Berita  

Semakin Memanas, Iran Ancam Serang Infrastruktur Minyak AS

Suara ledakan terdengar dan asap mengepul di langit Teheran pada Sabtu (28/2) waktu setempat (AFP/ATTA KENARE)

KINERJAEKSELEN.co, Jakarta – Konflik perang Amerika Serikat dan Iran semakin memanas. Presiden Donald Trump mengatakan pasukan tentara Washington telah membombardir Pulau Khang, yang menangani hampir seluruh ekspor minyak mentah Teheran.

Tak tinggal diam, tingakan Trump dibalas Iran yang mengancam akan  menyerang infrastruktur minyak milik Amerika Serikat.

Seperti dilansir dari AFP Sabtu [14/3/2026], Markas Besar Pusat Al-Anbiya pada militer Iran mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa infrastruktur minyak dan energi milik perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan AS akan “segera dihancurkan dan diubah menjadi timbunan abu” jika fasilitas energi Iran diserang.

Pernyataan itu, yang dilaporkan oleh kantor berita Fars dan Tasnim, merupakan “respons terhadap pernyataan” yang disampaikan Trump sebelumnya, soal serangan AS telah “menghancurkan” target-target militer di Pulau Kharg.

“Komando Pusat Amerika Serikat telah melancarkan salah satu serangan pengeboman paling dahsyat dalam sejarah Timur Tengah, dan benar-benar menghancurkan setiap target MILITER di permata mahkota Iran, Pulau Kharg,” klaim Trump dalam pernyataan via Truth Social pada Jumat (13/3).

“Saya telah memilih untuk TIDAK menghancurkan infrastruktur minyak di pulau itu. Namun, jika Iran atau siapa pun melakukan sesuatu untuk mengganggu jalur pelayaran yang bebas dan aman melalui Selat Hormuz, saya akan segera mempertimbangkannya kembali,” cetusnya.

Selat Hormuz ditutup sejak AS dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Teheran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, yang membuat konflik semakin meluas.

Sementara Pulau Kharg yang terletak sekitar 30 kilometer dari daratan utama Iran, menurut JP Morgan baru-baru ini, menangani sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran.

Perang yang berkecamuk di Timur Tengah telah memicu kekacauan di pasar global dan menyebabkan harga minyak melonjak.

Serangan-serangan pembalasan Iran hampir menghentikan lalu lintas maritim di Selat Hormuz, dan juga berdampak pada infrastruktur minyak di negara-negara Teluk lainnya, yang membuat para investor dan pemerintah berbagai negara khawatir tentang risiko berkurangnya pasokan energi dan inflasi yang lebih tinggi.

Sumber: detiknews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *