KINERJAEKSELEN.co, Jakarta – Pemerintah menghapus puluhan ribu tautan atau link penjualan pakaian bekas impor [thrifting]. Langkah ini diambil sebagai bagian dari pelarangan jual beli produk pakaian bekas impor yang dinilai merugikan pelaku usaha mikro kecil dan menengah [UMKM]
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan (Kemendag), Moga Simatupang, hingga akhir Maret lalu, pemerintah telah menghapus 40 ribu tautan penjualan pakaian bekas impor di platform e-commerce serta social commerce.
“Saat ini kurang lebih 40 ribuan link yang sudah di-takedown. Ke depannya, teman teman dari e-commerce dan social commerce akan melakukan pemantauan,” ujar Moga melalui konferensi pers di Jakarta seperti diberitakan Antara, Kamis (6/4/2023).
Moga mengungkapkan memblokir para penjual pakaian bekas impor di berbagai pasar daring, bukan tanpa kendala. Sebab, setiap dilakukan penghapusan akun maka tak lama, muncul lagi akun serupa dengan nama baru.
“Kadang sudah di-takedown itu diganti lagi, jadi memang perlu percepatan dari teman teman semua sehingga penjualan pakaian bekas melalui e-commerce bisa selesai,” katanya.
Sementara itu Kepala Bidang Logistik IDEA (Indonesian E-Commerce Association), Even Alex Chandra menjelaskan 40 ribu tautan penjualan baju bekas tersebut berasal dari seluruh anggota IDEA, mulai dari Shopee, Lazada, Tokopedia, Tiktok, BliBli dan Meta.
Proses pencarian akun dan tautannya, kata dia dilakukan mulai dari secara manual hingga kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI). Koordinasi lintas kementerian juga dilakukan untuk menemukan lebih banyak tautan thrifting di dunia maya.
“Kita juga cari dengan bantuan dari kementerian-kementerian. Jadi Kemendag oper link nih, tolong di-takedown langsung kita tindak,” ucap Alex.
Usai dilakukan penghapusan produk ilegal tersebut, Alex mengaku jumlah produk yang dijual semakin berkurang, meski masih ada yang tetap berjualan dengan tautan-tautan ‘bandel’. Siasat para pelaku jual dan beli pakaian bekas impor ini agar bisa tetap bertahan, lanjut dia mulai dari mengganti nama hingga foto toko dan produk.
“Contoh yang kita ketemu, indikasi awal di minggu-minggu awal isunya mulai ramai, mereka memang pakai kata ball. Sekarang udah pakai kata karungan jadi memang tim harus mencari terus-terus,” ujarnya.
[asumsi.co/nug/red]












