Oleh : Syahril Syam *)
Dalam setiap pelatihan yang penulis bawakan, selalu saja penulis sampaikan bahwa dunia dirancang untuk selalu ada ujian dan tantangan. Karena fungsi ujian dan tantangan adalah agar jiwa (diri) bisa naik level. Dulu tidak tahu membaca, namun kemudian ketika berhasil melewati ujian dan tantangan ketika ingin menguasai huruf dan kata, maka kita pun akhirnya naik level (bisa membaca). Neurosains juga membuktikan bahwa otak kita seperti otot, yang akan terus berkembang ketika dilatih dalam mengatasi ujian dan tantangan. Maka menjadi wajar jika kehidupan ini adalah ruang ujian bagi jiwa; bagi diri kita agar mental kita semakin tangguh, dewasa, dan bijaksana.
Karena mindset (keyakinan) merupakan gabungan antara konsep dan perasaan, maka semakin kuat perasaan yang terkait dengan suatu konsep, semakin kuat pula keyakinan kita terhadap konsep tersebut. Perasaan memberikan dimensi emosional yang mendalam dan intensitas pada keyakinan yang dibangun atas suatu konsep. Keyakinan, karena sifatnya yang lebih stabil dan mendalam, seringkali membentuk dasar dari pola tindakan kita dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, keyakinan yang keliru, cenderung melahirkan sikap dan perbuatan yang juga keliru.
Banyak tradisi spiritual menganggap kehidupan sebagai arena pertumbuhan jiwa. Dalam Islam, manusia diuji dengan kesulitan dan kebahagiaan sebagai sarana untuk mengembangkan kesabaran dan rasa syukur agar mencapai kedekatan dengan Sang Maha Sempurna. Dalam filsafat Hikmah, perjalanan manusia melibatkan berbagai tingkat kesadaran.
Kehidupan dianggap sebagai proses untuk mentransformasi diri dari keadaan yang lebih rendah ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi, sebuah perjalanan menuju penyempurnaan jiwa. Dalam psikologi modern, gagasan ini tercermin dalam teori resilience (ketangguhan). Pengalaman sulit tidak hanya dianggap sebagai hambatan tetapi juga sebagai peluang untuk belajar dan berkembang. Dalam filsafat Nietzsche, konsep “ujian” dihubungkan dengan gagasan bahwa tantangan memperkuat manusia dan membantu mencapai versi terbaik dari dirinya.
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa paparan tantangan yang terkontrol (misalnya, menghadapi konflik kecil atau kegagalan) membantu individu mengembangkan ketahanan (resilience). Sebaliknya, menghindari semua bentuk stres atau tantangan dapat menyebabkan apa yang disebut learned helplessness – keadaan dimana seseorang merasa tidak mampu menghadapi kesulitan. Siswa yang tidak pernah menghadapi kritik atas pekerjaan mereka cenderung merasa kewalahan ketika akhirnya menghadapi umpan balik negatif di tempat kerja. Anak yang dilindungi dari segala bentuk kegagalan kecil (misalnya, kalah dalam permainan atau menghadapi konflik dengan teman) cenderung kesulitan mengelola emosi saat menghadapi tantangan nyata di masa depan.
Menggunakan mindset bahwa kehidupan adalah ruang ujian bagi jiwa agar bisa naik level berarti memahami bahwa setiap pengalaman hidup – baik yang menyenangkan maupun yang penuh tantangan adalah kesempatan untuk berkembang menjadi versi diri yang lebih baik. Kesulitan hidup dipandang bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai tantangan untuk memperkuat ketangguhan mental, emosional, dan spiritual. Fokusnya adalah pada perjalanan, bukan tujuan akhir. Setiap langkah dalam perjalanan hidup – baik keberhasilan maupun kegagalan – adalah bagian dari proses pembelajaran dan pertumbuhan.
“Naik level” di sini berarti lebih dari sekadar pencapaian materi; ini mencakup kematangan emosional, kedewasaan spiritual, dan pengembangan karakter. Misalnya, belajar sabar, ikhlas, atau bijaksana dalam mengambil keputusan adalah bentuk kenaikan level yang tidak terukur secara material tetapi sangat berarti. Dengan memandang setiap pengalaman sebagai bagian dari proses “naik level,” kita cenderung lebih menghargai setiap momen dan merasa hidup kita memiliki tujuan. Mindset bahwa kehidupan adalah ruang ujian bagi jiwa agar bisa naik level, membantu kita menemukan makna dalam setiap pengalaman. Dengan pandangan ini, hidup menjadi perjalanan yang penuh makna, dimana setiap langkah membawa kita lebih dekat pada kebijaksanaan, kekuatan, dan kedamaian batin.
@pakarpemberdayaandiri











