Oleh: Syahril Syam *)
Kejadiannya sewaktu anak penulis masih duduk di kelas tiga SMA. Mereka mesti membawa bahan dan peralatan memasak karena ada praktek tata boga. Si anak waktu itu sementara menggoreng di atas wajan yang berisi banyak minyak goreng. Entah pada penggorengan yang ke berapa, tiba-tiba salah satu dudukan wajan pada kompor terlepas dan wajannya akan terjatuh. Namun si anak ternyata secara refleks memegang wajan tersebut dan menahannya agar tidak terjatuh. Walhasil minyak goreng yang ada dan sangat panas saat itu langsung tersiram ke dua tangan si anak hingga pergelangan tangan. Konyolnya lagi, si anak bahkan masih sempat memegang wajan tersebut beberapa saat untuk mengembalikan posisi wajan ke posisi semula.
Karena baru saja tersiram minyak goreng panas, maka secara refleks pula tangannya menegang. Namun di luar dugaan penulis, ternyata si anak langsung mengambil alih kesadaran dirinya, dan secara sadar mengatur dirinya untuk berada ke dalam kondisi rileks. Tidak ada pikiran dan perasaan lain yang muncul, kecuali hanya berusaha secara sadar untuk menjadi rileks dan tenang. Dan mungkin karena langsung rileks, maka si anak tidak merasakan sakit samasekali, juga tidak panik. Karena memang panik dan rileks adalah dua sistem saraf otonom yang saling kontradiksi. Jika panik melanda, maka tidak akan bisa rileks. Begitu juga sebaliknya, saat rileks maka tidak akan panik.
Alhamdulillah, setelah diberi salep anti luka bakar, tangan si anak sembuh tanpa bekas dan lepuhan. Ada hikmah dari kejadian ini, yaitu mesti waspada dari badai emosi. Pada kebanyakan kasus serupa, ketika seseorang mengalami luka bakar akibat tumpahan minyak panas, yang terjadi pada dirinya adalah ia langsung diserang oleh badai emosi. Ia tiba-tiba merasa panik, marah karena ketiban sial, sedih karena tangan melepuh, dan berbagai perasaan yang berkecamuk dan bercampur aduk.
Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang tenggelam di dalam badai emosi, ia berada pada level energi destruktif, yang pada gilirannya membuat luka bakarnya terasa semakin sakit, terjadi lepuhan yang semakin banyak, dan proses penyembuhan yang memakan waktu cukup lama. Bahkan bisa meninggalkan bekas luka pada kulit. Kalau serangan badai emosinya cukup kuat, maka bisa menciptakan kondisi mood yang mudah berubah-ubah, hingga berkemungkinan mengalami trauma. Dan biasanya serangan badai emosi ini menjadi semakin lama dikala mesti melewati masa penyembuhan yang ternyata memakan waktu cukup lama.
Tiba-tiba muncul perasaan kesal, jengkel, intensitas marah yang semakin tinggi, perasaan pesimis, sakit hati, dan berbagai perasaan destruktif di masa-masa penyembuhan. Bukannya berkurang, serangan badai emosinya justru bertambah pasca kejadian. Maka akan semakin lama pula proses penyembuhannya. Serangan badai emosi ini tidak hanya terjadi pada kejadian di atas. Seringkali terjadi pada masalah-masalah yang sesungguhnya sepele. Hal ini disebabkan karena adanya medan energi yang terkompresi pada diri sehingga sebuah kejadian kecil bisa memicu munculnya serangan badai emosi.
@pakarpemberdayaandiri











