JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Tokoh budaya asal Landak, Kalimantan Barat, Marselinus Mian, S.E, M.M, kembali mencetak prestasi gemilang, meraih penghargaan KINERJA EKSELEN AWARD II-2026.
Penghargaan bergengsi ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi, konsistensi, dan kontribusi nyata beliau dalam mengembangkan ekosistem budaya di kawasan Asia Tenggara
Penghargaan ini diserahkan langsung Pemimpin Redaksi Kinerja Group di Hotel Santika, Depok, Jumat 31 Juli 2026.
Panglima Mian, berujar kemenangan ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi generasi muda, aktivis budaya, dan masyarakat untuk terus berjuang menggemakan kebajikan melalui budaya.
“ Kebudayaan adalah ruh kehidupan yang berfungsi sebagai sistem nilai, norma, dan pedoman yang menjiwai cara manusia berpikir, bersikap, dan bertindak dalam masyarakat. Ia bukan sekadar tradisi, melainkan fondasi identitas, kompas moral, dan landasan karakter bangsa yang membedakan kelompok manusia dan mengarahkan perilaku mereka,” kata Panglima Mian, usai menerima penghargaan, Jumat.
“ Kebudayaan memberi kerangka etis agar kemajuan dan perubahan zaman tidak mengorbankan kemanusiaan,” sambungnya.
Menurut Panglima Besar Perguruan Budaya Ritual Tambak Baya dan Panglima Mangkok Merah Borneo Bersatu ini, bangsa yang kehilangan kebudayaan akan mudah goyah oleh perubahan apa pun. Sebaliknya, bangsa yang berakar kuat pada nilai budayanya akan mampu bergerak maju tanpa kehilangan arah.
Panglima berujar, ketika kebudayaan terawat, bangsa memiliki arah dan kepercayaan diri. Sebaliknya, ketika kebudayaan diabaikan, negara mungkin tetap berdiri secara administratif, tetapi kehilangan jiwa yang menyatukannya.
Panglima Mian bertutur, menjaga ruh kebudayaan adalah usaha merawat jiwa, nilai luhur, dan jati diri bangsa agar tetap relevan di tengah modernisasi, bukan sekadar pelestarian fisik.
“ Sebagai masyarakat, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup, relevan, dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Menjaga tradisi tidak berarti menutup diri dari dunia luar, tetapi bagaimana kita menyesuaikan diri tanpa mengorbankan nilai-nilai luhur yang telah membentuk siapa kita,” ungkapnya.
Sebagai bangsa yang berbudaya, kata Panglima, kita harus mampu menciptakan harmoni hidup, keselarasan, keserasian, dan kerukunan yang tercipta di tengah keberagaman sosial-budaya. Ini adalah kondisi di mana perbedaan suku, agama, tradisi, dan pola pikir dihargai, membentuk kesatuan yang damai dan saling melengkapi. Harmoni budaya mencerminkan toleransi dan kerja sama untuk mencapai kesejahteraan bersama.
“ Adil ka’ Talino, hidup ini harus selalu berselimut cinta kasih, bersikap adil, jujur, dan tidak diskriminatif terhadap sesama manusia,” kata Panglima, mengutip ajaran leluhur masyarakat Dayak, yang mengedepankan nilai-nilai cinta kasih.
[Jagad]












