Oleh: Syahril Syam *)
Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw berkata, “Iman adalah keyakinan yang benar yang berasal dari hati dan tanpa keraguan yang mungkin meragukan.” Di tempat lain beliau juga berkata, “Keyakinan adalah pembenaran, pembenaran adalah pengakuan, pengakuan adalah pelaksanaan, dan pelaksanaan adalah amal (tindakan).” Dengan melihat definisi keimanan di atas, maka jelas dapat disimpulkan bahwa keimanan berarti keyakinan. Dan keyakinan dalam neurosains adalah ketika suatu pengetahuan telah terikat secara emosional.
Itulah sebabnya setiap yang kita yakini akan selalu kita sebut sebagai “merasa”. “Saya merasa yakin”, “Saya merasa bisa”, “Saya merasa tak mampu”, adalah berbagai bentuk keyakinan yang sering diucapkan dan diungkapkan sebagai suatu perasaan. Dan karena emosi terletak di bawah sadar, maka semua keyakinan adalah penggerak bagi setiap tindakan, perilaku, dan kebiasaan kita. Maka wajar jika Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw berkata – seperti yang diungkap di atas – bahwa keyakinan akan berujung pada pelaksanaan (amal).
Saat kita merasa yakin memiliki kekuatan diri, maka kita akan terdorong untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan apa yang kita yakini tersebut. Artinya, setiap dari kita selalu memiliki keyakinan pada sesuatu, dimana sesuatu itu menjadi pegangan kita dalam bertindak. Bisa berupa kekuatan diri, kecerdasan diri, jabatan, uang, atau seseorang yang memiliki pengaruh. Dan biasanya semua pegangan itu adalah demi mencapai tujuan-tujuan yang kita harapkan. Semakin besar tingkat keyakinan kita pada sesuatu, maka semakin besar pula rasa percaya diri kita dalam melakukan sesuatu.
Namun jika dicermati, semua pegangan keyakinan itu, hanyalah demi tujuan-tujuan yang bersifat pemenuhan berbagai hasrat. Bahkan Sang Maha Sempurna pun dijadikan pegangan keyakinan demi pemenuhan berbagai hasrat. Sayangnya, tingkat keyakinan ini cenderung lemah dan rendah. Terbukti ketika sesuatu yang diharapkan tidak terjadi, hati justru menjadi galau. Selain itu, setiap keyakinan selalu menjadi tenaga penggerak bagi tindakan, perilaku, dan kebiasaan. Sehingga jika kita benar-benar meyakini adanya Sang Maha Sempurna dan meyakini setiap perintah dan larangan-Nya, maka keyakinan ini seharusnya menjadi tenaga pendorong bagi kita untuk meningkatkan kebiasaan ibadah agar semakin dekat kepada-Nya.
Tetapi karena tingkat keyakinannya masih rendah dan lemah, maka Sang Maha Sempurna hanya dijadikan tempat untuk berharap agar berbagai hasrat terpenuhi, namun keyakinan ini tidak melahirkan tenaga untuk rajin beribadah kepada-Nya. Itulah sebabnya, keyakinan yang kuat kepada Sang Maha Sempurna, meniscayakan kerelaan hati dalam menerima setiap kehendak dan ketetapan-Nya, juga meniscayakan ketaatan yang sempurna kepada-Nya. Dan jika tingkat keyakinan seperti ini yang kita pegang di hati kita, maka tak ada satupun hal di dunia ini yang akan membuat kita galau. Maka menjadi wajar jika Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw berkata dalam munajatnya: Yaa Allah, saat aku kehilangan harapan dan rencana, tolong ingatkan aku bahwa cinta-Mu jauh lebih besar daripada kekecewaanku, dan rencana yang Engkau siapkan untuk hidupku jauh lebih baik daripada impianku.
@pakarpemberdayaandiri











