Akhlak dan Kebahagiaan

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh : Syahril Syam *)

Benarkah akhlak baik bisa membuat kita bahagia? Dan benarkah ada relasi kemestian akhlak baik pada manusia?

Akhlak diartikan sebagai karakter, yang bermakna kepemilikan jiwa (diri) atas sifat-sifat tertentu (baik atau buruk), yang (dari kepemilikan sifat ini) memunculkan perbuatan secara otomatis (kebiasaan). Maka akhlak mengupas tentang baik dan buruk dalam relevansinya dengan “harus” dan “tidak boleh”. Artinya jika itu baik maka harus dilakukan, dan jika itu buruk maka tidak boleh dilakukan.

Dalam filsafat Islam, yang dimaksud benar adalah ketika berita sesuai dengan realitas objektif. Misalkan pada proposisi: Logam memuai pada suhu panas. Proposisi ini menjelaskan sebuah realitas objektif, bahwa terdapat relasi nyata antara suhu panas dengan memuainya logam. Dan relasi ini tidak bercampur samasekali dengan adanya perintah, selera pribadi, maupun kesepakatan bersama. Begitu pula akhlak, karena di dalamnya berisi tentang “baik” dan “buruk”, “harus” dan “tidak boleh”, sebuah keharusan mestilah tidak disandarkan pada perintah, selera pribadi, dan kesepakatan bersama. Karena jika sebuah keharusan berperilaku bersandar pada ketiga hal itu, kita tidak dapat memastikan apakah akhlak yang dimaksud bernilai benar ataukah tidak.

Bisa saja sebuah keharusan dan ketidakbolehan dalam akhlak berseberangan antara perintah yang satu dengan yang lainnya. Hal yang sama juga bisa terjadi jika disandarkan pada selera pribadi dan kesepakatan bersama. Maka akhlak pada konteks ini pastilah bernilai salah karena tidak sesuai dengan realitas objektif.

Karena manusia dengan segenap kehendak bebasnya adalah realitas objektif, maka mesti ada relasi antara berbagai keharusan-keharusan di dalam akhlak dengan tujuan kemanusiaan kita. Dengan kata lain, karena setiap manusia selalu menginginkan kesempurnaan dan secara kenyataan senantiasa bergerak menuju kesempurnaan, maka setiap hal yang “harus dilakukan” ataupun yang “tidak boleh dilakukan” mesti terjalin relasi sebab akibat. Sehingga setiap pernyataan-pernyataan akhlak terkait yang “harus dilakukan” dan yang “tidak boleh dilakukan” akan bernilai baik jika berelasi dengan terwujudnya kesempurnaan kita sebagai manusia dan tercapainya tujuan hidup kita.

Jadi ketika kita berkata: “Tindakanku yang kemarin tidak dapat dibenarkan”, “Alangkah baiknya jika saya berterus terang walau harus menanggung cemoohan”, “Ia seorang dermawan”, “Ia suka iri hati”, maka semua pernyataan-pernyataan akhlak ini mestilah memiliki relasi dengan terwujudnya kesempurnaan kita sebagai manusia dan tercapainya tujuan hidup kita. Karena bertolak dari rangkaian pernyataan inilah, kita memilih teman, menentukan prinsip hidup, memahami cara menata tingkah laku, dan dengan kelompok sosial, politik, atau agama mana kita menjalin kerjasama. Pada hakikatnya, pernyataan-pernyataan seperti itu menunjukkan bagaimana “seharusnya” kita berperilaku.

Pada akhirnya yang tersisa untuk dibahas adalah seperti bagaimana bentuk kesempurnaan manusia itu? Karena dengan inilah setiap pernyataan akhlak akan berkorelasi. Jangan sampai setiap yang “seharusnya” dilakukan tercampuri oleh karena adanya instruksi (perintah), selera pribadi, atau kesepakatan bersama; dimana semua itu belum terjamin relasinya dengan terwujudnya kesempurnaan kita sebagai manusia dan tercapainya tujuan hidup kita

Dalam neurosains, manusia yang stres dan depresi adalah manusia yang perilaku dan kebiasaannya dikontrol oleh keadaan candu emosionalnya. Definisi kecanduan adalah sesuatu yang tidak bisa kita hentikan. Seperti halnya pecandu narkoba, secara sadar ia ingin berhenti, tapi tubuhnya sulit ia kendalikan karena tubuhnya sudah kecanduan akan zat adiktif. Manusia yang kecanduan emosional adalah manusia yang digerakkan secara otomatis oleh berbagai emosi-emosi destruktif dan negatif.

Perilaku dan kebiasaannya dikontrol oleh berbagai emosi destruktif dan negatif. Ia menjadi manusia yang tidak merdeka, dan pada hakikatnya ia tidak bergerak menuju kesempurnaan hakiki dan tidak bergerak menuju kebahagiaan yang diinginkannya. Dalam bahasa agama, ia dikontrol dan terpenjara oleh hawa nafsunya.

Beruntunglah karena sebagai manusia, kita juga dikaruniai alat kontrol diri. Bagian otak yang berada tepat di belakang dahi, disebut prefrontal korteks, adalah otak yang bertugas mengontrol segala candu emosional. Saat kita secara sadar menyadari keadaan diri, maka saat itu pula kita mengaktifkan prefrontal korteks. Saat kita merenungi diri sendiri, maka prefrontal korteks akan bekerja untuk mengontrol berbagai dorongan hawa nafsu. Keadaan ini akan membuat kita tetap tersadar dan tidak dipenjara oleh hawa nafsu.

Karena diri (jiwa) kita adalah non materi, maka kesempurnaannya pun adalah perjalanan menuju Sang Maha Sempurna. Inilah tujuan kesempurnaan dan sekaligus kebahagiaan sejati kita. Maka pengontrolan yang dilakukan oleh prefrontal korteks terhadap berbagai dorongan emosional adalah demi tujuan ini. Di sinilah terjalin erat relasi antara akhlak dengan terwujudnya kesempurnaan diri dan tercapainya kebahagiaan sejati, dimana akhlak menjadi panduan kontrol bagi prefrontal korteks dalam mengontrol berbagai dorongan hawa nafsu.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *