Berdoa dan Meredakan Stres

Foto ilustrasi Merdeka.com

Oleh: Syahril Syam *)

Doa adalah aktivitas yang melibatkan fokus pikiran, hati, dan jiwa. Dalam buku “How God Changes Your Brain”, Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman menjelaskan bagaimana doa tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga memberikan dampak nyata pada otak manusia.

Dengan pendekatan neurosains, mereka memaparkan bahwa doa dapat mengubah cara kerja otak, menciptakan ketenangan, dan meningkatkan kesejahteraan emosional. Ketika kita berdoa, otak menunjukkan perubahan di berbagai area. Amigdala, bagian otak yang bertanggung jawab atas respons stres dan rasa takut, menjadi kurang aktif selama kita berdoa. Hal ini membuat kita merasa lebih rileks, damai, dan mampu menghadapi situasi sulit dengan lebih tenang.

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Doa yang membutuhkan konsentrasi, seperti doa kontemplatif atau doa pengulangan (berzikir), meningkatkan aktivitas di korteks prefrontal. Ini adalah bagian otak yang membantu kita berpikir logis, membuat keputusan, dan mengelola emosi, sehingga membuat otak lebih mampu mengatur emosi, berpikir jernih, dan menghadapi tantangan dengan lebih bijaksana. Selain itu, saat doa mendalam dilakukan, aktivitas di lobus parietal – bagian otak yang mengatur persepsi tentang “diri” – berkurang. Efek ini menciptakan rasa bahwa kita “melebur” dengan sesuatu yang lebih besar, baik itu Tuhan, alam semesta, atau komunitas. Hal ini sering dirasakan sebagai pengalaman spiritual.

Begitu juga ketika doa dilakukan dengan perasaan syukur atau kasih sayang, maka mengaktifkan sistem limbik, yang memengaruhi emosi dan motivasi. Ini juga meningkatkan pelepasan hormon seperti dopamin dan serotonin, yang memberikan rasa bahagia dan optimisme. Dan kadar kortisol, hormon yang dilepaskan tubuh saat stres, menurun saat kita berdoa.

Penurunan ini membantu tubuh dan pikiran tetap sehat, mengurangi risiko tekanan darah tinggi, depresi, dan gangguan kecemasan. Dan saat kita berdoa yang berfokus pada kasih sayang atau mendoakan orang lain, maka akan meningkatkan pelepasan oksitosin, hormon yang menciptakan rasa koneksi dan kepercayaan. Hal ini memperkuat hubungan dengan orang lain dan meningkatkan perasaan damai dalam diri.

Andrew Newberg menunjukkan bahwa doa bukan hanya ritual religius, tetapi juga latihan mental yang memiliki dampak nyata pada otak. Efeknya adalah mengurangi stres dan kecemasan, memperkuat emosi positif seperti rasa syukur dan cinta, dan membantu otak menjadi lebih tangguh dalam menghadapi masalah. Efek doa pada otak menunjukkan bahwa aktivitas ini tidak hanya berdampak secara spiritual, tetapi juga secara biologis. Melakukan doa secara rutin, baik untuk bersyukur, meminta bantuan, atau merenung, dapat membantu kita menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan positif. Doa tidak hanya mengubah hubungan kita dengan Tuhan atau spiritualitas, tetapi juga memperkuat otak untuk menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik.

Doa adalah cara kita berkomunikasi dengan Tuhan atau mendekatkan diri pada sesuatu yang lebih besar dari diri kita. Dalam buku “How God Changes Your Brain”, Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman menjelaskan bahwa ada berbagai jenis doa, dan setiap jenisnya memiliki manfaat yang unik untuk kesehatan mental, emosional, dan spiritual kita. Misalnya, doa bersyukur, dimana kita mengungkapkan rasa terima kasih atas apa yang sudah kita miliki, seperti keluarga, kesehatan, atau rezeki.

Doa ini membantu kita merasa lebih bahagia dan puas dengan hidup. Ada juga doa permohonan, dimana kita meminta bantuan atau petunjuk untuk menghadapi masalah, yang membuat kita merasa tidak sendirian karena kita tahu ada kekuatan yang membantu. Doa kontemplatif atau keheningan, di sisi lain, lebih tentang duduk tenang, merasakan kehadiran Tuhan, dan merenungkan hal-hal baik dalam hidup, yang membuat hati kita merasa damai. Selain itu, ada doa pengulangan, yang melibatkan mengulang kata-kata seperti “Tuhan Maha Pengasih,” yang membantu kita fokus dan menenangkan pikiran.

Doa kasih sayang juga sangat berarti, karena dalam doa ini, kita mendoakan kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain, yang pada gilirannya mempererat hubungan kita dengan mereka. Doa reflektif digunakan untuk merenungkan hidup dan keputusan yang sudah kita ambil, sehingga kita bisa lebih memahami diri sendiri dan membuat pilihan yang lebih baik ke depan. Setiap jenis doa ini memberi dampak positif pada pikiran dan hati kita, membantu kita merasa lebih damai, lebih bahagia, dan lebih terhubung dengan dunia sekitar.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *