Cirebon, yang dikenal sebagai Kota Wali dan memiliki kekayaan sejarah serta budaya, kini menghadapi ironi yang menyakitkan. Kota yang memiliki motto “Bersih, Indah, Tertib, Aman” (Berintan) justru menjadi sorotan karena kondisi infrastruktur jalan yang memprihatinkan. Julukan “kota jalan seribu lubang” menjadi kenyataan pahit bagi masyarakat, terutama para pengendara roda dua yang terancam keselamatannya akibat kerusakan jalan yang parah.
Kondisi ini semakin memburuk memasuki musim penghujan. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah titik di pusat Kota Cirebon dilanda banjir, termasuk yang terjadi pada Sabtu malam, 25 Januari 2025. Banjir tersebut diduga akibat buruknya sistem drainase yang tidak mendapatkan perhatian maksimal dari pemerintah daerah. Normalisasi drainase yang seharusnya dilakukan jauh sebelum musim hujan tiba, terlambat dilakukan, sehingga air hujan meluap dan menggenangi kawasan strategis kota.
Kerusakan jalan di Kota Cirebon yang belum terselesaikan kini diperparah oleh banjir. Genangan air yang terus terjadi dapat mempercepat proses kerusakan jalan, sehingga semakin mengganggu aktivitas masyarakat. Para pengendara sepeda motor menjadi pihak yang paling dirugikan karena jalanan berlubang yang tertutup air berpotensi menyebabkan kecelakaan. Kondisi ini menimbulkan keresahan di tengah masyarakat yang mengharapkan solusi konkret dari pemerintah daerah.
Sorotan utama kini tertuju pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Cirebon yang dinilai gagal dalam menjalankan tanggung jawabnya. Perbaikan jalan yang sudah lama diharapkan tak kunjung terealisasi, sementara upaya antisipasi banjir pun dianggap minim. Berbagai pihak mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah cepat dan tepat demi mengatasi permasalahan ini, mulai dari perbaikan jalan hingga optimalisasi sistem drainase.
Masyarakat berharap pemerintah Kota Cirebon dapat segera mewujudkan kota yang sesuai dengan mottonya, yakni bersih, indah, tertib, dan aman. Jika tidak, julukan “kota jalan seribu lubang” dan masalah banjir akan terus menjadi noda di tengah kebanggaan Cirebon sebagai kota sejarah dan budaya.
[ NIKO ]












