Oleh: Syahril Syam *)
Kegelisahan intens biasa ditandai dengan kekhawatiran dan rasa takut yang intens. Napas tersengal-sengal, sulit mengatur napas hingga seolah tak bisa bernapas, fokus menyempit, semuanya terasa buram, merasakan sensasi geli hingga hampir mati rasa, berkeringat, jantung berdenyut kencang, pikiran melaju kencang, dan seolah ingin meninggalkan tempat. Bayangkan jika semua sensasi itu yang dirasakan orang dengan serangan panik, tiba-tiba muncul dan terjadi begitu saja. Inilah yang biasa disebut kegelisahan intens atau kecemasan.
Serangan panik hanyalah satu bentuk yang sangat intens, dan bukan universal dari kegelisahan. Sekitar 30 persen manusia mengalami kegelisahan seperti ini. Bahkan tanpa kita sadari, ada kemungkinan orang-orang di sekitar kita mengalami kegelisahan intens ini, dan mereka seolah tampak normal. Pada dasarnya, setiap orang takut akan sesuatu. Hewan pun juga mengalami kegelisahan. Hanya saja hewan biasanya mengalami gelisah intens ketika berhadapan dengan pemangsanya. Bagian otak yang bernama amigdala yang merupakan pusat emosional otak akan mengidentifikasi sebuah ancaman dan memicu pelepasan adrenalin ke seluruh tubuh. Keadaan ini akan mempersiapkan tubuh untuk menghadapi ancaman dengan pertarungan atau melarikan diri.
Jantung berpacu cepat dan napas terasa memburu. Bagian paru-paru mengembang dan pembuluh darah tertentu membesar. Semua ini untuk memastikan oksigen mengalir ke otot yang perlu untuk kabur. Kegelisahan berkembang sebagai emosi yang membantu hewan untuk menyelematkan nyawanya dengan segera kabur dari pemangsanya. Berbeda dengan hewan, kegelisahan kita sebagai manusia bisa sangat beragam pemicunya. Mulai dari kemacetan, cicilan bank, kekhawatiran akan masa depan anak, dan begitu banyak masalah kehidupan yang dihadapi. Pada dasarnya, manusia cenderung dipenuhi rasa takut, kesulitan, dan kegelisahan. Dan yang terjadi pada tubuh ketika berada dalam kondisi ini adalah seperti pada hewan yang tiba-tiba tegang dan panik saat berhadapan dengan pemangsanya. Jika pada hewan, untuk melepaskan ketegangan dengan lari menghindar dan merasa lega saat sudah selamat dari bahaya. Sedangkan manusia tidak bisa melepaskan ketegangan dan kepanikan dengan lari dari kenyataan.
Akhirnya stres-lah yang muncul. Dan pada kebanyakan orang, ini rutin terjadi dalam sehari. Gairah seks menurun, mudah marah, mudah tersinggung, dan bagian otak berpikir sulit mengendalikan gejolak emosi sehingga bawaannya selalu baper. Dan tiba-tiba saja terjadi serangan panik. Ada juga yang mengalami kegelisahan dengan merasa yakin bahwa hal-hal buruk akan sering terjadi pada dirinya, merasa dihakimi dan dinilai jelek secara sosial, takut kehilangan kendali saat panik muncul tiba-tiba, atau terlalu banyak khawatir akan hal-hal yang belum terjadi dan biasanya mengalami OCD (Obsessive Compulsive Disorder).
Otak kita selalu suka melakukan asosiasi. Menghubungkan satu hal dengan hal lainnya. Sehingga ketika seseorang mengalami rasa takut dan khawatir akan sesuatu hal, maka ia cenderung mengaitkan peristiwa itu dengan sesuatu yang ada di sekitar kejadian tersebut. Bisa berupa orang lain, benda, kejadian yang mirip, atau waktu. Hal ini cenderung menjadi emosi destruktif yang bertumpuk hingga akhirnya menemukan momentum ledakan emosi di usia tertentu. Dan hampir semua dari kita mulai mengalami rasa takut dan khawatir sejak dalam kandungan, dengan ikut merasakan berbagai emosi takut dan khawatir dari orang tua, khususnya dari ibu yang mengandung. Dan kemudian terjadi lagi saat lahir ketika menyaksikan (tanpa disadari) ketakutan yang dialami orang-orang yang dekat dengan kita. Bahkan hingga berbagai sugesti yang sengaja untuk menakut-nakuti seorang anak saat sulit diatur. Belum lagi di zaman now, media sosial telah menjadi pemicu munculnya kegelisahan. Dimana remaja yang lebih sering melihat layar HP-nya dengan bermedia sosial, lebih besar kemungkinannya untuk mengalami kegelisahan atau kecemasan.
Intinya, ada begitu banyak hal di sekitar kita yang bisa menjadi pemicu munculnya rasa takut dan khawatir. Bahkan juga dari dalam pikiran kita sendiri. Maka bagaimana menjadi tenang dan hening adalah kebutuhan utama kita dalam menjalani kehidupan. Karena pikiran dan emosi bisa terikat pada sesuatu hal, maka penting bagi kita untuk menyadari agar belajar melepaskan keterikatan dengan apapun di dunia ini. Cara pandang kita pun mesti diubah dalam memancang kehidupan duniawi. Kita mesti belajar untuk tidak termotivasi hanya sekadar menginginkan sesuatu. Kita mesti belajar untuk termotivasi melakukan hal baik apapun karena memang ini adalah perintah-Nya. Dan menghindari hal buruk apapun karena memang larangan-Nya. Sehingga pikiran dan perasaan kita merasa bahwa semua ini kita lakukan karena semata-mata untuk mengharap Ridha-Nya, dan bukan semata-mata karena mengingkan sesuatu itu.
Kita mesti belajar keluar dari fokus pada menyenangkan diri ke fokus pada menyenangkan Sang Maha Sempurna. Karena ketika fokus pada menyenangkan diri akan membuat seseorang terdampar pada kegelisahan, mengingat ada begitu banyak hal yang tidak pasti. Sedangkan kegelisahan akibat ketidakpastian hanya bisa teratasi ketika kita sadar bahwa ini bukan lagi tentang diri kita. Akan tetapi ini tentang Sang Maha Sempurna. Ini tentang mengharap Restu-Nya. Bukankah tak ada satupun yang ada pada diri kita (bahkan nyawa kita) yang merupakan milik kita?
@pakarpemberdayaandiri











