Pilpres 2024 Momentum Perkuat Persatuan dan Kesatuan

Dr. Hj. Rizayati, SH, MM

KINERJAEKSELEN.co, Jakarta – Jelang pesta demokrasi Pemilu dan Pilpres 2024, kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita, akhir-akhir ini tengah diuji. Persatuan dan kesatuan bangsa mulai terkoyak. Sebagai anak bangsa, seakan kita abai terhadap eksistensi kita sebagai bangsa yang berbudaya, termasuk dalam mensikapi persoalan-persoalan bernegara.

Pergumulan kepentingan yang berujung pada kegaduhan kian mengemuka. Apabila tidak disikapi dengan arif, berpotensi merusak nilai-nilai persatuan dan kesatuan, berpotensi konflik dan rentan perpecahan.

Menurut  Ketua Umum Partai Indonesia Terang, Dr. Hj. Rizayati, SH, MM, persoalan berbangsa yang saat ini tengah mengemuka, menjadi sebuah  keprihatinan, dan sebagai anak bangsa, harus mensikapi dengan jernih, arif dan luas, sehingga tidak meruntuhkan konstruksi kehidupan berbangsa dan bernegara, karena tercabiknya nilai-nilai persatuan dan kesatuan.

“ Apa yang terjadi saat ini, kita tidak perlu mensikapi dengan berlebihan, apalagi membuat statement yang bisa menimbulkan kegaduhan. Kita rasakan, suhu politik memang cenderung mengalami peningkatan karena politik merupakan bagian dari kehidupan bangsa. Memanas wajar-wajar saja, apalagi jelang perhelatan pesta politk pilpres dan pileg 2024 mendatang,” kata Hj. Rizayati, Senin 19 Juni 2023.

Terkait dengan perhelatan Pilpres 2024 mendatang, Hj. Rizayati juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menciptakan situasi keamanan yang sejuk, dan kondusif, sehingga esensi kehidupan berdemokrasi bisa kita rasakan, dengan melahirkan pemimpin sesuai pilihan rakyat.

“ Saya berharap, kita semua memiliki komitmen dalam mengawal demokrasi ini, seluruh pemangku jabatan atau pihak-pihak yang berkompeten, bisa menjalankan fungsinya dengan baik, sehingga pesta demokrasi bisa berjalan dengan baik pula, dan menghasilkan pemimpin yang terbaik sesuai pilihan rakyat,” ujarnya.

Hj. Rizayati mengungkapkan, dalam setiap perhelatan demokrasi, bahwa potensi konflik itu bisa saja terjadi, namun potensi konflik tersebut harus diminimalisir, sehingga pilpres dan pileg bisa berlangsung damai, lancar dan berkualitas.

“ Pilpres sejatinya ajang demokrasi yang mesti dilaksanakan secara aman dan damai. Oleh sebab itu, diperlukan kebijakan dan operasionalisasi secara optimal dalam menciptakan stabilitas nasional dan daerah. Hal terpenting yang harus dilakukan untuk meminimalisir konflik, harus dilakukan sejumlah langkah, diantaranya mengintensifkan edukasi publik dalam menyikapi proses dan hasil Pilpres nantinya. Kemudian, membuat prosedur antisipasi sedini mungkin, terhadap kemungkinan adanya potensi gangguan dalam setiap tahapan Pilpres,” beber penggagas program Indonesia Terang ini.

Lanjut dia, ke depan, Partai Indonesia Terang akan mendidik kader-kader di seluruh Indonesia, untuk mengedukasi publik bagaimana berpolitik yang baik, santun dan cerdas.

Demokrasi, kata Hj. Rizayati, bukan berarti bebas sebebasnya untuk bicara dan mengeluarkan pendapat sehingga dapat mengusik dan berdampak memecah tatanan hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia yang sejak diproklamirkan kemerdekaan hingga hari ini.

Pengusaha sukses asal Bireuen, Aceh ini berpandangan, Indonesia sebagai negara yang menganut Pancasila Bhineka tunggal Ika dan UUD 1945 yang dilahirkan dari berbagai agama,suku dan kebudayaan tiada satu kelompok atau tokoh apapun yang dapat melakukan hal hal yang dapat membelah bangsa ini.

“ Bicara demokrasi, kita harus mampu memaknainya secara luas. Demokrasi itu tidak sebatas pada tataran politik saja, namun beragam hal termasuk aturan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Dalam kehidupan demokrasi, termasuk bagaimana memperkokoh konstruksi moral, karena menyangkut pertanggung jawaban,” kata Hj. Rizayati.

“ Perbedaan dan ketidak sepahaman dalam berbangsa dan bernegara dimanapun negaranya ada aturan hukum berdasarkan konstitusi di negaranya, kritik dan koreksi terhadap negara dan pemerintah itu hal yang lumrah dan biasa di negara yang menganut demokrasi, tetapi menjadi tidak wajar bila hal tersebut dilakukan dengan nyinyir yang berlebihan, apa lagi hingga merusak tatanan dalam berbangsa dan bernegara. Marilah kita mengeluarkan kritik dengan santun dan bermartabat, sehingga tidak menimbulkan kegaduhan-kegaduhan,” paparnya.

[jgd/red]

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *