Bursa Saham Tertekan, Konflik Regional Memburuk, Rupiah Anjlok

Foto ilustrasi

JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak semakin liar dan kembali terperosok ke zona merah pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (28/10/2026).

Berdasarkan data pasar spot Bloomberg, mata uang Garuda keok dan ditutup melemah 28 poin atau 0,15 persen ke level Rp18.184 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya di Rp18.156 per dolar AS.

Kondisi jebloknya nilai tukar ini memecahkan rekor terburuk dalam sejarah pergerakan rupiah, sekaligus mempertegas rentannya pasar keuangan domestik terhadap gempuran sentimen eksternal.

Sejak bel pembukaan pagi hari dibuka, tanda-tanda ambruknya rupiah sudah mulai terendus di mana nilai tukar langsung melorot ke area Rp18.174 per dolar AS. Sepanjang sesi, fluktuasi tajam terus membayangi pergerakan di rentang harian Rp18.131,9 hingga Rp18.185 per dolar AS, sebelum akhirnya terkapar tak berdaya saat pasar resmi ditutup.

Sikap Hawkish Fed Jadi Biang Keladi

Menanggapi ketidakstabilan ini, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI), Erwin Haryono, mengungkapkan bahwa tekanan hebat yang menimpa rupiah sejalan dengan tingginya volatilitas eksternal yang tengah menggasak mayoritas mata uang di kawasan Asia.

Faktor pemicu utama dari memburuknya atmosfer di pasar keuangan global saat ini tidak lain adalah sikap antisipatif para investor yang menantikan hasil keputusan rapat moneter Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral AS (The Fed).

“Pasar bersiap mengantisipasi sikap hawkish dari The Fed. Walaupun The Fed diperkirakan luas akan menstabilkan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00%, fokus pelaku pasar beralih pada sinyal pengetatan lanjutan atau potensi kenaikan suku bunga pada bulan Desember mendatang,” tulis Erwin dalam keterangan resminya, Rabu (28/10/2026).

Ketidakpastian yang kian meruncing ini sukses mendongkrak keperkasaan indeks dolar AS (DXY) ke posisi level 102,41. Dampaknya, skenario risk-off langsung memicu kepanikan massal di mana modal asing mengalir deras keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang (emerging markets) menuju aset-aset aman (safe haven).

Beban Lonjakan Energi dan Isu Sentimen Domestik

Selain faktor keganasan The Fed, melambungnya harga minyak mentah dunia yang betah bertengger di atas level USD115 per barel ikut andil memperkeruh neraca perdagangan dan ketahanan fiskal nasional. Pembengkakan biaya impor energi ini memaksa pemenuhan likuiditas valuta asing (valas) riil melonjak drastis, terutama untuk merespons siklus kebutuhan akhir bulan.

Dari dalam negeri, situasi makin diperparah oleh munculnya kekhawatiran spekulatif pasar terkait rencana evaluasi atau potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Rumor ini memicu aksi jual bersih (net sell) secara masif oleh investor asing di pasar modal, yang otomatis mengeringkan pasokan dolar di pasar domestik.

BI Siapkan Jurus Intervensi Ganda

Kendati kondisi pasar eksternal terus memburuk, Bank Indonesia meyakinkan masyarakat bahwa fundamental ekonomi nasional sejatinya masih sangat kokoh dibentengi oleh posisi cadangan devisa yang kuat. Otoritas moneter menegaskan komitmennya untuk tetap siaga di pasar guna meredam volatilitas yang berlebihan secara terukur.

Langkah taktis penyelematan dijalankan melalui jurus intervensi ganda (dual intervention) yang menyasar pasar spot serta pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Di sisi lain, BI juga mengoptimalkan instrumen insentif penempatan valas hasil ekspor yang diklaim efektif dalam menyerap aliran dana swap, sekaligus menjadi bantalan likuiditas darurat di tengah dinamika ketidakpastian global yang belum mereda.

[Jagad]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *