Oleh: Syahril Syam *)
Secara umum, “psikis” merujuk pada segala hal yang terkait dengan pikiran, perasaan, dan kejiwaan seseorang. Istilah ini sering digunakan dalam konteks psikologi untuk menggambarkan aspek-aspek mental pada diri kita. Dan dalam konteks kesehatan mental, istilah “psikis” dapat mengacu pada kondisi atau gangguan mental. Namun psikis juga dapat merujuk pada kekuatan batiniah atau kemampuan mental diri kita, seperti daya tahan terhadap stres, kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan, atau kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi. Yang akan kita kupas pada Cemilan Otak kali ini adalah kemampuan psikis kita sebagai sebab bagi kesuksesan. Atau dengan kata lain, apakah ada korelasi antara apa yang hati kita rasakan dengan kesuksesan yang ingin diraih?
Salah satu sifat yang keluar dari hati kita adalah berbaik sangka, dimana lawannya adalah berprasangka buruk. Berbaik sangka adalah sikap mental atau kecenderungan untuk melihat orang lain atau situasi dengan keyakinan yang positif dan optimis. Ini termasuk memberi asumsi terbaik kepada orang lain, bahkan ketika situasi atau perilaku mereka dapat ditafsirkan secara negatif.
Saat kita memiliki sikap berbaik sangka, hati kita cenderung untuk tidak mengasumsikan yang terburuk dari orang lain atau situasi. Kita percaya bahwa orang lain bertindak dengan niat yang baik atau paling tidak, tidak bermaksud buruk, bahkan jika tindakan atau kata-kata mereka tidak jelas atau bisa diartikan dalam berbagai cara. Kita juga merasa bahwa hal-hal baik selalu terjadi pada diri kita.
Penelitian menunjukkan bahwa saat kita berbaik sangka terhadap masa depan kita, maka kita cenderung akan menemui berbagai hal yang bermanfaat dan menguntungkan. Kita merasa bahwa kita akan lebih banyak mendapatkan peristiwa yang menyenangkan, merasa bahwa impian kita dapat kita raih, dan merasa akan mengalami hal-hal yang positif di masa yang akan datang.
Dengan kata lain, kita merasa memiliki harapan positif saat membayangkan masa depan kita sendiri. Dan penelitian ini menunjukkan bahwa saat kita benar-benar berbaik sangka akan masa depan kita, maka sebagian besar yang kita harapkan benar-benar terjadi.
Sedangkan orang-orang yang suka berprasangka buruk terhadap masa depannya sendiri, cenderung mengalami berbagai kesialan dalam hidup mereka. Ketika berbicara tentang kemungkinan negatif yang akan terjadi di masa depan – seperti tidak lagi awet muda, bakal menderita penyakit menahun, bakal sering stres, sulit mendapatkan jodoh, kesulitan ekonomi, dan berbagai prasangka buruk akan masa depan – maka seringkali prasangkaan buruk mereka juga menjadi kenyataan.
Sepertinya alam semesta bekerja berdasarkan apa yang kita harapkan terjadi pada diri kita sendiri. Entah itu berupa berbaik sangka (mengharapkan hal baik) ataupun berprasangka buruk (mengharapkan hal buruk), maka akan selalu menjadi kenyataan di masa kini dan masa depan.
Wahai orang-orang yang beriman! Hindarilah (berbagai) kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa (QS 49:12), demikan nasehat sebuah ayat kepada kita. Bahwa berprasangka buruk tidaklah baik. Berprasangka buruk akan masa depan akan merugikan diri sendiri. Sang Maha Sempurna juga melarang kita untuk berburuk sangka kepada-Nya, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah (39:53). Jadi apa yang kita rasakan di hati kita – baik itu merasa ada harapan baik atau merasa pesimis – terkait masa depan, maka masa depan yang sesuai dengan apa yang benar-benar kita rasakan yang besar kemungkinannya terwujud.
@pakarpemberdayaandiri











