Self Awareness Transformation: Mengapa Semakin Dilawan, Kecemasan Semakin Kuat?

Pakar Pemberdayaan Diri Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Salah satu buku yang cukup menarik dalam pembahasan tentang kecemasan adalah “The Power of Anxiety: How to Ride the Worry Wave” karya Sian Williams. Sian Williams bukan hanya seorang presenter BBC yang dikenal luas, tetapi juga seorang psikolog konseling berlisensi yang bertahun-tahun bekerja menangani pasien di layanan kesehatan Inggris (NHS). Ia banyak mendampingi petugas layanan darurat, penyintas trauma, dan individu yang mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Yang membuat sudut pandangnya menarik adalah karena ia tidak menulis dari posisi seorang pengamat yang berdiri di luar masalah. Ia sendiri menjalani kehidupan yang panjang bersama kecemasan, bahkan mengalami masa-masa yang sangat berat ketika menjalani pengobatan kanker payudara. Karena itu, buku ini tidak hanya berisi teori psikologi, tetapi juga refleksi dari pengalaman manusia yang benar-benar pernah berhadapan dengan ketakutan, ketidakpastian, dan kecemasan yang nyata.

Kebanyakan buku tentang kecemasan berangkat dari gagasan bahwa kecemasan adalah sesuatu yang harus dikurangi, dihilangkan, atau dikalahkan. Pesan yang sering muncul adalah bagaimana cara agar seseorang tidak lagi merasa cemas. Namun Sian Williams mengambil titik berangkat yang berbeda. Menurutnya, kecemasan bukanlah musuh yang harus diperangi. Kecemasan adalah bagian dari sistem alami manusia yang membawa informasi penting.

Ia melihat bahwa penderitaan seringkali bukan muncul karena kecemasan itu sendiri, melainkan karena manusia terus-menerus berusaha melawan kecemasan yang mereka rasakan. Semakin seseorang memusuhi kecemasannya, semakin ia memperhatikannya. Semakin ia berusaha menghilangkannya, semakin besar ruang yang diberikan kepada kecemasan tersebut di dalam pikirannya. Akibatnya, kecemasan justru menjadi semakin dominan.

Untuk menjelaskan gagasan ini, Sian menggunakan metafora yang sederhana tetapi sangat kuat. Ia menggambarkan kecemasan seperti ombak di lautan. Tidak ada seorang pun yang mampu menghentikan ombak datang ke pantai. Ombak merupakan bagian alami dari laut. Kadang ombak itu kecil dan tenang, kadang besar dan menegangkan, bahkan sesekali berubah menjadi badai.

Karena itu, solusi bukanlah berusaha menghentikan ombak. Solusinya adalah belajar bagaimana menghadapi ombak tersebut. Seorang peselancar yang baik tidak mencoba memerintahkan laut untuk tenang. Ia belajar memahami karakter ombak, menjaga keseimbangan, dan menggunakan energi ombak untuk bergerak maju. Inilah makna yang dimaksud Sian dengan istilah ride the worry wave atau “menunggangi gelombang kekhawatiran”.

Gagasan ini memiliki kesamaan yang sangat kuat dengan cara pandang Self Awareness Transformation (SAT) terhadap kehidupan. Dalam SAT, kehidupan juga dipandang seperti lautan yang selalu bergerak. Tidak semua hal berada dalam kendali kita. Ada hari-hari yang tenang, ada masa-masa yang penuh tekanan, dan ada periode kehidupan yang terasa seperti badai besar. Kesalahan yang sering dilakukan manusia bukan karena kehidupan menghadirkan ombak, melainkan karena mereka menganggap ombak seharusnya tidak ada.

Ketika menghadapi kesulitan, sebagian orang sibuk berusaha menghentikan sesuatu yang memang tidak dapat mereka kendalikan. Sebagian lainnya menolak kenyataan dan terus berkata bahwa situasi seperti ini seharusnya tidak terjadi. Ada pula yang langsung tenggelam dalam ketakutan dan menyimpulkan bahwa setiap ombak pasti akan menghancurkan mereka. Padahal yang lebih penting bukanlah mengendalikan laut, melainkan belajar bagaimana tetap hadir, stabil, dan sadar ketika laut sedang bergelombang.

Dari sudut pandang ini, transformasi bukan berarti menghapus semua kesulitan hidup. Transformasi juga bukan berarti membuat semua emosi menjadi positif. Kehidupan tetap menghadirkan kehilangan, ketidakpastian, kegagalan, dan berbagai pengalaman yang tidak menyenangkan. Yang berubah adalah cara seseorang hadir terhadap pengalaman tersebut. Ketika kesadaran berkembang, seseorang mulai memahami bahwa ia mungkin tidak dapat mengendalikan semua keadaan, tetapi ia masih memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana merespons keadaan itu. Di sinilah letak kemerdekaan psikologis yang sesungguhnya.

Untuk memahami mengapa kecemasan tidak mungkin dihapus sepenuhnya, kita perlu melihat fungsi biologisnya. Dari perspektif evolusi, kecemasan bukanlah kesalahan desain pada otak manusia. Sebaliknya, kecemasan adalah salah satu alasan mengapa manusia dapat bertahan hidup selama ribuan tahun. Nenek moyang kita yang mampu mengantisipasi bahaya memiliki peluang hidup yang lebih besar dibanding mereka yang samasekali tidak waspada. Kemampuan membayangkan kemungkinan buruk membantu manusia menghindari predator, mempersiapkan diri menghadapi cuaca ekstrem, dan mengantisipasi ancaman dari kelompok lain. Dengan kata lain, kecemasan pada dasarnya adalah sistem perlindungan diri yang sangat berharga.

Masalah muncul karena lingkungan manusia modern sangat berbeda dengan lingkungan tempat sistem ini berkembang. Dahulu ancaman utama bersifat fisik dan nyata. Saat ini ancaman lebih banyak bersifat psikologis dan sosial. Otak yang dahulu dirancang untuk mendeteksi harimau kini menghabiskan banyak waktu memikirkan penolakan sosial, reputasi, kegagalan karier, kondisi ekonomi, masa depan keluarga, dan berbagai ketidakpastian lainnya. Sistem alarm yang dulunya menyelamatkan kehidupan kini seringkali aktif meskipun tidak ada bahaya fisik yang benar-benar mengancam. Akibatnya, seseorang dapat mengalami reaksi kecemasan yang sangat kuat hanya karena membayangkan kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.

Penelitian modern dalam ilmu saraf bahkan menunjukkan bahwa otak manusia pada dasarnya adalah mesin prediksi. Tugas utama otak bukan membuat manusia bahagia, melainkan menjaga agar manusia tetap hidup. Karena itu, otak secara otomatis terus mencari kemungkinan ancaman. Ia selalu bertanya: apa yang bisa salah, risiko apa yang mungkin muncul, dan bagaimana cara mengantisipasinya. Dari sudut pandang evolusi, kecenderungan ini masuk akal. Namun ketika tidak disadari, kemampuan memprediksi masa depan dapat berubah menjadi sumber kekhawatiran yang tidak pernah berhenti. Di sinilah pentingnya memahami bahwa kecemasan bukanlah gangguan yang muncul karena otak rusak. Kecemasan adalah fitur alami dari sistem manusia. Tantangannya adalah bagaimana mengelolanya dengan bijak.

Ironisnya, banyak orang justru memperburuk kecemasan dengan berusaha menghilangkannya secara paksa. Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai ironic process theory yang diperkenalkan oleh Daniel Wegner. Prinsipnya sederhana. Ketika seseorang berusaha keras untuk tidak memikirkan sesuatu, otaknya justru harus terus memantau apakah hal itu masih ada dalam pikirannya.

Akibatnya perhatian tetap tertuju pada hal yang ingin dihindari. Semakin seseorang berkata, “Saya tidak boleh cemas,” semakin sering ia memeriksa apakah dirinya masih cemas. Pemeriksaan yang terus-menerus inilah yang tanpa disadari mempertahankan bahkan memperbesar kecemasan tersebut. Karena itu seringkali bukan kecemasan yang paling menyakitkan, melainkan ketakutan terhadap kecemasan itu sendiri.

Di sinilah metafora peselancar menjadi sangat relevan. Seorang peselancar tidak melawan ombak karena ia memahami bahwa ombak jauh lebih besar dan lebih kuat daripada dirinya. Ia menerima kenyataan bahwa ombak adalah bagian alami dari laut. Namun penerimaan ini bukanlah sikap pasif atau menyerah. Justru karena menerima realitas, ia dapat merespons dengan lebih efektif. Ia belajar membaca arah ombak, menjaga keseimbangan tubuh, dan bergerak selaras dengan kondisi yang ada. Dalam psikologi modern, kemampuan ini dikenal sebagai acceptance. Acceptance bukan berarti menyukai keadaan yang sulit. Acceptance berarti mengakui kenyataan sebagaimana adanya sebelum memutuskan tindakan yang paling tepat.

Ketika seseorang berhenti berperang dengan kecemasannya, ia mulai dapat mendengarkan pesan yang dibawa oleh kecemasan tersebut. Kecemasan seringkali berfungsi seperti alarm yang memberikan informasi. Kecemasan sebelum presentasi mungkin menunjukkan bahwa seseorang peduli terhadap kualitas pekerjaannya. Kecemasan dalam hubungan dapat mengisyaratkan adanya kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Kecemasan tentang masa depan mungkin menunjukkan bahwa ada ketidakpastian yang belum diterima sepenuhnya. Ketika pesan ini dipahami, kecemasan dapat menjadi sumber informasi yang berguna. Namun ketika alarm dianggap musuh, seseorang hanya sibuk memukul alarm tanpa pernah memahami mengapa alarm itu berbunyi.

Jika dilihat melalui lensa SAT, titik temu dengan pemikiran Sian Williams menjadi semakin jelas. Sian mengatakan bahwa kita perlu berhenti melawan ombak. SAT melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa kita perlu berhenti mengidentifikasi diri dengan ombak. Dalam SAT, masalah utama bukanlah kecemasan itu sendiri. Masalah muncul ketika kesadaran larut dan melebur ke dalam cerita yang diciptakan oleh pikiran.

Ketika menghadapi ketidakpastian, pikiran sering membangun berbagai narasi tentang masa depan. Narasi ini dalam SAT disebut sebagai wahm, yaitu konstruksi mental yang belum tentu sesuai dengan kenyataan. Dari wahm lahirlah prediksi ancaman, kemudian muncul kecemasan. Jika kesadaran tidak hadir, seseorang akan mempercayai seluruh narasi tersebut seolah-olah itu adalah realitas yang pasti. Pada saat itulah ia terseret oleh ombak dan kehilangan kemudi.

Sebaliknya, ketika kehadiran muncul, prosesnya menjadi berbeda. Ketidakpastian mungkin tetap ada. Kecemasan juga mungkin tetap muncul. Namun kini kecemasan disadari, diamati, dan didengarkan tanpa harus dipercaya sepenuhnya. Seseorang mulai mampu membedakan antara pengalaman yang sedang dirasakan dan identitas dirinya. Ia menyadari bahwa kecemasan adalah sesuatu yang hadir dalam kesadarannya, bukan sesuatu yang mendefinisikan dirinya.

Ombak masih bergerak. Laut masih bergelombang. Namun sekarang ombak tidak lagi memegang kemudi. Kesadaranlah yang kembali menjadi nahkoda. Dan di situlah kebebasan manusia mulai muncul: bukan kebebasan dari ombak kehidupan, melainkan kebebasan untuk memilih bagaimana berlayar di tengah ombak tersebut.

Syahril Syam

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *