Energi dan Kesehatan Mental

Syahril Syam

Oleh : Syahril Syam *)

Banyak orang berpikir gangguan mental seperti depresi atau kecemasan hanya disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia di otak. Tapi, buku yang berjudul “Brain Energy: A Revolutionary Breakthrough in Understanding Mental Health – and Improving Treatment for Anxiety, Depression, OCD, PTSD, and More” (Energi Otak: Terobosan Revolusioner dalam Memahami Kesehatan Mental – dan Meningkatkan Pengobatan untuk Kecemasan, Depresi, OCD, PTSD, dan Lainnya), mengatakan bahwa masalahnya lebih mendasar, yaitu otak kita mungkin tidak punya cukup energi untuk bekerja dengan baik. Itu sebabnya gejala seperti lemas, putus asa, atau sulit mengendalikan emosi muncul.

Christopher M. Palmer, MD adalah seorang psikiater dan peneliti yang juga merupakan penulis buku tersebut mengatakan bahwa banyak gangguan kesehatan mental memiliki pola umum, yaitu ketidakmampuan otak untuk menghasilkan dan menggunakan energi secara efisien. Dengan kata lain, semua gangguan mental memiliki pola yang serupa, yaitu otak tidak mendapatkan energi yang cukup untuk mendukung fungsi optimalnya. Mitokondria adalah organel kecil di dalam sel yang menghasilkan energi dalam bentuk molekul ATP (adenosin trifosfat). ATP adalah “bahan bakar” yang mendukung semua aktivitas biologis, termasuk fungsi otak. Mitokondria tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga mengatur metabolisme, sinyal seluler, dan apoptosis (kematian sel terprogram).

Mitokondria seperti “pembangkit listrik mini” di dalam sel tubuh kita. Mereka menghasilkan energi yang diperlukan untuk semua aktivitas tubuh, termasuk kerja otak. Bayangkan otak sebagai kota yang membutuhkan listrik untuk menjalankan lampu, komputer, dan mesin lainnya. Jika pembangkit listrik (mitokondria) rusak atau tidak efisien, kota itu akan mengalami pemadaman listrik. Begitu pula dengan otak – jika tidak mendapatkan cukup energi, maka akan terjadi masalah, seperti sulit berpikir, suasana hati yang buruk, atau kecemasan. Jika seseorang merasa lelah, sulit fokus, dan sering cemas, maka itu bisa jadi karena “pembangkit listrik” di otaknya tidak menghasilkan energi yang cukup. Hal ini bisa terjadi karena kurang tidur, stres berlebihan, atau pola makan buruk.

Otak menggunakan sekitar 20% energi tubuh meskipun hanya 2% dari berat tubuh. Energi ini diperlukan untuk aktivitas listrik, transmisi sinyal antar neuron, dan plastisitas otak. Ketika mitokondria tidak bekerja optimal, otak tidak dapat menjalankan fungsi normalnya, seperti pengambilan keputusan, pengendalian emosi, dan perhatian. Palmer menjelaskan bahwa mitokondria yang rusak tidak mampu menghasilkan energi yang cukup, menyebabkan gangguan pada fungsi neuron. Jika mitokondria terus terganggu, neuron dapat mengalami stres oksidatif, peradangan, dan bahkan kematian, yang semuanya berkontribusi pada gejala gangguan mental seperti depresi, kecemasan, atau gangguan bipolar.

Penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan gangguan mental sering memiliki metabolisme glukosa otak yang abnormal, yang menunjukkan adanya hubungan dengan disfungsi mitokondria. Mitokondria yang tidak optimal dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi di area otak seperti korteks prefrontal, yang bertanggung jawab untuk regulasi emosi. Ketika energi otak rendah, bagian otak yang mengatur rasa takut (amigdala) menjadi terlalu aktif, membuat seseorang merasa cemas.

Christopher Palmer mengajukan gagasan bahwa kesehatan mental adalah fungsi langsung dari kesehatan metabolisme otak, terutama pada mitokondria. Ia mendorong pendekatan yang lebih holistik dalam pengobatan gangguan mental, yang tidak hanya bergantung pada obat-obatan tetapi juga pada perubahan gaya hidup untuk memulihkan keseimbangan metabolisme. Palmer memaparkan berbagai kasus pasien yang menunjukkan perbaikan dramatis dalam gejala mental mereka setelah menerapkan strategi metabolik seperti diet ketogenik dan olahraga.

Makanan seperti gula dan karbohidrat olahan (roti putih, kue, minuman manis) bisa membuat energi otak naik turun drastis, seperti roller coaster. Sebaliknya, lemak sehat seperti alpukat, kacang-kacangan, dan ikan berlemak membantu otak mendapatkan energi stabil. Dalam keadaan normal, tubuh menggunakan glukosa (dari karbohidrat) sebagai sumber energi utama. Namun, ketika asupan karbohidrat sangat dibatasi, cadangan glikogen di hati dan otot habis. Tubuh kemudian memecah lemak menjadi keton, yang digunakan sebagai sumber energi utama, terutama untuk otak dan otot. Inilah diet ketogenik, yang mengubah sumber energi tubuh dari gula menjadi lemak (keton), yang lebih efisien untuk otak. Namun, karena sifatnya yang ketat, diet ini harus dilakukan di bawah pengawasan ahli gizi atau dokter untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *