Rezeki Yang Berkah

Foto ilustrasi kumparan

Catatan Risdiana Wiryatni  

Sepatutnya manusia meyakini bahwa rezeki yang dijemput dengan kerja keras dan doa, semata-mata karena anugerah dari Tuhan.

Kesabaran dalam kerja keras, boleh jadi dianggap sebagai pil pahit, tetapi kelak siap dipanen di masa depan.

Itulah nasehat orang tua kita, agar kita bisa memahami bahwa untuk mendapatkan sesuatu [rezeki] harus dilakukan dengan kerja keras, tawakal, tanpa kenal lelah, dan selalu menghadirkan Allah SWT dalam setiap langkah kita.

Rezeki adalah segala nikmat yang diberikan Allah SWT kepada makhluk-Nya baik berupa materi, kesehatan, kebahagiaan, atau apapun yang diperlukan untuk kehidupan. Rezeki merupakan karunia dari Allah SWT yang diberikan secara cuma-cuma kepada setiap makhluk-Nya, baik itu manusia, hewan, maupun tumbuhan.

Dalam Islam, sumber rezeki berasal dari Allah SWT dan manusia sebagai hamba-Nya berusaha untuk memperolehnya secara halal dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Menjaga kehalalan dalam mendapatkan dan memanfaatkan rezeki menjadi poin penting dalam Islam.

Islam juga mengajarkan bahwa rezeki bukan mengenai materi semata. Kebahagiaan dan kesuksesan hidup tidak hanya tergantung pada materi, melainkan juga dari sisi spiritual, emosional, dan sosial. Oleh karena itu, sebaiknya kita juga berusaha memperoleh dan memanfaatkan rezeki dengan seimbang, serta tetap berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup kita secara menyeluruh dan seimbang.

Sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran, dituntut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Salah satunya dalam mencari rezeki. Memang yang memberi rezeki itu pada dasarnya oleh Allah SWT, namun kita harus bisa mencarinya. Karena Allah SWT tidak akan memberikan rezeki itu kepada kita secara cuma-cuma.

Untuk mendapatkan rezeki tentu kita harus berikhtiar, artinya berusaha untuk memperoleh rezeki. Cara yang digunakan pun itu diserahkan kepada kita. Hanya, kita harus tahu batasan-batasannya. Tentunya kita harus berikhtiar dengan tidak mengesampingkan aturan-aturan yang telah Allah tetapkan.

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa mencurahkan usahanya dan bekerja untuk memperoleh rezeki yang halal dan baik. Mengapa kita semua harus mencari rezeki yang halal?

Pertama : Rezeki yang halal dan baik merupakan sesuatu yang diperintahkan kepada semua manusia dan juga kepada para rasul. “Wahai para rasul makanlah dari (makanan-makanan) yang baik dan beramallah yang baik.” (QS. Al Mu’minun: 51).

Kedua: Rezeki yang halal dan baik memberikan keberkahan dalam kehidupan ini. Keberkahan dalam hidup memiliki makna bukan hanya dengan bertambahnya harta semata, tetapi lebih dari itu. Keberkahan hidup menjadikan seseorang semakin dekat dengan Allah SWT, berhasil membawa kesakinahan, kemawaddahan dan kerahmahan keluarga yang dinahkodainya dan mampu menerapkan pendidikan yang baik dan islamy dalam keluarga.

Ketiga: Rezeki yang halal dan baik menjadi salah satu sebab terkabulnya doa. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah pernah menyebutkan tentang seorang laki-laki yang menghabiskan perjalanan yang panjang dengan wajah kusut berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit sembari berdoa; Allah tidak mengabulkan doa laki-laki tersebut karena ternyata makanan yang dia makan, minuman yang dia minum dan pakaian yang dipakainya adalah hasil dari barang haram.

Keempat: Rezeki yang halal akan menyebabkan ketentraman dan menjauhkan dari kebencian dan permusuhan. “Sungguh syetan hanyalah ingin menimpakan permusuhan dan kebencian dalam khamr dan judi serta menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat.” (QS. Al Maidah: 91). Jika khamr dan judi yang notabene sesuatu yang diharamkan ditegaskan dalam ayat tersebut sebagai penyebab permusuhan dan kebencian maka secara otomatis setiap perkara yang halal akan menyebabkan keharmonisan dan kerukunan di lingkungan masyarakat.

Segala cara meraih rezeki yang dibumbui dengan kedzaliman pasti akan menimbulkan sebuah problem di masyarakat. Kaum nabi Syuaib adalah salah satu contohnya, mereka terbiasa jika membeli sesuatu maka mereka minta timbangannya dipenuhkan sedangkan jika mereka menjual maka dengan seenaknya mereka mengurangi timbangan. Hal inilah yang kemudian mendatangkan adzab Allah sehingga mereka binasa.

Kelima : Mendapatkan rezeki yang halal merupakan bagian dari ketaatan seseorang kepada Allah dan rasul-Nya. Ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya akan membawa kepada kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akherat. “Barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya maka sungguh ia mendapat keburuntungan yang agung.” (QS. Al Ahzab : 71). Seorang mukmin ketika mendapatkan rezeki yang halal, ia semakin bersyukur kepada Allah dan menggunakan rezeki tersebut untuk perkara yang maslahat bahkan jika hartanya berlebih dengan penuh ikhlas dia akan cinta berbagi dengan sesama dan memiliki jiwa filantropi.

Terkadang, orang tertipu akan makna dari rezeki dan mengira besaran rezeki yang didapat bergantung dengan seberapa banyak uang yang dimiliki.

Itulah mengapa, tak sedikit yang tertipu dan terbuai dengan godaan di dunia sehingga meninggalkan segala hal yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Di sisi lain, masih banyak rezeki yang diberikan kepada umat-Nya, selain harta atau uang yang terkadang dianggap segalanya oleh sebagian orang.

Ingatlah bahwa rezeki yang berkah bukan hanya dalam bentuk materi, melainkan juga kesehatan, kebahagiaan, dan ketenangan jiwa. Oleh karena itu, selalu berusaha untuk mendapatkan rezeki yang berkah dengan cara yang halal dan diridhoi oleh Allah SWT.

Semoga bermanfaat

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *