Catatan Risdiana Wiryatni *)
Kesuksesan seseorang dalam berusaha baru akan terwujud jika dilalui dengan kerja keras, ketekukan dan kesabaran disertai dengan doa yang tidak pernah terputus, akan menghasilakn keberkahan, kesuksesan yang bermartabat dan bisa bermanfaat.
Dalam pandangan Islam, bekerja tidak hanya sekedar sebagai pendorong manusia untuk mempertahankan eksistensinya dalam kehidupan, namun merupakan asas segala sesuatu. Bekerja merupakan fondasi dasar untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Untuk itu, al-Quran senantiasa mengiringi lafal ‘amal dengan lafal iman. Bekerja merupakan asas kehidupan Islam, Islam sangat mendorong setiap muslim untuk bekerja secara sungguh-sungguh dengan etos kerja tinggi, bekerja secara optimal dengan menghilangkan segala hambatan dan tantangan (al-Mishri, 2006: 6).
Kerja keras merupakan modal dasar untuk keberhasilan seseorang. Rasulullah sangat marah melihat orang pemalas dan suka berpangku tangan. Bahkan, beliau secara simbolik memberi hadiah kampak dan tali kepada seorang lelaki agar mau bekerja keras mencari kayu dan menjualnya ke pasar, dan akhirnya dengan kegigihannya mengantarkan laki laki tersebut menjadi sukses.
Teladan etos kerja Nabi Muhammad mengajarkan kepada umatnya untuk tidak malas dan berpangku tangan.
Islam menempatkan bekerja sebagai ibadah untuk mencari rezeki dari Allah guna menutupi kebutuhan hidupnya. Bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halalan thayiban termasuk kedalam jihad di jalan Allah yang nilainya sejajar dengan melaksanakan rukun Islam.
Dengan demikian bekerja adalah ibadah dan menjadi kebutuhan setiap umat manusia. Bekerja yang baik adalah wajib sifatnya dalam Islam. Rasulullah, para nabi dan para sahabat adalah para profesional yang memiliki keahlian dan pekerja keras.
Mereka selalu menganjurkan dan menteladani orang lain untuk mengerjakan hal yang sama. Profesi nabi Idris adalah tukang jahit dan nabi Daud adalah tukang besi pembuat senjata.
Jika kita ingin mencontoh mereka maka yakinkan diri kita juga telah mempunyai profesi dan semangat bekerja keras. Profesi yang dikembangkan di lingkungan kita seperti profesi dosen, penulis, jurnalis, profesi ahli hukum, profesi laboran, profesi administratur, profesi supir, dan lainnya merupakan profesi yang harus kita kerjakan untuk kemaslahatan masyakat banyak.
Satu langkah setelah meyakini memiliki profesi maka wajib hukumnya kita untuk bekerja keras. InsyaAllah kita akan dilimpahkan rezeki yang halal sekaligus pahala atas ibadah pekerjaan yang kita lakukan.
Melengkapi bekerja keras dan profesional adalah praktek bersikap dan berperilaku mencontoh Rasulullah yaitu bersifat siddiq, fathonah, amanah dan tabligh agar kita diberikan keselamatan dunia dan akhirat. Sifat siddiq adalah dapat dipercaya dan jujur. Sifat fathonah adalah harus pintar. Sifat amanah adalah melaksanakan tugas yang dibebankan dan tabligh adalah mampu melakukan komunikasi yang baik. Wujud dari kita bekerja selain mendapat rezeki halal adalah pengakuan dari lingkungan atas prestasi kerja kita.
“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil dan siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarga maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza Wajalla (H.R. Ahmad).
Allah juga telah menjanjikan kita mempunyai peluang memperoleh rezeki yang luas asalkan bekerja profesional dan cerdas melalui etos kerja yang tinggi.
Bekerja dalam perspektif Islam adalah bagian dari ibadah, dan tentu saja berpahala. Tetapi, mengapa hingga kini masih banyak orang Islam yang menikmati kemalasan? Bahkan, dengan tanpa rasa malu selalu menengadahkan tangan, berdoa kepada Allah untuk berkenan memberikan rezeki pada dirinya tanpa upaya yang memadai.
Padahal Allah swt. telah berfirman: “Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. at-Taubah [9]: 105).
Rasulullah SAW telah memberikan contoh, bagaimana cara membangun etos kerja Islami bagi umatnya, dengan sabda, sikap, dan perilakunya, serta membuktikan keberhasilannya. Maka, saatnya kita mencontoh (ber-ittiba’) etos kerja Islami yang telah terbangun pada diri dan para sahabat beliau, dengan memahami konsep yang telah mereka tawarkan dalam konteks ruang, waktu, dan tantangan yang berbeda. Fastabiqu al-Khairat, wa Ibda’ bi Nafsik!
Semoga catatan ringan ini bisa menginspirasi kita semua. Aamin
*) Owner Kinerja Group












