapat mengubah kondisi yang akan dihadapi berikutnya.

Jika seluruh unsur ini disatukan, kita memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang asal-usul tindakan manusia. Pengenalan memberikan pemahaman mengenai sesuatu yang dihadapi, keinginan membuat sesuatu itu bernilai bagi pelaku, kehendak mengarahkan keinginan menuju tindakan tertentu, dan kemampuan memungkinkan keputusan diwujudkan. Daya penggerak tubuh kemudian menjalankan tindakan sesuai dengan kapasitas dan keadaan yang tersedia. Seluruh proses tersebut berlangsung dalam satu jiwa, tetapi tidak terlepas dari lingkungan dan kondisi nyata.

Dalam kerangka metafisika Mulla Sadra, keberadaan jiwa dan seluruh daya yang dimilikinya juga bergantung secara ontologis kepada Allah. Dimensi ini merupakan bagian dari pandangan metafisika Sadra, bukan kesimpulan yang dapat dibuktikan hanya melalui penelitian psikologi atau neurosains.

Salah satu gagasan filosofis yang paling penting dalam pemikiran Mulla Sadra adalah bahwa tindakan manusia tidak hanya menjadi hasil dari keadaan dirinya, tetapi juga ikut menentukan perkembangan dirinya. Untuk memahami gagasan ini, kita perlu melihat jiwa bukan sekadar sebagai tempat pikiran, perasaan, dan keinginan muncul. Jiwa merupakan prinsip kehidupan yang menyatukan berbagai daya manusia dan menjadi dasar bagi aktivitasnya.

Karena jiwa dan daya-dayanya tidak berdiri sebagai entitas yang terpisah, tindakan sukarela dapat dipahami sebagai aktualisasi jiwa itu sendiri. Ketika seseorang bertindak, ia bukan hanya menggerakkan tubuhnya untuk menghasilkan suatu akibat di luar dirinya. Ia juga menjalani proses yang dapat mengubah kecenderungan, kebiasaan, dan arah perkembangan dirinya.

Bayangkan dua orang yang sama-sama sering menerima kritik. Orang pertama berusaha memahami isi kritik, memeriksa apakah kritik itu benar, dan memperbaiki kesalahan yang memang perlu diperbaiki. Ia tetap dapat merasa tersinggung, tetapi tidak membiarkan perasaan tersebut menentukan seluruh responsnya. Orang kedua cenderung memandang setiap kritik sebagai ancaman, segera membalas dengan kemarahan, dan menolak setiap kesempatan untuk mengevaluasi diri. Jika pola ini berulang, keduanya dapat semakin terbiasa memberikan respons yang berbeda. Orang pertama berlatih menghadapi kritik melalui refleksi, sedangkan orang kedua semakin menguatkan kecenderungan defensifnya.

Dari sudut pandang psikologi modern, pola tersebut dapat dibahas melalui konsep pembentukan kebiasaan, pembelajaran, dan perubahan kecenderungan respons. Dalam interpretasi filsafat Sadra, proses itu dapat dipahami lebih mendalam sebagai bagian dari perkembangan eksistensial jiwa melalui tindakan yang berulang. Kedua pendekatan tersebut dapat saling membantu dalam menjelaskan fenomena yang sama, tetapi tidak boleh dianggap identik.

Perubahan kebiasaan dalam psikologi tidak dengan sendirinya membuktikan teori metafisika Sadra tentang perkembangan jiwa. Sebaliknya, teori Sadra memberikan kerangka filosofis untuk memikirkan mengapa tindakan memiliki arti lebih luas daripada sekadar menghasilkan perilaku sesaat.

Implikasinya sangat penting bagi pemahaman kita tentang perubahan diri. Setiap kali seseorang memilih untuk bersikap jujur ketika berbohong terasa lebih menguntungkan, menahan diri ketika amarah mendorongnya menyerang, atau mengakui kesalahan ketika harga dirinya terasa terancam, ia bukan hanya menyelesaikan satu persoalan. Ia juga sedang memperkuat pola respons tertentu melalui tindakannya. Hal yang sama berlaku ketika seseorang berulang kali menghindari tanggung jawab, mengikuti dorongan sesaat, atau membenarkan perilaku yang merugikan. Tindakan yang berulang dapat memperkuat kecenderungan yang sama, meskipun perubahan tetap mungkin terjadi melalui pengalaman, pembelajaran, dan keputusan baru.

Oleh karena itu, dalam kerangka Sadra, perubahan diri tidak cukup dipahami sebagai penambahan pengetahuan atau penggantian pikiran negatif dengan pikiran positif. Perubahan juga berkaitan dengan bagaimana seseorang mengarahkan keinginannya, membentuk kehendak, mengembangkan kemampuan, dan menerjemahkan pemahamannya ke dalam tindakan nyata. Pengetahuan tetap penting, tetapi pengetahuan perlu menjadi bagian dari kehidupan yang dijalani.

Keinginan juga penting, tetapi perlu diarahkan. Kehendak diperlukan, tetapi perlu didukung oleh kemampuan dan pelaksanaan. Melalui keseluruhan proses tersebut, tindakan bukan hanya menjadi bukti keadaan seseorang saat ini, melainkan juga salah satu jalan yang melaluinya dirinya berkembang.

Pemikiran Mulla Sadra sebagaimana direkonstruksi dalam pembahasan Fazeli memberikan kerangka yang berguna untuk memahami kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan. Seseorang dapat mengetahui kebaikan tanpa menginginkannya secara memadai; dapat menginginkannya tanpa menetapkannya sebagai kehendak yang menentukan; dapat menghendakinya tanpa memiliki kemampuan yang cukup; dan dapat memiliki seluruh unsur tersebut, tetapi tetap menghadapi hambatan ketika melaksanakannya. Karena itu, ketidakselarasan antara pengetahuan, motivasi, dan tindakan tidak selalu disebabkan oleh satu kelemahan. Persoalannya perlu ditelusuri pada bagian mana dari keseluruhan proses tersebut yang belum berjalan secara selaras.

Lebih jauh, tindakan tidak hanya perlu dinilai berdasarkan hasil langsungnya, tetapi juga berdasarkan arah perkembangan diri yang dibentuknya. Dalam kehidupan sehari-hari, pilihan-pilihan yang tampak kecil dapat menjadi bagian dari pola yang semakin menetap ketika terus diulang. Cara seseorang menghadapi kritik, memperlakukan orang lain, mengelola keinginan, dan memenuhi tanggung jawabnya dapat ikut membentuk kecenderungan perilakunya pada masa mendatang. Inilah salah satu kekuatan gagasan Sadra: manusia tidak hanya menjalani tindakan sebagai sesuatu yang dilakukan, tetapi juga berkembang melalui tindakan yang dijalaninya.

Dengan demikian, pertanyaan yang relevan bukan hanya, “Apakah saya sudah mengetahui apa yang benar?” Kita juga perlu bertanya, “Apakah kebenaran itu sudah memiliki arti yang cukup kuat bagi saya? Apakah saya sungguh-sungguh memilihnya? Apakah saya memiliki kemampuan untuk mewujudkannya? Dan apakah tindakan saya sehari-hari bergerak ke arah yang sesuai dengan nilai yang saya yakini?” Pertanyaan-pertanyaan ini membawa pembahasan tentang tindakan melampaui persoalan pengetahuan semata. Ia mengajak kita melihat perubahan manusia sebagai proses yang melibatkan pemahaman, motivasi, kehendak, kemampuan, pelaksanaan, dan perkembangan diri secara terpadu.

Syahril Syam
@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *