Opini  

Ketulusan Hati Sebagai Faktor Utama Kebahagiaan

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Seperti yang pernah disampaikan pada Cemilan Otak sebelumnya bahwa karakter atau akhlak adalah kepemilikan jiwa (diri) atas sifat-sifat tertentu (baik atau buruk), yang (dari kepemilikan sifat ini) memunculkan perbuatan secara otomatis (kebiasaan). Artinya, akhlak terkait sifat, sikap, dan perbuatan otomatis. Dan bukan hanya sekadar tindakan (perbuatan) semata, melainkan perbuatan yang bersifat otomatis (telah menjadi kebiasaan). Dimana perbuatan otomatis tidak akan pernah lahir tanpa sifat yang telah “menempel” pada diri (jiwa) kita.

Menempelnya suatu sifat pada diri kita menunjukkan bahwa awalnya kita belum memiliki sifat tersebut. Setelah melalui proses pengulangan tindakan, akhirnya sifat itu menempel pada diri kita. Dalam konteks neurosains, suatu sifat hanya akan menempel pada diri kita (menjadi kebiasaan) ketika mengalami sirkulasi pikiran dan perasaan, kemudian perasaan dan pikiran. Tanpa melibatkan perasaan, maka tak akan pernah sebuah sifat menempel pada diri kita. Dengan kata lain, perbuatan yang dilakukan tanpa melibatkan hati, maka perbuatan itu bukanlah akhlak (kebiasaan).

Inilah yang disebut menghayati suatu perbuatan. Awalnya kita memikirkan untuk melakukan suatu perbuatan. Saat kita memikirkannya, hati kita tergerak (hadir perasaan dari pikiran yang tadi dipikirkan), dan kemudian lahir perbuatan.

Jika proses ini diulang dalam waktu yang lama, maka tubuh kita akan menjadi otomatis (memiliki pikiran sendiri berupa perasaan yang sudah terbiasa dirasakan) sehingga setiap perbuatan kita dilandasi oleh adanya perasaan yang kita rasakan. Itulah sebabnya, produk akhir dari pengalaman adalah perasaan. Ini berarti bahwa setiap kebiasaan selalu digerakkan oleh perasaan tertentu. Tak akan ada akhlak (kebiasaan) tanpa melibatkan hati.

Karena akhlak berkaitan dengan baik dan buruk, maka kebiasaan kita selalu berkorelasi pada “harus” dan “tidak boleh”. Artinya jika itu baik, maka harus dilakukan, dan jika itu buruk, maka tidak boleh dilakukan. Dermawan adalah akhlak baik, dimana kita suka memberi kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan.

Dengan kata lain, untuk menjadi dermawan, maka kita harus mengontrol daya hasrat/nafsu yang ada pada diri kita. Kita memiliki hasrat makan, minum, menginginkan uang demi pemuasan hasrat, tetapi untuk menjadi dermawan, maka kita harus mengontrol dorongan hasrat ini dengan benar-benar memikirkan orang lain. Tidak lagi sekadar memikirkan diri sendiri.

Mengontrol hasrat/nafsu berarti kita siap untuk merasa sengsara dan derita, karena menahan diri untuk tidak memenuhi pemuasan hasrat pribadi demi kepentingan orang lain. Maka di sinilah pentingnya ketulusan hati sebagai landasan perasaan bagi lahirnya perbuatan baik berupa berbagi dengan orang lain. Selain bahwa akhlak mesti melibatkan perasaan, maka untuk bahagia, perasaan yang dirasakan adalah ketulusan di dalam memikirkan kepentingan orang lain.

Hal ini memberi gambaran kepada kita bahwa tidak selamanya perbuatan baik adalah akhlak, karena belum tentu perbuatan baik yang dilakukan telah menjadi kebiasaan. Selain itu, kebiasaan juga lahir ketika melibatkan hati (perasaan). Tetapi disaat yang sama, tidak semua kebiasaan yang baik lahir dari hati yang ikhlas dan tulus. Sehingga tidak semua perbuatan baik memberikan efek kebaikan dan kebahagiaan kepada diri kita, kecuali dilandasi oleh hati yang tulus. Apalagi setiap perbuatan yang benar-benar baik mempunyai efek perasaan sengsara karena mesti mengontrol berbagai hasrat/nafsu. Kecuali perbuatan baik yang juga sesuai dengan keinginan hasrat/nafsu, seperti membagi sembako karena mengharapkan sesuatu.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *