Sumber Kesenangan Sekaligus Kegelisahan

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam*)

Sering muncul pertanyaan kepada penulis, apakah hipnoterapi itu permanen? Apakah terapi dengan teknik ini atau itu, sifatnya permanen? Apakah permanen sembuh? Jawabannya adalah teknik hipnoterapi atau teknik terapi apapun yang telah terbukti ampuh, maka kesembuhan klien sifatnya permanen. Bahwa kesembuhan mental bersifat permanen dan tidak akan pernah kambuh lagi, kecuali klien masih melakukan pola destruktif yang sama.

Tubuh samapersis dengan jiwa dalam hal penyakit. Pada tubuh muncul penyakit medis, dan pada jiwa muncul penyakit mental. Saat tubuh berhasil sembuh total dari suatu penyakit, maka kesembuhannya bersifat permanen, kecuali pola-pola munculnya penyakit diulang kembali. Kita pernah flu dan kemudian sembuh total yang bersifat permanen. Namun ketika pola-pola hidup kita kembali terulang pada sebab yang memunculkan flu, maka flu akan muncul kembali. Selama pola-pola sebabnya terpenuhi, maka penyakit itu akan muncul kembali.

Hal yang sama juga berlaku pada penyakit mental yang melanda jiwa. Selama hati ini masih terikat kepada orang, benda, tempat, peristiwa, dan waktu (atau dengan kata lain, hati masih terikat dengan duniawi), maka selama itu pula kegelisahan diri masih ada. Karena semua yang ada di dunia – berupa orang, benda, tempat, peristiwa, dan waktu – bisa membuat kita senang, namun bisa juga membuat kita gelisah dan galau. Orang yang kita sayangi, ketika dia sesuai keinginan kita, maka kita merasa senang. Tapi jika dia tidak seusia keinginan kita, maka hati mulai meradang.

Benda-benda yang diharapkan akan membuat kita senang ketika berhasil diperoleh. Namun ketika berhasil diperoleh, benda-benda tersebut juga bisa memicu rasa khawatir ketika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan pada benda-benda tersebut. Semua yang di dunia bisa membuat kita senang, sekaligus juga bisa membuat kita gelisah. Dan selama hati seseorang masih terikat pada kesenangan duniawi, maka selama itu pula hatinya juga akan selalu gelisah oleh duniawi.

Dengan memahami prinsip dasar ini, maka sesungguhnya pola-pola sebab bagi hadirnya penyakit mental akan bisa tercipta kembali oleh diri sendiri. Artinya, seseorang bisa saja sembuh secara permanen dengan hipnoterapi atau teknik terapi ampuh lainnya, namun jika pola-pola sebab yang melahirkan kegelisahan tidak dirubah, maka selama itu pula akan hadir berbagai perasaan destruktif. Jadi keliru ketika seseorang sudah sembuh total dari masalah mentalnya, kemudian kembali terlena dengan gaya hidup “semau gue”.

Selama hati masih terikat (terpengaruh) dengan berbagai kesenangan duniawi, maka selama itu pula hati juga merasa gelisah oleh duniawi. Dan selama itu pula, akan muncul kemarahan, kekesalan, kekecewaan, sakit hati, khawatir, kecemasan. dan berbagai emosi destruktif. Oleh sebab itu, agar jiwa (diri) kita tetap sehat, maka tetaplah melakukan terapi untuk berbagai masalah hati (melepaskan emosi destruktif), sambil berusaha melakukan pola-pola (program) baru yang konstruktif. Tetapkan hati untuk melakukan semua itu agar semakin dekat kepada Sang Maha Sempurna. Karena saat kita semakin dekat kepada-Nya, maka hati kita akan semakin terikat kepada-Nya (dan otomatis keterikatan hati kepada dunia semakin berkurang). Dan semoga suatu hari nanti, hati kita secara totalitas hanya terikat kepada-Nya. Di saat itulah hati kita telah berada pada level “jiwa yang tenang”.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *