Catatan Risdiana Wiryatni *)
Tidak terasa kita kembali akan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang tahun ini merupakan tahun yang ke-78, ini berarti kita sudah menikmati kemerdekaan selama 78 tahun.
Kemerdekaan yang kita nikmati sekarang ini tentunya bukanlah didapatkan dengan mudah, tetapi melalui perjuangan yang panjang dengan pengorbanan jiwa dan raga dari para pejuang kita yang tentunya diridhai oleh Alah SWT.
Hanya satu kata yang keluar dari mulut para pejuang kita dalam melawan para penjajah yaitu merdeka atau mati, dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah. Pejuang kita banyak yang gugur baik pada saat memperjuangkan kemerdekaan maupun dalam mempertahankan kemerdekaan.
Kita harus menyadari bahwa kemerdekaan bangsa ini memang mahal dan bahkan terlalu mahal, karena lahir dari tetesan air keringat, linangan air mata dan ceceran darah para pahlawan. Untuk itu, maka tugas kita sebagai generasi pelanjut menjaga kemerdekaan ini dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mengisi kemerdekaan dengan kerja yang positif demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan.
Kita menyadari bahwa di era demokrasi ini banyak sekali persoalan yang melanda negeri ini, namun kita tidak boleh pesimis dan kehilangan semanagat, kita harus selalu optimis dan mencontoh perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang, semangat nasionalisme harus tetap dibangun dalam menghadapi semua tantangan yang akan kita hadapi kedepan.
Oleh karena itu dalam memperingati Hari Kemerdekaan RI yang ke-78 ini, kita jangan hanya melihat dari aspek serimonialnya saja, seperti melakukan berbagai kegiatan lomba-lomba yang dilakukan oleh masyarakat atau dengan mengikuti Upacara bendera yang kita peringati setiap tanggal tujuh belas dengan penuh kegembiraan, tetapi juga perlunya kita memaknai dan menghayati bagaimana kemerdekaan itu dapat diperoleh dengan susah payah dengan pengorbanan jiwa dan raga sehingga kita dapat memiliki rasa empati dan dapat menghargai pengorbanan yang dilakukan oleh pendahulu kita.
Tentunya hal ini dapat kita lakukan dengan mengisi kemerdekaan ini dengan kerja dan prestasi untuk membangun negara Republik Indonesia, termasuk menanamkan rasa nasionalisme setiap warga negara sebagai landasan dalam menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai.
Dalam memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-78 ini, marilah kita jadikan moment ini sebagai introspeksi diri terhadap apa yang telah kita lakukan untuk bangsa ini, bukan memperdebatkan dan meributkan hal-hal yang tidak penting.
Mari kita hilangkan sifat merasa paling pintar dan mau menang sendiri, sifat egois, baik individu maupun kelompok. Hari kemerdekaan tahun ini yang mengangkat tema “Bekerja Bersama” memiliki makna yang sangat mendalam, yaitu ajakan kepada segenap masyarakat Indonesia untuk merangkul dan mengedepankan asas kebersamaan.
Walaupun Indonesia telah merdeka sejak 78 tahun yang lalu dan sudah menjadi Negara berdaulat, lepas dari penjajahan, namun sebagai sebuah bangsa, pada prinspnya Indonesia masih dalam proses menuju cita-cita kemerdekaan. Cita-cita kemerdekaan itu tidak lain adalah mewujudkan bangsa Indonesia yang maju, mandiri dan sejahtera dalam keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sebagai bangsa Indonesia, kita sebenarnya terikat oleh bangunan system kenegaraan dan kebangsaan yang digali dari akar budaya dan social yang dimiliki bangsa Indonesia sejak berabat-abat yang lalu. Hal itu menjadi pondasi yang kokoh untuk berdirinya bangsa ini.
Pondasi kenegaraan dan kebangsaan tersebut dirumuskan dalam tekat persatuan oleh para pendiri bangsa, yang terlahir karena adanya rasa senasib dan sepenanggungan akibat penjajahan. Tekat persatuan inilah yang kemudian dinyatakan dalam politik kebangsaan. Sebagaimana yang dituangkan dalam proklamasi 17 Agustus 1945, yakni Republik Indonesia yang berdaulat dalam bingkai NKRI, yang diimplementasikan melalui landasar falsafah, ideology bangsa, dan dasar Negara sebagai landasan idiil, yakni Pancasila dan landasan institusional yaitu UUD 1945.
Dengan modal kemerdekaan itu bangsa ini dapat mengisi pembangunan dengan berbagai muatan nilai-nilai dan isi pembangunan untuk kemakmuran kesejahteraan Bangsa Indonesia. Untuk menuju ke arah itu sudah 78 tahun hingga hari ini kita bangsa Indonesia sudah berupaya sekuat tenaga dengan cara bersama-sama melakukan pembangunan tersebut.
Tentu sudah banyak hasil-hasil pembangunan yang dapat kita capai. Mulai dari pembangunan fisik materil sampai kepada pembangunan mental spirtuil sudah kita dilakukan. Artinya kita sudah membangun jiwa dan raga bangsa ini untuk mengisi kemerdekaan yang kita raih. Dan bahkan dalam lirik lagu Kebangsaan Indonesia Raya sudah kita ulang-ulang bahwa “ bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”.
Jiwa dan Raga , fisik dan mental adalah isi penting pembangunan. Kedua-duanya sangat penting, namun jika kita maknai dengan jujur, bahwa kehidupan berbangsa dapat tumbuh apabila memiliki jiwa , spirit serta kekuatan mental yang utuh.
Dengan kata lain bahwa pembanguan bangsa harus bermuara dari kuatnya pembangunan mental spiritual atau jiwa yang akan menjadi spirit pembangunan yang lain. Maka untuk memperkuat semangat kemerdekaan dalam usaha pembangunan terlebih dahulu secara mental spiritual atau jiwa bangsa ini harus tumbuh.
Dari sisi mental atau jiwa bangsa Indonesia, perlu diperkuat dan disempurnakan bangunannya, agar pembangunan Fisik materil lainnya dapat terlaksana dengan baik. Oleh sebab itu diantara pembangunan jiwa bangsa yang harus kita perkokoh adalah etika berbangsa dan bernegara.
Bangunan ini harus tumbuh dan kokoh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sebab kalau tidak, maka pembangunan apapun yang dilakukan dalam mengisi kemerdekaan , maka pembangunan itu akan rapuh dan kehilangan makna. Inilah salah satu arti penting dan makna kemerdekaan yang perlu kita teguhkan kembali demi bangkitnya Ibu Pertiwi.
*) Owner Kinerja Ekselen, Strategi Group *)












