Bersyukur vs Stres Kronis

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Ada begitu banyak faktor yang menyebabkan seseorang mengalami stres. Karena tuntutan pekerjaan, masalah keuangan, perubahan hidup (pernikahan, perceraian, kematian keluarga), kesehatan fisik atau mental, ketidakpastian tentang masa depan, gangguan tidur, sulit mengatur waktu, gangguan lingkungan (polusi, kebisingan), dan ketergantungan yang berlebihan pada media sosial dan perangkat digital. Jika kita memperhatikan dengan lebih jeluk, maka semua faktor itu hanya bermuara pada satu hal, yaitu sulit mengontrol kecenderunan jasmaniah (kecenderungan emosional).

Dari tubuh kita muncul berbagai kecenderungan jasmaniah. Mulai dari makan, minum, seks, hingga menginginkan apapun. Seseorang akan merasa senang jika semua keinginan (hasrat) jasmaniah terpenuhi, dan akan merasa terganggu jika tidak terpenuhi. Ada hasrat tubuh yang begitu kuat dan mendorong secara emosional agar mesti sesuai yang diinginkan. Itulah sebabnya, semakin seseorang membiasakan dirinya untuk mengikuti semua perasaannya yang menggelora untuk memenuhi berbagai hasratnya, maka semakin mudah juga ia stres. Karena tidak akan mungkin semua dalam kehidupan ini mesti sesuai dengan berbagai tuntutan hasratnya.

Selain itu, karena semua kecenderungan jasmaniah bersifat bawah sadar, maka berbagai dorongan emosional yang muncul, seringkali tidak disadari dan tidak memandang benar/salah dan baik/buruk. Bawah sadar hanya tahu bahwa semua hasrat itu mesti terpenuhi dan berupaya membajak otak agar berpikir dan mencari cara memenuhi semua itu.

Ironisnya, banyak yang mengira bahwa ketika semua tuntutan hasrat terpenuhi ia akan bahagia. Namun yang terjadi adalah ia akan semakin stres, karena semua hasrat tak bertepi sehingga semakin diikuti akan semakin bergantung pada rasa pemenuhannya. Dan karena semakin tergantung, maka akan semakin stres. Persis sama dengan pecandu narkoba yang mengira bisa bahagia ketika mengikuti hasrat candunya, tapi yang terjadi adalah ia semakin stres dan tersiksa.

Jika bawah sadar tidak tahu benar/salah dan baik/buruk, maka otak berpikir (filsafat Islam menyebutnya akal) kita-lah yang tahu mana yang benar/salah dan mana yang baik/buruk. Kebahagiaan yang kita rasakan dengan menggunakan otak berpikir adalah kita merasa senang ketika mengetahui kebenaran dan kebaikan dan kemudian mewujudkan kebenaran dan kebaikan itu dalam bentuk perilaku dan kebiasaan. Di sinilah kemudian terjadi konflik antara dorongan hasrat dari bawah sadar dengan nilai kebenaran dan kebaikan yang telah dipahami oleh otak berpikir.

Salah satu yang bisa dipahami oleh otak berpikir kita adalah bersyukur. Arti syukur menurut KBBI adalah rasa terima kasih kepada Sang Maha Sempurna. Ada pengakuan dan penghargaan yang mendalam terhadap nikmat-nikmat yang senantiasa dikaruniai oleh Sang Maha Sempurna. Dan karena karena nikmat-Nya senantiasa mengalir terus menerus, maka kita tidak akan pernah mampu mensyukuri segala nikmat-Nya. Itulah sebabnya, rasa syukur atas nikmat lebih utama daripada hakikat nikmat itu sendiri. Dari makna-makna ini kita dapat memahami bahwa pentingnya mengontrol berbagai hasrat emosional kita.

Memenuhi hasrat jasmaniah itu penting, karena kita butuh kelangsungan hidup di dunia. Namun semua itu tidak boleh melupakan kita untuk bersyukur kepada Sang Maha Sempurna, karena semua yang diinginkan oleh hasrat jasmaniah adalah karunia-Nya, termasuk berbagai karunia yang tidak kita sadari, bahkan diri (ruh/jiwa) kita sendiri pun adalah karunia-Nya. Jadi kita memang tidak akan pernah mampu mensyukuri segala nikmat-Nya. Sehingga jika pemahaman ini mewujud menjadi sikap, perilaku, dan kebiasaan, maka akan mampu mengusir semua stres yang dihadirkan oleh rontakan emosional dari berbagai hasrat jasmaniah.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *