KINERJAEKSELEN.co, Jakarta – Demo menolak tunjangan anggota DPR masih berlangsung hingga sore hari. Para pendemo mempertanyakan gaji dan tunjangan anggota DPR yang melebihi Rp 100 juta.
Menjelang sore, polisi menghalau pengunjuk rasa dengan menembakkan gas air mata dan semprotan air ke arah demonstran. Polisi terus berusaha menghalau massa agar menjauhi gedung DPR.
Kelompok demonstran berusaha bertahan dan melawan dengan melempar botol air plastik.
Amuk massa semakin tak terkendali, sempat melemparkan batu ke arah kantor satuan pengamanan. Ada pula aksi pembakaran sepeda motor.
Dan tidak lama kemudian, polisi berusaha membubarkan massa tersebut. Gas air mata ditembakkan ke arah pendemo.
Hingga pukul 15.00 WIB, polisi terus menghalau pengunjukrasa hingga di dekat Stasiun Palmerah, Jakpus.
“Pak, yang ditembak harus anggota DPR, bukan kami!” teriak salah satu pendemo.
Di kawasan Senayan Park terdapat sejumlah massa mengalami perih di mata, panik, hingga batuk-batuk akibat gas yang dilontarkan personel Brimob.

Rakyat Hidup Susah, Banyak PHK Gaji DPR Justru Mencapai Ratusan Juta
Informasi menyebutkan aksi ini digelar oleh sebuah kelompok yang menyebut dirinya sebagai Gerakan Mahasiswa bersama Rakyat.
Para pendemo mempertanyakan gaji dan tunjangan anggota DPR yang melebihi Rp100 juta.
Widi, mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta mengaku datang sebagai warga negara Indonesia yang peduli nasib rakyat.
“ Saya datang sebagai warga negara Indonesia, tidak membawa embel-embel kampus. Saya menyuarakan hak-hak rakyat yang terdolimi oleh kelakuan anggota Dewan yang tidak peka terhadap penderitaan rakyat. Banyak PHK, rakyat hidup sulit, gaji DPR justru mencapai ratusan juta,” kata Widi berapi-api.
Menurut dia, Indonesia saat ini sedang terpuruk akibat kebijakan pemerintah yang merugikan banyak orang, khususnya masyarakat kecil.
“ Sebagai warga negara, saya marah, DPR bubarkan saja, tidak peka terhadap penderitaan rakyat,” ujarnya.
Unjuk rasa di depan gedung DPR sudah disuarakan oleh warganet sejak pekan lalu.
Suara-suara ini muncul ke permukaan setelah muncul pemberitaan seputar gaji dan tunjangan anggota DPR yang dilaporkan lebih Rp100 juta per bulan.
Terungkapnya nilai gaji dan tunjangan anggota DPR ini memicu kemarahan di media sosial.
Dalam situasi seperti itulah muncul tuntutan pembubaran DPR.
[sam/red]












