Oleh: Syahril Syam *)
Martin Pistorius lahir pada tahun 1975 di Johannesburg, Afrika Selatan. Pada usia 12 tahun, ia jatuh sakit secara misterius. Gejalanya termasuk kehilangan kemampuan berbicara dan bergerak, serta kemunduran yang cepat dalam kemampuan fisiknya. Dokter akhirnya mendiagnosisnya dengan kondisi yang tidak dapat dijelaskan secara medis, yang menyerupai sindrom yang disebut encephalitis meningoencephalitis. Selama bertahun-tahun, Martin menjadi terkunci dalam tubuhnya sendiri, tidak dapat bergerak, berkomunikasi, atau mengungkapkan apa pun kepada dunia di sekitarnya.
Saking tidak teganya dengan kondisi Martin, ibunya sampai berkata, “Saya harap kamu mati.” Tentu saja ini bukan ungkapan kebencian, melainkan perasaan sayang yang sungguh tidak tega melihat putranya seperti itu. Namun demikian, orang tua Martin merawatnya setiap hari. Ayahnya bahkan bangun setiap dua jam pada malam hari untuk mengubah posisi Martin agar ia tidak terkena tukak. Walau keluarganya tetap mencintai dan merawatnya, dokter tetap mengatakan bahwa Martin tidak akan bisa pulih.
Seiring berjalannya waktu, kondisi Martin semakin memburuk. Ia kehilangan kemampuan untuk berbicara dan bergerak secara mandiri. Meskipun begitu, secara kognitif, ia tetap sadar dan terjaga. Martin sendiri menggambarkan pengalaman tersebut seperti terperangkap dalam tubuh yang tidak berdaya dan tidak dapat berkomunikasi dengan dunia di sekitarnya. Otaknya tidak mati dan masih mengenali dunia di sekitarnya, hanya saja ia terpenjara oleh tubuhnya sendiri sehingga tidak bisa bergerak dan berkomunukasi.
Bisa dibayangkan betapa kalutnya pikiran dan perasaan Martin. Berbagai pikiran destruktif terus-menerus menghantuinya. Merasa tidak berdaya, merasa dilecehkan, merasa sendiri, dan merasa tidak punya harapan adalah bentuk-bentuk pikiran dan perasaan Martin selama berada dalam kondisi “mayat hidup”. Berada dalam kondisi seperti itu dalam waktu yang lama, akhirnya suatu ketika Martin sadar bahwa ia masih memiliki kesadaran, sehingga mulai mengeksplorasi kesadaran dirinya sendiri secara autodidak.
Ia mulai melepaskan diri dari pikiran-pikiran dan perasaan yang selama ini menghantuinya. Ia menemukan kesadaran dirinya untuk hanya hidup pada saat ini. Ia melepaskan diri dari berbagai pikiran dan perasaan yang membawanya pada kesedihan masa lalu ataupun pada kecemasan akan masa depan. Yang ada hanyalah momen saat ini. Karena ia tidak bisa terhubung ke dunia eksternal (di luar dirinya), maka ia pun mulai menciptakan realita di dalam dunia internalnya. Ia menciptakan kenyataan internal akan segala hal indah yang bisa terjadi, tidak terikat oleh hukum fisika dan dunia eksternal. Bahkan tidak terikat oleh tubuhnya yang bagai susunan daging kaku. Ia juga menciptakan kenyataan internal akan hal-hal yang diinginkannya dari kehidupan.
Tanpa disadarinya, apa yang dilakukannya pada dunia internalnya, ternyata berefek pada tubuhnya yang selama ini terbujur kaku. Di pertengahan usia dua puluh, perlahan-lahan ia mendapatkan kembali sejumlah kendali atas tubuhnya. Ia mulai bisa menggenggam benda-benda dengan tangannya. Seorang terapis logopedi, Virna van der Walt, yang bekerja dengan Martin mulai mencurigai bahwa ia mungkin memiliki kemampuan untuk berkomunikasi. Ia memperkenalkan teknologi komunikasi yang baru kepada Martin, yaitu sebuah komputer dengan sistem untuk berkomunikasi yang dikendalikan dengan gerakan mata.
Akhirnya segalanya berubah dengan cepat. Walau masih berada di kursi roda dan mesti berbicara dengan bantuan komputer, namun ia telah memiliki seorang istri, meraih gelar sarjananya, dan memiliki bisnis sendiri. Pada dasarnya tubuh hanyalah alat bagi jiwa kita untuk beraktivitas di dunia yang bersifat material. Dan karenanya, jiwa (diri) memiliki kekuatan untuk mengubah tubuh hingga pada taraf maksimal melalui kesadaran diri untuk berada di momen saat ini dan menciptakan realitas internal yang diperkuat dengan perasaan bahwa realitas internal itu telah benar-benar terjadi.
@pakarpemberdayaandiri











